Vale (INCO) Siap Ajukan Tambahan Kuota Produksi RKAB untuk Amankan Kebutuhan IGP HPAL



KONTAN.CO.ID - MOROWALI. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) siap mengajukan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) kepada pemerintah. Vale berupaya menambah kuota produksi bijih nikel demi mengamankan kebutuhan bahan baku untuk Indonesia Growth Project (IGP).

Saat ini, Vale bersama mitra strategisnya sedang menggarap IGP dengan membangun tiga fasilitas pengolahan nikel kadar rendah (limonit) menggunakan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL). Proyek ini meliputi IGP Sorowako Limonite di Sulawesi Selatan, IGP Pomalaa di Sulawesi Tenggara, serta IGP Morowali di Sulawesi Tengah. 

Chief Executive Officer & Presiden Direktur Vale Indonesia, Bernardus Irmanto mengungkapkan Vale bersama mitra strategisnya terus memacu pengerjaan IGP agar proyek HPAL ini bisa beroperasi sesuai jadwal.


Pria yang akrab disapa Anto ini menyampaikan bahwa rencananya, IGP akan beroperasi secara bertahap dengan penyelesaian konstruksi dan pengoperasian awal mulai tahun ini.

Dimulai dari IGP Pomalaa yang dijadwalkan bisa menyelesaikan konstruksi dan memulai produksi untuk line pertama pada Agustus 2026. Kemudian IGP Pomalaa secara bertahap akan beroperasi dengan kapasitas penuh.

Baca Juga: Melihat Derap Pembangunan HPAL dan Dermaga di Sambalagi

Sedangkan IGP Morowali dijadwalkan mulai beroperasi bertahap pada akhir 2026. Disusul oleh IGP Sorowako pada tahun depan. Oleh sebab itu, Vale memerlukan tambahan kuota produksi bijih nikel untuk mendukung pengoperasian fasilitas HPAL tersebut.

Anto mengungkapkan bahwa saat ini Vale sedang menyiapkan kelengkapan dokumen untuk mengajukan revisi RKAB. Adapun, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membuka pengajuan revisi RKAB untuk perusahaan tambang pada bulan Juli mendatang.

"Kami sedang menyiapkan semua kelengkapan teknis dan data-data. Tujuannya lebih terkait dengan proyek-proyek tadi, supaya kami bisa memasok (bijih nikel) seperti apa yang diperjanjikan. Jadi itu menjadi dasar kami ingin mengajukan revisi. Tentu kami mengikuti proses yang ada, sebisa mungkin menyiapkan dokumen dengan kualitas terbaik, sehingga (Ditjen Minerba) tidak kesulitan me-review revisi RKAB kami," kata Anto saat ditemui KONTAN di kantornya pada Rabu (17/6/2026).

Anto belum membeberkan berapa tambahan volume atau kuota produksi yang ingin diajukan oleh Vale melalui revisi RKAB. Anto menegaskan bahwa tujuan Vale bukan untuk memproduksi bijih nikel sebanyak-banyaknya. Sebab, Vale memahami salah satu tujuan pemerintah mengontrol kuota produksi nikel nasional adalah untuk menjaga keseimbangan antara supply - demand di pasar global.

"Jadi kalau kita lihat, pasar nikel sedang oversupply, menambah volume ke pasar sebetulnya justru menambah tekanan terhadap keseimbangan supply - demand. Jadi bukan masalah bagaimana (memproduksi) lebih besar. Jadi bukan hanya untuk menambah jumlah produksi, tapi PT Vale ingin mencoba menjawab kebutuhan sustainable nickel yang diinginkan oleh dunia," terang Anto.

Sebagai informasi, saat ini Vale Indonesia beroperasi di Sorowako, Bahodopi dan Pomalaa. Merujuk materi paparan Vale Indonesia dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI pada 13 April 2026 lalu, untuk operasional di Sorowako, Vale memproduksi sebanyak 72.027 ton nikel matte pada 2025.

Pada tahun ini, Vale mendapatkan persetujuan RKAB sebesar 67.645 ton untuk produksi nikel matte di Sorowako. Sementara untuk produksi bijih nikel, di Bahopodi, Vale merealisasikan produksi sebanyak 2,01 juta ton pada 2025.

Baca Juga: Jadi Pionir Hilirisasi Nikel Domestik, Vale Indonesia Ogah Ekspansi Masif dan Agresif

Vale siap meningkatkan produksi bijih nikel di Bahodopi hingga mencapai 8,83 juta ton, yang terdiri dari 5,08 juta ton bijih saprolit dan 3,75 juta ton bijih limonit. Namun, kuota dalam RKAB 2026 sementara ini hanya mendapat persetujuan sebanyak 2,31 juta ton.

Di Pomalaa, Vale memproduksi sebanyak 298.000 ton pada tahun 2025. Vale siap memproduksi hingga 18,06 juta ton, yang terdiri dari 7 juta ton bijih saprolit dan 11,06 juta ton bijih limonit. Hanya saja, kuota produksi yang disetujui sementara ini adalah sebesar 5,85 juta ton, terdiri dari 4,1 juta ton bijih saprolit dan 1,75 juta ton bijih limonit.

"ESDM memberikan arahan, nanti akan melihat kembali progres (proyek HPAL) seperti apa. Nah, kami sudah percaya diri bahwa pabriknya memang sudah akan jadi. Maka kami akan mengajukan revisi (RKAB) sesuai dengan progres pabrik," ungkap Anto.

Guna mengamankan pasokan bijih nikel untuk kebutuhan IGP, Vale telah secara matang mempersiapkan kapasitas tambang. Head of Sorowako Limonite Project Vale Indonesia, Suharpiyu Widjaja mengatakan bahwa pihaknya sudah melakukan penyimpanan (stockpile) bijih nikel limonit untuk memasok proyek IGP Sorowako.

Meski IGP Sorowako belum beroperasi, tapi Vale sudah mempersiapkan diri untuk mengamankan pasokan bijih limonit sesuai dengan volume dan kadar yang diperlukan untuk pengolahan HPAL. Hingga Juni 2026, Vale sudah mengamankan sekitar 3,7 juta ton bijih limonit.

Vale menargetkan bisa mengamankan sekitar 6,6 juta ton bijih limonit di stockpile pada akhir tahun 2026, dan akan bertambah lagi menjadi 8,2 juta ton pada pertengahan tahun depan. "Kami siapkan juga untuk kebutuhan first ore delivery. Supaya punya jaminan kepastian dari sisi grade maupun tonase," ungkap Suharpiyu saat ditemui KONTAN di Sorowako pada Kamis (11/6/2026). 

Saat IGP Sorowako beroperasi, tambang Vale siap untuk memasok sekitar 11,5 juta ton bijih limonit untuk kebutuhan bahan baku HPAL, yang akan diolah menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) sebagai salah satu komponen baterai kendaraan listrik. Dengan adanya teknologi HPAL, bijih nikel kadar rendah menjadi bisa termanfaatkan dengan lebih optimal.

Di Morowali, Sarjan Soleman sebagai Manager Mine Production Bahodopi juga menyatakan kesiapannya untuk mengamankan pasokan bijih nikel bagi IGP HPAL Morowali. Vale telah memulai produksi bijih nikel di tambang Bahodopi sejak pertengahan tahun lalu.

Sarjan mengatakan, Vale memproduksi sekitar 2 juta ton bijih saprolit pada tahun 2025. Pada tahun ini, tambang Vale di Bahodopi Blok 2 dan 3 mendapatkan kuota produksi sebanyak 2,3 juta ton. Pada pertengahan tahun ini, Sarjan memperkirakan Vale sudah bisa mencapai target tersebut.

Oleh sebab itu, Vale akan mengajukan tambahan kuota produksi untuk penambangan bijih saprolite, serta untuk bijih limonit sebagai bahan baku HPAL di IGP Morowali. "Di adendum yang akan kami ajukan, itu termasuk lomonit, sebagai komitmen untuk memasok partner kami, itu yang mau kami ajukan untuk RKAB tahun ini," ungkap Sarjan.

Sarjan memastikan produksi bijih nikel di Bahodopi Blok 2 dan 3 dilakukan dengan menerapkan kaidah pertambangan yang baik atau Good Mining Practice (GMP) dan memenuhi aspek lingkungan. Komitmen untuk menjalankan GMP dan pemenuhan terhadap aspek lingkungan menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan oleh pemerintah dalam persetujuan RKAB. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News