SEJAK MUDA, Kwek Leng Beng tidak asing dengan dunia bisnis. Ayah Leng Beng, Kwek Hong Png, adalah salah satu pendiri kelompok usaha Hong Leong. Di saat berdiri, Hong Leong merupakan perusahaan perdagangan. Namun, setelah tiga dekade, bisnis Hong Leong merambah industri properti dan keuangan. Adalah Leng Beng yang menjadi otak keberhasilan Hong Leong Group di sektor properti. Luas areal properti yang dikelola Kwek kini mencapai 1,2 juta meter persegi.Buah jatuh, tidak akan jauh dari pohonnya. Pepatah itu cocok menjelaskan asal muasal Kwek Leng Beng berbisnis. Pria yang berusia 65 tahun itu dilahirkan di tengah keluarga pengusaha. Sang ayah, Kwek Hong Png, merupakan salah seorang pendiri kelompok usaha Hong Leong Group. Bisnis inti Hong Leong adalah perdagangan. Namun, setelah berada di tangan generasi kedua, bisnis Hong Leong berbiak, mulai dari industri keuangan hingga properti. Dan, Leng Beng tercatat sebagai pemimpin grup Hong Leong di Singapura. Sebagai anak pengusaha yang sukses, Leng Beng tidak kesulitan mencari sekolah yang mapan. Sang ayah sempat mengirim Leng Beng untuk mempelajari hukum di London, Inggris. Begitu lulus, Leng Beng memilih bergabung dengan bisnis keluarga, di awal dekade 60-an. Setelah bekerja tiga dekade, Leng Beng meraih tampuk pimpinan Hong Leong Group di Singapura. Sedang Bisnis Hong Leong grup di Malaysia dipegang oleh sepupunya, Kwek Leng Chan. Prestasi Leng Beng terlihat dalam mengembangkan bisnis Hong Leong di sektor properti. Leng Beng merupakan Direktur dan Ketua Eksekutif City Developments Limited atau yang sering disebut dengan (CDL) sejak 1 Oktober 1969 dan 1 Januari 1995. Kwek terpilih kembali pada tanggal 29 April 2004. Dia juga duduk di Komite Nominasi dan Remunerasi CDL. CDL sendiri merupakan perusahaan properti yang didirikan pada 1963 di Singapura. CDL yang terlahir di Singapura itu, kini mampu berkiprah di tingkat dunia. Leng Beng mendeskripsikan CDL sebagai pembangun perumahan dan investasi, pengelola hotel, serta penyediaan solusi perhotelan. CDL yang berada di bawah kendali Hong Leong Singapura, juga mengembangkan kondominium dan gedung perkantoran. Saat ini, bisnis CDL sudah menggurita. Ia memiliki lebih dari 300 anak perusahaan dan perusahaan asosiasi. CDL kini juga memiliki lima anak perusahaan yang terdaftar di bursa efek terkemuka di Selandia Baru, Hong Kong, London, dan Filipina. Grup ini sekarang memiliki dan mengelola portofolio perumahan dan investasi properti yang sangat banyak di seluruh Asia, Eropa, Amerika Utara, Selandia Baru, maupun Australia. Di Singapura, CDL memiliki rekam jejak yang mengesankan sebagai pembangun lebih dari 22.000 rumah mewah. Sebagai salah satu tuan tanah terbesar di Singapura, CDL merupakan pemilik tempat usaha seluas 4 juta kaki persegi atau sekitar 1,2 juta meter persegi. Tempat usaha yang dimiliki CDL bervariasi mulai dari kantor, pabrik, hingga pusat perbelanjaan. Jumlah aset CDL disebut-sebut bakal melonjak hingga 2,4 juta meter persegi dalam waktu kurang dari lima tahun. Jalan CDL untuk melakukan ekspansi kian lapang karena mereka memiliki bank dan perusahaan keuangan. Di bawah kepemimpinan Leng Beng, CDL melakukan diversifikasi bisnis ke manajemen perhotelan. Leng Beng berhasil mengakuisisi aset hotel di London melalui anak usahanya yang terdaftar di bursa saham kota itu, yaitu Millennium and Copthorne Hotels Plc (M&C). Sebagai salah satu chain operator hotel terbesar di dunia, M&C tak hanya memiliki saham hotel saja. Mereka juga mengoperasikan 102 hotel di 18 negara di seluruh dunia. Kwek benar-benar kepincut dengan bisnis perhotelan. Di Hong Kong dia juga memiliki bisnis jasa hotel lewat City e-Solution Ltd. Anak perusahaan CDL ini menggarap bisnis manajemen properti sekaligus menyediakan layanan dan solusi teknologi informasi untuk sektor perhotelan. CDL juga melakukan investasi di sektor real estat global. Kabur dari rumah Tumbuh di lingkungan bisnis untuk menjadi penerus usaha keluarga gampang-gampang susah. Ini dirasakan oleh Kwek Leng Beng. Saat muda, dia merasa selalu tertekan oleh orang tuanya yang asal Fujian, Kwek Hong Png. Dalam wawancara dengan Harian The Star, sekitar akhir 2004 lalu, raja properti di Singapura ini mengaku kabur dari rumah saat pertama kali membantu bisnis keluarga. Leng Beng tidak mewarisi sikap sang ayah dalam mendidik anak. Kwek Leng Beng mulai terjun ke dunia bisnis sejak dia berusia 17 tahun. Adalah sang ayah, Kwek Hong Png, yang menjadi mentor Leng Beng. Ketika itu, bisnis keluarga Kwek yang berada di bawah bendera Grup Hong Leong sudah terhitung besar. Kendati berstatus sebagai anak salah seorang pemilik, Leng Beng tidak mendapat keistimewaan. Hong Png hanya menggaji Leng Beng sebesar SG$ 150 per bulan Leng Beng yang masih remaja merasa amat tertekan ketika pertama kali bekerja. Pikirannya yang masih muda tidak bisa mencerna mengapa orang harus kerja keras. Dan, sebagai anak pimpinan, Leng Beng tidak pernah berpikir ia harus merangkak dari bawah. "Tadinya saya berpikir hanya akan membantu merapikan sistem administrasi," ujarnya seperti dikutip harian The Star. Namun sang ayah yang kini sudah almarhum tidak berkompromi. "Saya tidak peduli seberapa baik kamu dalam sistem administrasi. Jika kamu tidak bisa menjual, kamu tidak punya pendapatan. Dan jika kamu tidak menghasilkan, kamu akan mati," demikian ucapan sang ayah yang dikenang Leng Beng. Sikap sang ayah yang keras membuat Leng Beng stres. Ia sempat meninggalkan Singapura, menuju Penang selama beberapa minggu. Ia baru pulang ketika dibujuk teman-teman ayahnya. Leng Beng bersedia berhenti bertengkar dengan sang Ayah. Dia mencoba memahami tuntutan sang ayah, yaitu mencetak penjualan, penjualan, dan lebih banyak lagi penjualan. Dia juga mengasah ketajaman bisnisnya. Baik untuk bisnis pribadi maupun bisnis Hong Leong. Leng Beng memulai kiprah solonya ketika mengambilalih 1.971 saham Singapura City Developments (CDL) di bursa Singapura. Pada tahun 1990, dia sudah benar-benar mengikuti jejak ayahnya sebagai pimpinan Hong Leong Group. Dia benar-benar melangkah keluar dari bayangan sang ayah, dan mulai membuka jalan sebagai salah satu raksasa bisnis di Asia. Leng Beng mendirikan Hong Kong CDL Hotel Internasional, sebagai kendaraan mengakuisisi sejumlah hotel. Prestasi besar yang dilakukan Leng Beng, antara lain mengakuisisi The Plaza hotel dari pengusaha raksasa properti Amerika Serikat (AS), Donald Trump pada tahun 1995. Dalam transaksi itu, Leng Beng bermitra dengan keluarga kerajaan Arab Saudi, Pangeran Alwaleed. Buah keberhasilan akuisisi ini, Alaweed memberikan kenang-kenangan bagi Leng Beng berupa senapan mesin AK-47 yang berlapis emas. Meski mendapat tekanan dari orang tuanya, Leng Beng tetaplah sayang pada keluarga. Dia mengawini Cecilia, seorang pengacara yang berpraktik di Singapura. Pasangan ini memiliki dua orang anak. Anak sulung mereka telah menyelesaikan pendidikan di Universitas Boston. Si sulung kini memegang kendali bisnis ayahnya di AS. Sedangkan si bungsu telah menyelesaikan pendidikan di Wharton Business School, University of Pennsylvania, AS. Terhadap kedua putranya, Leng Beng tidak melakukan pendidikan sekeras Hong Png, ayahnya. Seringkali Leng Beng mendengarkan masukan dari sang anak. Leng Beng juga memberlakukan tradisi ini di kantor. Raja properti Singapura ini tidak pernah sungkan mendengarkan masukan dari bawahannya. Pria yang lahir lebih dari 65 tahun lalu ini, memiliki filosofi bekerja keras, berbicara lebih sedikit, berbuat lebih banyak. Dia merasa menjadi orang besar, berarti lebih sering pusing dan sakit kepala dalam segala hal. Leng Beng juga mengakui, yang paling sulit adalah mengatur orang. Bisnisnya semakin menggurita Bertahun-tahun menjadi manusia kaya di negerinya, tak membuat Kwek Leng Beng puas. Bagi dia, kepuasan bukan semata hasil materi yang dia capai, dan terwujud dalam kekayaan semata. Tapi yang lebih penting dan bisa membuat dia tetap eksis menjalankan bisnisnya adalah pencapaian prestasi. Hasilnya, ukuran kerja bagi Leng Beng bukan hanya berdirinya gedung-gedung pencakar langit. Tapi, bagai mana ia bisa mencapai prestasi tertinggi di bidang yang dia geluti. Sebagai pebisnis, Kwek Leng Beng tidak selalu berorientasi uang. "Seharusnya filsafat setiap orang harus puas dengan prestasi, bukan kekayaan," ujarnya. Bagi Leng Beng, prestasi itu jelas berbanding lurus dengan perolehan uang. Tahun lalu, ia menempati peringkat 176 daftar orang terkaya dunia versi majalah Forbes. Majalah itu menaksir kekayaan Leng Beng mencapai US$ 3,6 miliar. Hasil kerja yang menjadi kebanggaan Leng Beng adalah keberhasilan mengakuisisi City Singapura Developments (CDL). Saat melakukan akuisisi itu, dia hanya memiliki delapan karyawan, dan hanya menyewa sebuah kantor. CDL adalah perusahaan properti yang berdiri di Singapura sejak awal dekade 60-an. Di jagad properti, CDL kini menyandang status sebagai pemain internasional. Bisnis CDL terserak, mulai dari pembangun dan pengelola kawasan perumahan, hingga pemilik sekaligus operator jaringan hotel. Leng Beng bersama CDL terus berusaha mendapatkan proyek. Pada tahun 1965, CDL menyelesaikan proyek perumahan pertamanya, Fresh Breezes di Johor Bahru Malaysia. Dus, CDL pun memelopori konsep show house. Selanjutnya, CDL meluncurkan kondominium Clementi Park, di Singapura. Tidak lama setelah itu, CDL meluncurkan proyek hunian tinggi di Singapura, Kota Towers, yang selesai pada 1966. Dengan kecerdasan Leng Beng, CDL muncul sebagai pengembang properti terbesar di Singapura. Di dekade 1980-an, CDL terus mengembangkan sayap dengan meluncurkan 21 properti hunian dan 12 investasi properti. Pada tahun 1983, CDL merampungkan pembangunan Kota House di jantung bisnis Singapura. Setelah kuat di properti residensial, CDL mulai mengembangkan sayapnya ke bisnis hotel dengan mengakuisisi King's Hotel dan Hotel Anggrek Inn. Kini, keduanya dikinela dengan nama Copthorne King's Hotel dan Copthorne Orchid Hotel. Leng Beng setengah bertaruh saat meluncurkan pusat perbelanjaan pertama bernama City Plaza. Setelah sukses dengan proyek tersebut, CDL lebih banyak berinvestasi dan pengembangan properti seperti Tanglin Shopping Centre, Katong Shopping Centre, Kompleks Hup Woh yang kini dikenal sebagai Golden Mile Complex, Queensway Shopping Centre, dan The Arcade. Salah satu maha karya CDL yang hingga saat ini masih tersohor adalah Republic Plaza, satu dari tiga pencakar langit tertinggi di Singapura. Pusat perbelanjaan dan perkantoran tersebut berlokasi di ujung selatan Raffles Place di distrik bisnis Singapura. Meskipun Singapura merupakan wilayah yang relatif jauh dari zona gempa, Leng Beng tak mau menanggung risiko. Walhasil, gedung yang selesai dibangun pada tahun 1995 ini didesain dengan fitur khusus tahan gempa. CDL terus melakukan diversifikasi usaha ke manajemen perhotelan. Pada musim semi 1999, mereka berhasil melakukan akuisisi sebuah hotel di London. Pembelian dilakukan oleh anak perusahaan CDL yang terdaftar di bursa London, yaitu Millennium & Copthorne Hotels Plc (M & C). Sebagai salah satu hotel terbesar di dunia, M & C tak hanya memiliki bangunan saja, tetapi sekaligus menjadi operator. Saat ini, mereka mengoperasikan 102 hotel di 18 negara. Pada tahun 1988 M & C mengakuisisi Hilton Seoul di Korea senilai £ 140 juta. Leng Beng rupanya ketagihan berbisnis hotel, Desember 1999 dia kembali membeli Regal Hotel di Amerika Serikat. Nilai transaksi tersebut mencapai £ 395 juta. Sampai kini Leng Beng belum berpikir untuk mengakhiri kiprahnya di bisnis properti.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Kwek Leng Beng, Membangun CDL Menjadi Raksasa Properti Dunia
SEJAK MUDA, Kwek Leng Beng tidak asing dengan dunia bisnis. Ayah Leng Beng, Kwek Hong Png, adalah salah satu pendiri kelompok usaha Hong Leong. Di saat berdiri, Hong Leong merupakan perusahaan perdagangan. Namun, setelah tiga dekade, bisnis Hong Leong merambah industri properti dan keuangan. Adalah Leng Beng yang menjadi otak keberhasilan Hong Leong Group di sektor properti. Luas areal properti yang dikelola Kwek kini mencapai 1,2 juta meter persegi.Buah jatuh, tidak akan jauh dari pohonnya. Pepatah itu cocok menjelaskan asal muasal Kwek Leng Beng berbisnis. Pria yang berusia 65 tahun itu dilahirkan di tengah keluarga pengusaha. Sang ayah, Kwek Hong Png, merupakan salah seorang pendiri kelompok usaha Hong Leong Group. Bisnis inti Hong Leong adalah perdagangan. Namun, setelah berada di tangan generasi kedua, bisnis Hong Leong berbiak, mulai dari industri keuangan hingga properti. Dan, Leng Beng tercatat sebagai pemimpin grup Hong Leong di Singapura. Sebagai anak pengusaha yang sukses, Leng Beng tidak kesulitan mencari sekolah yang mapan. Sang ayah sempat mengirim Leng Beng untuk mempelajari hukum di London, Inggris. Begitu lulus, Leng Beng memilih bergabung dengan bisnis keluarga, di awal dekade 60-an. Setelah bekerja tiga dekade, Leng Beng meraih tampuk pimpinan Hong Leong Group di Singapura. Sedang Bisnis Hong Leong grup di Malaysia dipegang oleh sepupunya, Kwek Leng Chan. Prestasi Leng Beng terlihat dalam mengembangkan bisnis Hong Leong di sektor properti. Leng Beng merupakan Direktur dan Ketua Eksekutif City Developments Limited atau yang sering disebut dengan (CDL) sejak 1 Oktober 1969 dan 1 Januari 1995. Kwek terpilih kembali pada tanggal 29 April 2004. Dia juga duduk di Komite Nominasi dan Remunerasi CDL. CDL sendiri merupakan perusahaan properti yang didirikan pada 1963 di Singapura. CDL yang terlahir di Singapura itu, kini mampu berkiprah di tingkat dunia. Leng Beng mendeskripsikan CDL sebagai pembangun perumahan dan investasi, pengelola hotel, serta penyediaan solusi perhotelan. CDL yang berada di bawah kendali Hong Leong Singapura, juga mengembangkan kondominium dan gedung perkantoran. Saat ini, bisnis CDL sudah menggurita. Ia memiliki lebih dari 300 anak perusahaan dan perusahaan asosiasi. CDL kini juga memiliki lima anak perusahaan yang terdaftar di bursa efek terkemuka di Selandia Baru, Hong Kong, London, dan Filipina. Grup ini sekarang memiliki dan mengelola portofolio perumahan dan investasi properti yang sangat banyak di seluruh Asia, Eropa, Amerika Utara, Selandia Baru, maupun Australia. Di Singapura, CDL memiliki rekam jejak yang mengesankan sebagai pembangun lebih dari 22.000 rumah mewah. Sebagai salah satu tuan tanah terbesar di Singapura, CDL merupakan pemilik tempat usaha seluas 4 juta kaki persegi atau sekitar 1,2 juta meter persegi. Tempat usaha yang dimiliki CDL bervariasi mulai dari kantor, pabrik, hingga pusat perbelanjaan. Jumlah aset CDL disebut-sebut bakal melonjak hingga 2,4 juta meter persegi dalam waktu kurang dari lima tahun. Jalan CDL untuk melakukan ekspansi kian lapang karena mereka memiliki bank dan perusahaan keuangan. Di bawah kepemimpinan Leng Beng, CDL melakukan diversifikasi bisnis ke manajemen perhotelan. Leng Beng berhasil mengakuisisi aset hotel di London melalui anak usahanya yang terdaftar di bursa saham kota itu, yaitu Millennium and Copthorne Hotels Plc (M&C). Sebagai salah satu chain operator hotel terbesar di dunia, M&C tak hanya memiliki saham hotel saja. Mereka juga mengoperasikan 102 hotel di 18 negara di seluruh dunia. Kwek benar-benar kepincut dengan bisnis perhotelan. Di Hong Kong dia juga memiliki bisnis jasa hotel lewat City e-Solution Ltd. Anak perusahaan CDL ini menggarap bisnis manajemen properti sekaligus menyediakan layanan dan solusi teknologi informasi untuk sektor perhotelan. CDL juga melakukan investasi di sektor real estat global. Kabur dari rumah Tumbuh di lingkungan bisnis untuk menjadi penerus usaha keluarga gampang-gampang susah. Ini dirasakan oleh Kwek Leng Beng. Saat muda, dia merasa selalu tertekan oleh orang tuanya yang asal Fujian, Kwek Hong Png. Dalam wawancara dengan Harian The Star, sekitar akhir 2004 lalu, raja properti di Singapura ini mengaku kabur dari rumah saat pertama kali membantu bisnis keluarga. Leng Beng tidak mewarisi sikap sang ayah dalam mendidik anak. Kwek Leng Beng mulai terjun ke dunia bisnis sejak dia berusia 17 tahun. Adalah sang ayah, Kwek Hong Png, yang menjadi mentor Leng Beng. Ketika itu, bisnis keluarga Kwek yang berada di bawah bendera Grup Hong Leong sudah terhitung besar. Kendati berstatus sebagai anak salah seorang pemilik, Leng Beng tidak mendapat keistimewaan. Hong Png hanya menggaji Leng Beng sebesar SG$ 150 per bulan Leng Beng yang masih remaja merasa amat tertekan ketika pertama kali bekerja. Pikirannya yang masih muda tidak bisa mencerna mengapa orang harus kerja keras. Dan, sebagai anak pimpinan, Leng Beng tidak pernah berpikir ia harus merangkak dari bawah. "Tadinya saya berpikir hanya akan membantu merapikan sistem administrasi," ujarnya seperti dikutip harian The Star. Namun sang ayah yang kini sudah almarhum tidak berkompromi. "Saya tidak peduli seberapa baik kamu dalam sistem administrasi. Jika kamu tidak bisa menjual, kamu tidak punya pendapatan. Dan jika kamu tidak menghasilkan, kamu akan mati," demikian ucapan sang ayah yang dikenang Leng Beng. Sikap sang ayah yang keras membuat Leng Beng stres. Ia sempat meninggalkan Singapura, menuju Penang selama beberapa minggu. Ia baru pulang ketika dibujuk teman-teman ayahnya. Leng Beng bersedia berhenti bertengkar dengan sang Ayah. Dia mencoba memahami tuntutan sang ayah, yaitu mencetak penjualan, penjualan, dan lebih banyak lagi penjualan. Dia juga mengasah ketajaman bisnisnya. Baik untuk bisnis pribadi maupun bisnis Hong Leong. Leng Beng memulai kiprah solonya ketika mengambilalih 1.971 saham Singapura City Developments (CDL) di bursa Singapura. Pada tahun 1990, dia sudah benar-benar mengikuti jejak ayahnya sebagai pimpinan Hong Leong Group. Dia benar-benar melangkah keluar dari bayangan sang ayah, dan mulai membuka jalan sebagai salah satu raksasa bisnis di Asia. Leng Beng mendirikan Hong Kong CDL Hotel Internasional, sebagai kendaraan mengakuisisi sejumlah hotel. Prestasi besar yang dilakukan Leng Beng, antara lain mengakuisisi The Plaza hotel dari pengusaha raksasa properti Amerika Serikat (AS), Donald Trump pada tahun 1995. Dalam transaksi itu, Leng Beng bermitra dengan keluarga kerajaan Arab Saudi, Pangeran Alwaleed. Buah keberhasilan akuisisi ini, Alaweed memberikan kenang-kenangan bagi Leng Beng berupa senapan mesin AK-47 yang berlapis emas. Meski mendapat tekanan dari orang tuanya, Leng Beng tetaplah sayang pada keluarga. Dia mengawini Cecilia, seorang pengacara yang berpraktik di Singapura. Pasangan ini memiliki dua orang anak. Anak sulung mereka telah menyelesaikan pendidikan di Universitas Boston. Si sulung kini memegang kendali bisnis ayahnya di AS. Sedangkan si bungsu telah menyelesaikan pendidikan di Wharton Business School, University of Pennsylvania, AS. Terhadap kedua putranya, Leng Beng tidak melakukan pendidikan sekeras Hong Png, ayahnya. Seringkali Leng Beng mendengarkan masukan dari sang anak. Leng Beng juga memberlakukan tradisi ini di kantor. Raja properti Singapura ini tidak pernah sungkan mendengarkan masukan dari bawahannya. Pria yang lahir lebih dari 65 tahun lalu ini, memiliki filosofi bekerja keras, berbicara lebih sedikit, berbuat lebih banyak. Dia merasa menjadi orang besar, berarti lebih sering pusing dan sakit kepala dalam segala hal. Leng Beng juga mengakui, yang paling sulit adalah mengatur orang. Bisnisnya semakin menggurita Bertahun-tahun menjadi manusia kaya di negerinya, tak membuat Kwek Leng Beng puas. Bagi dia, kepuasan bukan semata hasil materi yang dia capai, dan terwujud dalam kekayaan semata. Tapi yang lebih penting dan bisa membuat dia tetap eksis menjalankan bisnisnya adalah pencapaian prestasi. Hasilnya, ukuran kerja bagi Leng Beng bukan hanya berdirinya gedung-gedung pencakar langit. Tapi, bagai mana ia bisa mencapai prestasi tertinggi di bidang yang dia geluti. Sebagai pebisnis, Kwek Leng Beng tidak selalu berorientasi uang. "Seharusnya filsafat setiap orang harus puas dengan prestasi, bukan kekayaan," ujarnya. Bagi Leng Beng, prestasi itu jelas berbanding lurus dengan perolehan uang. Tahun lalu, ia menempati peringkat 176 daftar orang terkaya dunia versi majalah Forbes. Majalah itu menaksir kekayaan Leng Beng mencapai US$ 3,6 miliar. Hasil kerja yang menjadi kebanggaan Leng Beng adalah keberhasilan mengakuisisi City Singapura Developments (CDL). Saat melakukan akuisisi itu, dia hanya memiliki delapan karyawan, dan hanya menyewa sebuah kantor. CDL adalah perusahaan properti yang berdiri di Singapura sejak awal dekade 60-an. Di jagad properti, CDL kini menyandang status sebagai pemain internasional. Bisnis CDL terserak, mulai dari pembangun dan pengelola kawasan perumahan, hingga pemilik sekaligus operator jaringan hotel. Leng Beng bersama CDL terus berusaha mendapatkan proyek. Pada tahun 1965, CDL menyelesaikan proyek perumahan pertamanya, Fresh Breezes di Johor Bahru Malaysia. Dus, CDL pun memelopori konsep show house. Selanjutnya, CDL meluncurkan kondominium Clementi Park, di Singapura. Tidak lama setelah itu, CDL meluncurkan proyek hunian tinggi di Singapura, Kota Towers, yang selesai pada 1966. Dengan kecerdasan Leng Beng, CDL muncul sebagai pengembang properti terbesar di Singapura. Di dekade 1980-an, CDL terus mengembangkan sayap dengan meluncurkan 21 properti hunian dan 12 investasi properti. Pada tahun 1983, CDL merampungkan pembangunan Kota House di jantung bisnis Singapura. Setelah kuat di properti residensial, CDL mulai mengembangkan sayapnya ke bisnis hotel dengan mengakuisisi King's Hotel dan Hotel Anggrek Inn. Kini, keduanya dikinela dengan nama Copthorne King's Hotel dan Copthorne Orchid Hotel. Leng Beng setengah bertaruh saat meluncurkan pusat perbelanjaan pertama bernama City Plaza. Setelah sukses dengan proyek tersebut, CDL lebih banyak berinvestasi dan pengembangan properti seperti Tanglin Shopping Centre, Katong Shopping Centre, Kompleks Hup Woh yang kini dikenal sebagai Golden Mile Complex, Queensway Shopping Centre, dan The Arcade. Salah satu maha karya CDL yang hingga saat ini masih tersohor adalah Republic Plaza, satu dari tiga pencakar langit tertinggi di Singapura. Pusat perbelanjaan dan perkantoran tersebut berlokasi di ujung selatan Raffles Place di distrik bisnis Singapura. Meskipun Singapura merupakan wilayah yang relatif jauh dari zona gempa, Leng Beng tak mau menanggung risiko. Walhasil, gedung yang selesai dibangun pada tahun 1995 ini didesain dengan fitur khusus tahan gempa. CDL terus melakukan diversifikasi usaha ke manajemen perhotelan. Pada musim semi 1999, mereka berhasil melakukan akuisisi sebuah hotel di London. Pembelian dilakukan oleh anak perusahaan CDL yang terdaftar di bursa London, yaitu Millennium & Copthorne Hotels Plc (M & C). Sebagai salah satu hotel terbesar di dunia, M & C tak hanya memiliki bangunan saja, tetapi sekaligus menjadi operator. Saat ini, mereka mengoperasikan 102 hotel di 18 negara. Pada tahun 1988 M & C mengakuisisi Hilton Seoul di Korea senilai £ 140 juta. Leng Beng rupanya ketagihan berbisnis hotel, Desember 1999 dia kembali membeli Regal Hotel di Amerika Serikat. Nilai transaksi tersebut mencapai £ 395 juta. Sampai kini Leng Beng belum berpikir untuk mengakhiri kiprahnya di bisnis properti.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News