JAKARTA. Penyaluran pembiayaan industri multifinance ke sektor anjak piutang masih rendah. Berbeda dengan pembiayaan otomotif yang mendominasi aktivitas perusahaan pembiayaan di Indonesia, pembiayaan anjak piutang hanya mengambil porsi mini. Hingga Oktober, anjak piutang hanya menyumbang 1,31% dari seluruh pembiayaan yang disalurkan, atau senilai Rp 3,09 triliun. Kepala Biro Pembiayaan dan Penjaminan, M. Ihsanudin mendorong perusahaan multifinance untuk menggenjot lagi pembiayaan anjak piutang tersebut. "Anjak piutang supaya di-excercise lagi. Kalau pandai mencari pasar, resikonya kecil," kata Ihsan, belum lama ini. Belakangan ini, Bapepam-LK memang getol mendorong perusahaan multifinance untuk melakukan diversifikasi pembiayaan di luar segmen kendaraan bermotor agar risiko menyebar. Ujung-ujungnya, tingkat kredit macet atau non performing loan (NPL) industri pembiayaan bisa mengecil. Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Wiwie Kurnia berdalih, porsi pembiayaan anjak piutang sedikit karena memang potensinya masih kecil. Selama ini, menurut Wiwie, jenis usaha yang paling banyak memanfaatkan praktek anjak piutang adalah perdagangan. "Tapi legalitas untuk mengalihkan piutang dari suatu perusahaan ke perusahaan pembiayaan di Indonesia belum memadai seperti di negara lain," ujar Wiwie belum lama ini. Menurutnya, pembiayaan otomotif masih akan mendominasi aktivitas perusahaan pembiayaan hingga tahun depan. Ia menilai hal itu wajar karena pasarnya juga paling besar.Sekretaris Perusahaan Clipan, Dwijanto tak menampik kecilnya potensi pembiayaan anjak piutang. Ia sendiri memperkirakan, pembiayaan anjak piutang yang disalurkan Clipan tahun depan cenderung stagnan. Saat ini, porsi pembiayaan anjak piutang di Clipan baru 18% dari seluruh portofolio pembiayaan. Angka tersebut jauh lebih kecil dari pembiayaan konsumen dan sewa guna usaha yang masing-masing menelan porsi 55% dan 27%. Tahun depan, anak usaha Bank Panin ini berencana memperbesar porsi sewa guna usaha menjadi 35%. Sementara, anjak piutang diperkirakan masih stagnan. "Anjak piutang sifatnya hanya jangka pendek, maksimal satu tahun," ujar Dwijanto. Deputi Presiden Direktur Koexim Mandiri Finance Prianto Tirtoprodjo punya pendapat berbeda. Menurutnya, anjak piutang menyimpan potensi besar. Sebab, semua perusahaan mulai dari produsen makanan hingga otomotif pasti memberikan order ke para pemasoknya. "Yang jadi masalah, perusahaan pembiayaan percaya atau tidak ke perusahaan yang dibiayai," ujarnya, Rabu (28/12). Menurut Prianto, reputasi perusahaan yang akan dibiayai piutangnya menjadi pertimbangan utama multifinance dalam menyalurkan pembiayaan anjak piutang. "Kalau perusahaan kredibel dan besar tidak mungkin tidak bayar utang," ujarnya. Apalagi jika ada garansinya. Prianto mengaku tidak memasukkan aset ke dalam studi kelayakannya, namun tetap membatasi pembiayaan anjak piutang pada satu perusahaan untuk meminimalisir resiko. Porsi anjak piutang yang disalurkan Koexim Mandiri cukup besar, yaitu 35%. Sisanya, 65% mengalir untuk sewa guna usaha. Tahun depan, pembiayaan Koexim Mandiri secara keseluruhan ditargetkan tumbuh 15%.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Porsi pembiayaan anjak piutang masih kecil
JAKARTA. Penyaluran pembiayaan industri multifinance ke sektor anjak piutang masih rendah. Berbeda dengan pembiayaan otomotif yang mendominasi aktivitas perusahaan pembiayaan di Indonesia, pembiayaan anjak piutang hanya mengambil porsi mini. Hingga Oktober, anjak piutang hanya menyumbang 1,31% dari seluruh pembiayaan yang disalurkan, atau senilai Rp 3,09 triliun. Kepala Biro Pembiayaan dan Penjaminan, M. Ihsanudin mendorong perusahaan multifinance untuk menggenjot lagi pembiayaan anjak piutang tersebut. "Anjak piutang supaya di-excercise lagi. Kalau pandai mencari pasar, resikonya kecil," kata Ihsan, belum lama ini. Belakangan ini, Bapepam-LK memang getol mendorong perusahaan multifinance untuk melakukan diversifikasi pembiayaan di luar segmen kendaraan bermotor agar risiko menyebar. Ujung-ujungnya, tingkat kredit macet atau non performing loan (NPL) industri pembiayaan bisa mengecil. Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Wiwie Kurnia berdalih, porsi pembiayaan anjak piutang sedikit karena memang potensinya masih kecil. Selama ini, menurut Wiwie, jenis usaha yang paling banyak memanfaatkan praktek anjak piutang adalah perdagangan. "Tapi legalitas untuk mengalihkan piutang dari suatu perusahaan ke perusahaan pembiayaan di Indonesia belum memadai seperti di negara lain," ujar Wiwie belum lama ini. Menurutnya, pembiayaan otomotif masih akan mendominasi aktivitas perusahaan pembiayaan hingga tahun depan. Ia menilai hal itu wajar karena pasarnya juga paling besar.Sekretaris Perusahaan Clipan, Dwijanto tak menampik kecilnya potensi pembiayaan anjak piutang. Ia sendiri memperkirakan, pembiayaan anjak piutang yang disalurkan Clipan tahun depan cenderung stagnan. Saat ini, porsi pembiayaan anjak piutang di Clipan baru 18% dari seluruh portofolio pembiayaan. Angka tersebut jauh lebih kecil dari pembiayaan konsumen dan sewa guna usaha yang masing-masing menelan porsi 55% dan 27%. Tahun depan, anak usaha Bank Panin ini berencana memperbesar porsi sewa guna usaha menjadi 35%. Sementara, anjak piutang diperkirakan masih stagnan. "Anjak piutang sifatnya hanya jangka pendek, maksimal satu tahun," ujar Dwijanto. Deputi Presiden Direktur Koexim Mandiri Finance Prianto Tirtoprodjo punya pendapat berbeda. Menurutnya, anjak piutang menyimpan potensi besar. Sebab, semua perusahaan mulai dari produsen makanan hingga otomotif pasti memberikan order ke para pemasoknya. "Yang jadi masalah, perusahaan pembiayaan percaya atau tidak ke perusahaan yang dibiayai," ujarnya, Rabu (28/12). Menurut Prianto, reputasi perusahaan yang akan dibiayai piutangnya menjadi pertimbangan utama multifinance dalam menyalurkan pembiayaan anjak piutang. "Kalau perusahaan kredibel dan besar tidak mungkin tidak bayar utang," ujarnya. Apalagi jika ada garansinya. Prianto mengaku tidak memasukkan aset ke dalam studi kelayakannya, namun tetap membatasi pembiayaan anjak piutang pada satu perusahaan untuk meminimalisir resiko. Porsi anjak piutang yang disalurkan Koexim Mandiri cukup besar, yaitu 35%. Sisanya, 65% mengalir untuk sewa guna usaha. Tahun depan, pembiayaan Koexim Mandiri secara keseluruhan ditargetkan tumbuh 15%.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News