BERAWAL dari membuat makanan dari sisa bahan baku perusahaan keripik buah tempatnya bekerja, Kristiawan kini menjadi pengusaha keripik buah yang disegani di Malang. Kelebihannya, pemilik merek KressH ini kreatif menelurkan aneka keripik rasa buah.PRODUSEN keripik buah asal Malang memang sangat banyak. Namun, di antara sekian banyak produk yang ada di pasar, keripik buah merek KressH merupakan produk yang paling berhasil mendapat tempat di hati masyarakat Malang dan sekitarnya. Konon karena kualitas produknya bagus, keripik buatan Kristiawan ini menjadi incaran orang yang berkunjung ke Malang. Bukan hanya itu. Pasar KressH ini juga sudah menjangkau berbagai daerah lain. Tak heran, omzet KressH kini sudah ratusan juta rupiah setiap bulan. Pria yang akrab disapa Kris ini mengaku, sebenarnya ia tidak pernah bermimpi menjadi pebisnis. Sejak kecil cita-citanya adalah menjadi seorang insinyur dan ingin bekerja di perusahaan. Pada 1992, selang setahun setelah menamatkan pendidikan S1 di Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, ia bekerja di salah satu pabrik keripik buah di Malang. Jabatannya adalah manajer umum. Namun, tahun 1998, Kris pindah ke perusahaan keripik buah dan sayur lainnya. Nah ketika bekerja di perusahaan ini, ia melihat ada banyak sisa bahan yang tidak dipakai di perusahaannya. Ia membawa pulang sisa-sisa bahan buah tersebut. Kemudian ia mengolahnya menjadi makanan, di antaranya jenang dan manisan. Lama-lama, ia pun berpikir untuk membuka bisnis sendiri. Maka itu, selang tiga tahun, ia memutuskan untuk membuat keripik buah sendiri. Dengan modal awal Rp 5 juta dari tabungannya, ia berusaha membuat mesin pembuat keripik buah sendiri. Pengalamannya selama di pabrik dan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah membuatnya mampu memodifikasi mesin pembuat keripik dengan harga murah. "Biaya bisa ditekan dan hasil produksi juga lebih berkualitas, tidak keras dan lebih garing," tutur pemilik usaha merek Kajeye Food ini. Meski masih berstatus karyawan, Kris resmi merintis usahanya sejak 2001. Awalnya, ia bermitra dengan pengusaha kecil (UKM) di Malang. Ia menjual mesin-mesin modifi kasinya kepada para pengusaha UKM di Malang. Kemudian mitramitranya tersebut memproduksi keripik apel untuk Kris dan ia memasarkannya dengan merek KressH. "Kebetulan waktu itu belum ada yang membuat keripik apel," kata pria berusia 43 tahun ini. Usahanya terus berkembang. Ia pun meluncurkan inovasi produk setiap tahun, seperti keripik salak, semangka, melon, dan nangka. Hasilnya, Kris mulai kewalahan memenuhi permintaan pembeli. Maka, sejak 2004, Kris memutuskan juga ikut memproduksi keripik buah sendiri. Awalnya, Kris hanya menggunakan satu mesin saja di rumahnya. Tapi, seiring perkembangan bisnisnya, ia membangun pabrik sendiri di belakang rumahnya dan menggunakan empat mesin pembuat keripik. Kapasitas produksinya kini mencapai 1,8 ton sebulan. Berkat inovasinya, kini Kris telah memproduksi lebih dari 15 jenis keripik buah dan sayur. Jumlah pekerjanya yang semula hanya tiga orang telah bertambah menjadi 25 orang. Produknya ditiru pesaing Perjalanan Kristiawan membesarkan produk keripik buhanya yang bermerek KressH tidaklah mudah. Selain pernah dikecewakan pekerjanya, ide mesin dan inovasi produknya pun pernah ditiru pesaing. Namun, dia tidak pernah menyerah. Ia pun mampu menyabet gelar pengusaha mikro terbaik se-Jawa Timur tahun 2008 silam. Kristiawan yang juga man-tan pegawai pabrik keripik buah ini tak menyangka bis-nis yang dirintisnya sejak tahun 1998 silam kini berke-mbang pesat. Ia mampu menggenggam omzet sampai ratusan juta rupiah setiap bulannya. Produknya kini tersebar sampai ke luar Jawa Timur melalui dua outlet penjualan di Malang serta ratusan toko kecil dan rekanan bisnis di beberapa daerah. Banyaknya pesanan keripik buah membuat Kristiawan harus merangkul lima mitra. Toh, perjalanan usahanya tidak selalu berjalan mulus. Misalnya saja, ayah empat anak ini mengaku pernah menghadapi masalah karena empat tahun lalu beberapa pekerja terampilnya dibajak pengusaha lain. Akibatnya, produksi keripiknya sempat goyah. "Maka, saya harus turun tangan sendiri untuk produksi," kenangnya. Masalah lainnya, bersama dengan hengkangnya tenaga-tenaga terampil tersebut ke pesaingnya, rahasia dapurnya juga bocor ke para pesaing tersebut. Kris juga lantas harus mendidik kembali pegawai-pegawai baru. Tapi, ia menyadari, kejadian seperti itu biasa terjadi di dalam bisnis. Hanya, berkaca dari pengalaman tersebut, Kris lantas berusaha meningkatkan loyalitas pekerjanya dan menjaga kekompakan bekerja. Kris juga tidak segan-segan menaikkan gaji saat penjualannya meningkat. Satu persoalan beres, ternyata muncul masalah yang lain. Mesin terbaru hasil modifikasinya ditiru pesaing tanpa sepengetahuannya. "Ada pengepul buah yang membawa serta temannya dan ternyata ia adalah ahli mesin perusahaan lain. Dia berhasil mengorek banyak informasi dari saya serta memotret mesin tanpa saya sadari," tutur Kris. Hal ini membuat produk KressH memiliki pesaing yang kualitasnya serupa di pasaran. Maklum saja, Kris memang berhasil memodifikasi mesin pembuat keripik sehingga keripik buatannya sangat renyah dan memiliki rasa buah asli. Rahasianya ada pada modifikasi tipe mesin vacuum yang ia pakai. "Saya sempat down, tapi kemudian saya berpikir bahwa saya pasti bisa memodifikasi mesin dengan hasil lebih baik lagi," ujarnya. Lagipula, Krislah penemu ide mesin yang bisa membuat keripik nan renyah. Benar saja. Selang beberapa bulan, Kris berhasil memodifikasi mesin baru dengan kualitas lebih baik. Sampai kini, mesin ini menjadi mesin andalannya. Keripik yang dihasilkan mesin barunya ini mampu memeras kadar air buah hingga tinggal 2%. Hasilnya, keripik menjadi lebih garing, lebih tahan lama, tapi rasa buah tak berubah. Untuk modifikasi mesin, Kris selalu membeli mesin dalam bentuk terurai. Kemudian ia merakit dan memodifikasi sesuai kebutuhan usaha. Untuk mengantisipasi peniruan mesin, sekarang dia membatasi orang yang boleh masuk ke ruang produksi. "Hanya para pekerja saja yang boleh masuk ke ruang produksi," tegasnya. Yang pasti, sekarang dengan mesin modifikasi terbaru tersebut, hasil produksi keripik buah dan sayurnya semakin mendapat tempat di hati konsumen. Pria 43 tahun ini pun makin rajin berinovasi dengan membuat aneka produk keripik dari bahan buah dan sayur lain. Misalnya saja keripik rambutan. Ketika ada pesaing lain mencoba mencuri idenya, produk keripik Kris tetap yang paling laris. "Dua tahun lalu ada yang mencoba meniru keripik wortel saya, tapi produk saya tetap paling laku," ujar lulusan Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya ini. Maklum, Kristiawan memberi bumbu khusus di keripik wortel itu sehingga menambah citarasanya. Kini, berbagai produk keripik buah dan sayur yang diproduksi Kris semakin laris manis. Keberhasilan ini membuat pria yang selalu tampil dengan rambut dikuncir ini terpilih sebagai Pengusaha Mikro Terbaik se-Jawa Timur versi Bank Rakyat Indonesia pada 2008 lalu. Kesulitan mendapatkan bahan baku Meski pesanan terus berdatangan, terkadang bisnis keripik Kristiawan kesulitan mendapatkan bahan baku. Memang, ada pengepul. Tapi, jika tidak sedang musim, pasokan buah biasanya menjadi seret. Untuk mengatasinya, Kristiawan berinovasi membuat keripik buah yang lain. Kristiawan jelas gembira karena permintaan berbagai jenis keripik buah dan sayur buatan pabriknya kian meningkat. Suatu kebanggaan tersendiri baginya, setiap kali bisa menelurkan produk baru dan bisa diterima pasar. Setiap tahun, Kris minimal merilis satu produk baru. "Inovasi terbaru saya adalah keripik durian dan jamur, karena umumnya segala jenis buah bisa diolah menjadi keripik," tuturnya. Untuk memastikan pasokan bahan baku, Kris bekerjasama dengan pengepul buah dan sayur di Malang, Semarang, Banyuwangi, Yogyakarta, Blitar, hingga Probolinggo. Namun, kondisi panen buah-buahan di tanah air yang musiman terkadang menjadi kendala dalam bisnisnya. Meski sudah memiliki pengepul, Kris tetap kesulitan mendapat pasokan ketika buah tertentu yang menjadi bahan bakunya sedang tidak musim. Untuk mengatasinya, dia beralih ke jenis buah atau sayur yang sedang musim. Tapi, persoalan lain muncul ketika panen beberapa jenis buah terjadi bersamaan. Apalagi saat seperti itu bersamaan dengan hari libur atau hari raya. "Saya jadi kewalahan karena kapasitas mesin masih terbatas," papar pria yang gemar berkebun ini. Ketika itu, usahanya baru berjalan beberapa tahun dan Kris masih mengandalkan dua mesin produksi. Kris pun mulai berpikir untuk memperoleh tambahan modal. Ia mencoba bermitra dengan salah satu bank. Sejak lima tahun silam, ia berhasil mendapat tambahan modal untuk pertama kalinya. "Waktu itu saya dapat Rp 10 juta dan saya belikan onderdil mesin sehingga bisa menambah mesin di pabrik," katanya. Pinjaman modal terus bergulir, dan akhir tahun lalu Kris kembali mendapat pinjaman Rp 450 juta. Uang itu ia belikan berbagai onderdil untuk memodifikasi mesin. Kini pabriknya memiliki empat mesin dengan kapasitas produksi mencapai 60 kg keripik per hari. Selain memodifikasi mesin untuk pabriknya sendiri, Kris tak lupa memodifikasi mesin untuk kelima unit UKM yang menjadi mitranya. Pria yang semasa kecil pernah berjualan singkong goreng bersama teman-temannya itu juga masih rutin memproduksi manisan, selain keripik. Buah-buahan yang menjadi produk manisannya seperti stroberi, salak, dan jambu merah. Kris kian menikmati jalan hidup sebagai pebisnis. "Selain bisa menafkahi keluarga, lebih senang lagi karena membuka peluang kerja bagi orang lain," ujar bapak empat anak ini. Kris juga makin terbiasa menghadapi penipuan oleh rekan bisnisnya. Misalnya, pernah ada pedagang yang membawa lari produknya. Tapi, Kris menyebut hal ini biasa dialami oleh setiap pebisnis. "Apalagi yang tidak menerapkan perjanjian resmi dengan agen atau pedagang," ujarnya. Kris yakin, dengan kualitas produk yang ia miliki, para agen dan pedagang pasti akan membelinya, "Dan, itu yang membuat mereka kembali kepada saya, mungkin ini yang membuat usaha saya tetap lancar sampai saat ini," ungkapnya. Mengembangkan bisnis makanan Kristiawan telah menyiapkan setumpuk rencana untuk mengembangkan usahanya. Ia ingin memperbanyak jenis produk, menambah pabrik dan mitra UKM, serta membuka jasa pelatihan pembuatan keripik buah dan sayur. SElain telah mengolah lebih dari 15 jenis buah menjadi keripik, Kristiawan juga berhasil mengembangkan manisan buah kering. Tapi, rupanya, pria yang kerap dipanggil Kris tidak akan berhenti di situ. Menurutnya masih banyak olahan buah yang belum diproduksi. Kini, Kris tengah menyusun sederet rencana untuk mengembangkan bisnisnya. Selain masih akan meluncurkan keripik buah dan sayur jenis baru, tahun depan, Kris bakal memproduksi manisan buah basah dari beragam buah seperti apel, nanas, dan mangga. Produk ini berbeda dengan manisan kering yang telah dihasilkannya. Selama ini, bentuk manisan buah yang dibuatnya lebih mirip jenang. "Kalau yang nanti saya produksi, asli manisan buah berbentuk basah, mirip seperti manisan dari Thailand," papar pria yang pernah menjadi dosen di Universitas Tribuana Tungga Dewi, Malang ini. Bukan hanya itu, Kris juga sedang melakukan penelitian untuk menghasilkan keripik berbahan rumput laut. Selain itu, untuk meningkatkan kapasitas produksi, tahun ini Kris kembali akan memperluas areal produksi dan menambah mesin produksi. Setiap tahun, Kris selalu berusaha memodifikasi mesin yang kualitasnya lebih baik dan lebih canggih. Karena merakit sendiri, dia bisa menyesuaikan mesin itu dengan kebutuhan. Selain mengembangkan pabrik sendiri, Kris tak lupa terus memperluas jaringan mitra Usaha Kecil dan Menengahnya (UKM). Tahun depan, Kris akan menggandeng beberapa UKM baru untuk memproduksi keripik. Agar camilan keripik bermerek KressH semakin dikenal masyarakat, Kris tak sungkan mengikuti berbagai pameran, baik di wilayah Jawa Timur, Jakarta, maupun daerah lainnya. Berbagai upaya yang dilakoni Kris itu tak lepas dari keinginannya menggapai impian besar bersama Kajeye Food. Dia ingin KressH dikenal luas sebagai camilan yang sehat dan bergizi di tengah masyarakat. Untuk mewujudkannya, sejak beberapa tahun lalu, Kris sudah mulai mengedukasi masyarakat lewat berbagai pameran yang diikutinya. "Saya jelaskan bahwa vacum frying bisa menghasilkan keripik dengan gizi yang terjaga," kata Kris. Rencananya, Kris juga bakal membuka bisnis jasa pelatihan. Nantinya, ia akan menjadi nara sumber dalam pelatihan produksi olahan buah dan sayur. Bisnis ini sekaligus bisa mendukung rencananya mengedukasi masyarakat untuk mengonsumsi camilan keripik sehat. Menjadi pembicara dalam pelatihan sebenarnya sudah dilakoninya sejak dua tahun lalu di klinik UKM Jatim. Jika budaya mengonsumsi keripik berbahan buah dan sayur sudah terbentuk, Kris berharap bisa lebih mudah mengenalkannya kepada anak-anak. Kris ingin memupuk kegemaran anak mengonsumsi sayur pada lewat camilan keripik sayur. Kris tidak pernah khawatir melihat kemunculan pesaing baru. Semakin banyak pesaing justru akan semakin menambah semangatnya untuk berinovasi. "Ilmu tidak perlu disembunyikan, lebih baik disebarkan. Lewat pelatihan, kita sekaligus memperkenalkan produk kita yang berkualitas," pungkasnyaCek Berita dan Artikel yang lain di Google News Kristiawan, Pebisnis Keripik Buah
BERAWAL dari membuat makanan dari sisa bahan baku perusahaan keripik buah tempatnya bekerja, Kristiawan kini menjadi pengusaha keripik buah yang disegani di Malang. Kelebihannya, pemilik merek KressH ini kreatif menelurkan aneka keripik rasa buah.PRODUSEN keripik buah asal Malang memang sangat banyak. Namun, di antara sekian banyak produk yang ada di pasar, keripik buah merek KressH merupakan produk yang paling berhasil mendapat tempat di hati masyarakat Malang dan sekitarnya. Konon karena kualitas produknya bagus, keripik buatan Kristiawan ini menjadi incaran orang yang berkunjung ke Malang. Bukan hanya itu. Pasar KressH ini juga sudah menjangkau berbagai daerah lain. Tak heran, omzet KressH kini sudah ratusan juta rupiah setiap bulan. Pria yang akrab disapa Kris ini mengaku, sebenarnya ia tidak pernah bermimpi menjadi pebisnis. Sejak kecil cita-citanya adalah menjadi seorang insinyur dan ingin bekerja di perusahaan. Pada 1992, selang setahun setelah menamatkan pendidikan S1 di Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, ia bekerja di salah satu pabrik keripik buah di Malang. Jabatannya adalah manajer umum. Namun, tahun 1998, Kris pindah ke perusahaan keripik buah dan sayur lainnya. Nah ketika bekerja di perusahaan ini, ia melihat ada banyak sisa bahan yang tidak dipakai di perusahaannya. Ia membawa pulang sisa-sisa bahan buah tersebut. Kemudian ia mengolahnya menjadi makanan, di antaranya jenang dan manisan. Lama-lama, ia pun berpikir untuk membuka bisnis sendiri. Maka itu, selang tiga tahun, ia memutuskan untuk membuat keripik buah sendiri. Dengan modal awal Rp 5 juta dari tabungannya, ia berusaha membuat mesin pembuat keripik buah sendiri. Pengalamannya selama di pabrik dan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah membuatnya mampu memodifikasi mesin pembuat keripik dengan harga murah. "Biaya bisa ditekan dan hasil produksi juga lebih berkualitas, tidak keras dan lebih garing," tutur pemilik usaha merek Kajeye Food ini. Meski masih berstatus karyawan, Kris resmi merintis usahanya sejak 2001. Awalnya, ia bermitra dengan pengusaha kecil (UKM) di Malang. Ia menjual mesin-mesin modifi kasinya kepada para pengusaha UKM di Malang. Kemudian mitramitranya tersebut memproduksi keripik apel untuk Kris dan ia memasarkannya dengan merek KressH. "Kebetulan waktu itu belum ada yang membuat keripik apel," kata pria berusia 43 tahun ini. Usahanya terus berkembang. Ia pun meluncurkan inovasi produk setiap tahun, seperti keripik salak, semangka, melon, dan nangka. Hasilnya, Kris mulai kewalahan memenuhi permintaan pembeli. Maka, sejak 2004, Kris memutuskan juga ikut memproduksi keripik buah sendiri. Awalnya, Kris hanya menggunakan satu mesin saja di rumahnya. Tapi, seiring perkembangan bisnisnya, ia membangun pabrik sendiri di belakang rumahnya dan menggunakan empat mesin pembuat keripik. Kapasitas produksinya kini mencapai 1,8 ton sebulan. Berkat inovasinya, kini Kris telah memproduksi lebih dari 15 jenis keripik buah dan sayur. Jumlah pekerjanya yang semula hanya tiga orang telah bertambah menjadi 25 orang. Produknya ditiru pesaing Perjalanan Kristiawan membesarkan produk keripik buhanya yang bermerek KressH tidaklah mudah. Selain pernah dikecewakan pekerjanya, ide mesin dan inovasi produknya pun pernah ditiru pesaing. Namun, dia tidak pernah menyerah. Ia pun mampu menyabet gelar pengusaha mikro terbaik se-Jawa Timur tahun 2008 silam. Kristiawan yang juga man-tan pegawai pabrik keripik buah ini tak menyangka bis-nis yang dirintisnya sejak tahun 1998 silam kini berke-mbang pesat. Ia mampu menggenggam omzet sampai ratusan juta rupiah setiap bulannya. Produknya kini tersebar sampai ke luar Jawa Timur melalui dua outlet penjualan di Malang serta ratusan toko kecil dan rekanan bisnis di beberapa daerah. Banyaknya pesanan keripik buah membuat Kristiawan harus merangkul lima mitra. Toh, perjalanan usahanya tidak selalu berjalan mulus. Misalnya saja, ayah empat anak ini mengaku pernah menghadapi masalah karena empat tahun lalu beberapa pekerja terampilnya dibajak pengusaha lain. Akibatnya, produksi keripiknya sempat goyah. "Maka, saya harus turun tangan sendiri untuk produksi," kenangnya. Masalah lainnya, bersama dengan hengkangnya tenaga-tenaga terampil tersebut ke pesaingnya, rahasia dapurnya juga bocor ke para pesaing tersebut. Kris juga lantas harus mendidik kembali pegawai-pegawai baru. Tapi, ia menyadari, kejadian seperti itu biasa terjadi di dalam bisnis. Hanya, berkaca dari pengalaman tersebut, Kris lantas berusaha meningkatkan loyalitas pekerjanya dan menjaga kekompakan bekerja. Kris juga tidak segan-segan menaikkan gaji saat penjualannya meningkat. Satu persoalan beres, ternyata muncul masalah yang lain. Mesin terbaru hasil modifikasinya ditiru pesaing tanpa sepengetahuannya. "Ada pengepul buah yang membawa serta temannya dan ternyata ia adalah ahli mesin perusahaan lain. Dia berhasil mengorek banyak informasi dari saya serta memotret mesin tanpa saya sadari," tutur Kris. Hal ini membuat produk KressH memiliki pesaing yang kualitasnya serupa di pasaran. Maklum saja, Kris memang berhasil memodifikasi mesin pembuat keripik sehingga keripik buatannya sangat renyah dan memiliki rasa buah asli. Rahasianya ada pada modifikasi tipe mesin vacuum yang ia pakai. "Saya sempat down, tapi kemudian saya berpikir bahwa saya pasti bisa memodifikasi mesin dengan hasil lebih baik lagi," ujarnya. Lagipula, Krislah penemu ide mesin yang bisa membuat keripik nan renyah. Benar saja. Selang beberapa bulan, Kris berhasil memodifikasi mesin baru dengan kualitas lebih baik. Sampai kini, mesin ini menjadi mesin andalannya. Keripik yang dihasilkan mesin barunya ini mampu memeras kadar air buah hingga tinggal 2%. Hasilnya, keripik menjadi lebih garing, lebih tahan lama, tapi rasa buah tak berubah. Untuk modifikasi mesin, Kris selalu membeli mesin dalam bentuk terurai. Kemudian ia merakit dan memodifikasi sesuai kebutuhan usaha. Untuk mengantisipasi peniruan mesin, sekarang dia membatasi orang yang boleh masuk ke ruang produksi. "Hanya para pekerja saja yang boleh masuk ke ruang produksi," tegasnya. Yang pasti, sekarang dengan mesin modifikasi terbaru tersebut, hasil produksi keripik buah dan sayurnya semakin mendapat tempat di hati konsumen. Pria 43 tahun ini pun makin rajin berinovasi dengan membuat aneka produk keripik dari bahan buah dan sayur lain. Misalnya saja keripik rambutan. Ketika ada pesaing lain mencoba mencuri idenya, produk keripik Kris tetap yang paling laris. "Dua tahun lalu ada yang mencoba meniru keripik wortel saya, tapi produk saya tetap paling laku," ujar lulusan Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya ini. Maklum, Kristiawan memberi bumbu khusus di keripik wortel itu sehingga menambah citarasanya. Kini, berbagai produk keripik buah dan sayur yang diproduksi Kris semakin laris manis. Keberhasilan ini membuat pria yang selalu tampil dengan rambut dikuncir ini terpilih sebagai Pengusaha Mikro Terbaik se-Jawa Timur versi Bank Rakyat Indonesia pada 2008 lalu. Kesulitan mendapatkan bahan baku Meski pesanan terus berdatangan, terkadang bisnis keripik Kristiawan kesulitan mendapatkan bahan baku. Memang, ada pengepul. Tapi, jika tidak sedang musim, pasokan buah biasanya menjadi seret. Untuk mengatasinya, Kristiawan berinovasi membuat keripik buah yang lain. Kristiawan jelas gembira karena permintaan berbagai jenis keripik buah dan sayur buatan pabriknya kian meningkat. Suatu kebanggaan tersendiri baginya, setiap kali bisa menelurkan produk baru dan bisa diterima pasar. Setiap tahun, Kris minimal merilis satu produk baru. "Inovasi terbaru saya adalah keripik durian dan jamur, karena umumnya segala jenis buah bisa diolah menjadi keripik," tuturnya. Untuk memastikan pasokan bahan baku, Kris bekerjasama dengan pengepul buah dan sayur di Malang, Semarang, Banyuwangi, Yogyakarta, Blitar, hingga Probolinggo. Namun, kondisi panen buah-buahan di tanah air yang musiman terkadang menjadi kendala dalam bisnisnya. Meski sudah memiliki pengepul, Kris tetap kesulitan mendapat pasokan ketika buah tertentu yang menjadi bahan bakunya sedang tidak musim. Untuk mengatasinya, dia beralih ke jenis buah atau sayur yang sedang musim. Tapi, persoalan lain muncul ketika panen beberapa jenis buah terjadi bersamaan. Apalagi saat seperti itu bersamaan dengan hari libur atau hari raya. "Saya jadi kewalahan karena kapasitas mesin masih terbatas," papar pria yang gemar berkebun ini. Ketika itu, usahanya baru berjalan beberapa tahun dan Kris masih mengandalkan dua mesin produksi. Kris pun mulai berpikir untuk memperoleh tambahan modal. Ia mencoba bermitra dengan salah satu bank. Sejak lima tahun silam, ia berhasil mendapat tambahan modal untuk pertama kalinya. "Waktu itu saya dapat Rp 10 juta dan saya belikan onderdil mesin sehingga bisa menambah mesin di pabrik," katanya. Pinjaman modal terus bergulir, dan akhir tahun lalu Kris kembali mendapat pinjaman Rp 450 juta. Uang itu ia belikan berbagai onderdil untuk memodifikasi mesin. Kini pabriknya memiliki empat mesin dengan kapasitas produksi mencapai 60 kg keripik per hari. Selain memodifikasi mesin untuk pabriknya sendiri, Kris tak lupa memodifikasi mesin untuk kelima unit UKM yang menjadi mitranya. Pria yang semasa kecil pernah berjualan singkong goreng bersama teman-temannya itu juga masih rutin memproduksi manisan, selain keripik. Buah-buahan yang menjadi produk manisannya seperti stroberi, salak, dan jambu merah. Kris kian menikmati jalan hidup sebagai pebisnis. "Selain bisa menafkahi keluarga, lebih senang lagi karena membuka peluang kerja bagi orang lain," ujar bapak empat anak ini. Kris juga makin terbiasa menghadapi penipuan oleh rekan bisnisnya. Misalnya, pernah ada pedagang yang membawa lari produknya. Tapi, Kris menyebut hal ini biasa dialami oleh setiap pebisnis. "Apalagi yang tidak menerapkan perjanjian resmi dengan agen atau pedagang," ujarnya. Kris yakin, dengan kualitas produk yang ia miliki, para agen dan pedagang pasti akan membelinya, "Dan, itu yang membuat mereka kembali kepada saya, mungkin ini yang membuat usaha saya tetap lancar sampai saat ini," ungkapnya. Mengembangkan bisnis makanan Kristiawan telah menyiapkan setumpuk rencana untuk mengembangkan usahanya. Ia ingin memperbanyak jenis produk, menambah pabrik dan mitra UKM, serta membuka jasa pelatihan pembuatan keripik buah dan sayur. SElain telah mengolah lebih dari 15 jenis buah menjadi keripik, Kristiawan juga berhasil mengembangkan manisan buah kering. Tapi, rupanya, pria yang kerap dipanggil Kris tidak akan berhenti di situ. Menurutnya masih banyak olahan buah yang belum diproduksi. Kini, Kris tengah menyusun sederet rencana untuk mengembangkan bisnisnya. Selain masih akan meluncurkan keripik buah dan sayur jenis baru, tahun depan, Kris bakal memproduksi manisan buah basah dari beragam buah seperti apel, nanas, dan mangga. Produk ini berbeda dengan manisan kering yang telah dihasilkannya. Selama ini, bentuk manisan buah yang dibuatnya lebih mirip jenang. "Kalau yang nanti saya produksi, asli manisan buah berbentuk basah, mirip seperti manisan dari Thailand," papar pria yang pernah menjadi dosen di Universitas Tribuana Tungga Dewi, Malang ini. Bukan hanya itu, Kris juga sedang melakukan penelitian untuk menghasilkan keripik berbahan rumput laut. Selain itu, untuk meningkatkan kapasitas produksi, tahun ini Kris kembali akan memperluas areal produksi dan menambah mesin produksi. Setiap tahun, Kris selalu berusaha memodifikasi mesin yang kualitasnya lebih baik dan lebih canggih. Karena merakit sendiri, dia bisa menyesuaikan mesin itu dengan kebutuhan. Selain mengembangkan pabrik sendiri, Kris tak lupa terus memperluas jaringan mitra Usaha Kecil dan Menengahnya (UKM). Tahun depan, Kris akan menggandeng beberapa UKM baru untuk memproduksi keripik. Agar camilan keripik bermerek KressH semakin dikenal masyarakat, Kris tak sungkan mengikuti berbagai pameran, baik di wilayah Jawa Timur, Jakarta, maupun daerah lainnya. Berbagai upaya yang dilakoni Kris itu tak lepas dari keinginannya menggapai impian besar bersama Kajeye Food. Dia ingin KressH dikenal luas sebagai camilan yang sehat dan bergizi di tengah masyarakat. Untuk mewujudkannya, sejak beberapa tahun lalu, Kris sudah mulai mengedukasi masyarakat lewat berbagai pameran yang diikutinya. "Saya jelaskan bahwa vacum frying bisa menghasilkan keripik dengan gizi yang terjaga," kata Kris. Rencananya, Kris juga bakal membuka bisnis jasa pelatihan. Nantinya, ia akan menjadi nara sumber dalam pelatihan produksi olahan buah dan sayur. Bisnis ini sekaligus bisa mendukung rencananya mengedukasi masyarakat untuk mengonsumsi camilan keripik sehat. Menjadi pembicara dalam pelatihan sebenarnya sudah dilakoninya sejak dua tahun lalu di klinik UKM Jatim. Jika budaya mengonsumsi keripik berbahan buah dan sayur sudah terbentuk, Kris berharap bisa lebih mudah mengenalkannya kepada anak-anak. Kris ingin memupuk kegemaran anak mengonsumsi sayur pada lewat camilan keripik sayur. Kris tidak pernah khawatir melihat kemunculan pesaing baru. Semakin banyak pesaing justru akan semakin menambah semangatnya untuk berinovasi. "Ilmu tidak perlu disembunyikan, lebih baik disebarkan. Lewat pelatihan, kita sekaligus memperkenalkan produk kita yang berkualitas," pungkasnyaCek Berita dan Artikel yang lain di Google News