JAKARTA. Produsen baja sepertinya masih harus bersabar. Harga baja tampaknya bakal terus berada pada titik rendah di kisaran US$ 400 hingga US$ 450 per ton dalam beberapa bulan ke depan. Departemen Perindustrian (Depperin) memperkirakan, harga baja baru akan mencapai titik balik ke posisi di atas US$ 500 per ton pada akhir tahun 2009. Titik balik harga baja ini terpicu pemulihan konsumsi di pasar dalam negeri yang diperkirakan terjadi pada semester kedua tahun ini. Namun, pulihnya konsumsi di dalam negeri baru akan terjadi setelah gelontoran stimulus bea masuk ditanggung pemerintah (BMDTP) untuk sektor besi dan baja serta infrastruktur benar-benar terealisasi. "Pemulihan industri baja ini lebih cepat dari perkiraan yang tadinya diduga baru terjadi lebih lama lagi," kata I Putu Suryawirawan, Direktur Industri Logam Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Tekstil dan Aneka Depperin. Selain karena stimulus di dalam negeri, pemulihan industri baja nasional terdorong pula oleh membaiknya konsumsi baja dunia. Seperti halnya Indonesia, beberapa negara lain pada semester kedua tahun ini sudah merealisasikan kucuran stimulus bagi sektor industrinya. Akibatnya, proyek-proyek yang banyak menyerap produk baja kembali dapat berjalan. Khusus di dalam negeri saja, dengan membaiknya kondisi perekonomian maka konsumsi baja setiap tahun bisa mencapai 7 juta ton.
Titik Balik Harga Baja Baru Terjadi Akhir Tahun
JAKARTA. Produsen baja sepertinya masih harus bersabar. Harga baja tampaknya bakal terus berada pada titik rendah di kisaran US$ 400 hingga US$ 450 per ton dalam beberapa bulan ke depan. Departemen Perindustrian (Depperin) memperkirakan, harga baja baru akan mencapai titik balik ke posisi di atas US$ 500 per ton pada akhir tahun 2009. Titik balik harga baja ini terpicu pemulihan konsumsi di pasar dalam negeri yang diperkirakan terjadi pada semester kedua tahun ini. Namun, pulihnya konsumsi di dalam negeri baru akan terjadi setelah gelontoran stimulus bea masuk ditanggung pemerintah (BMDTP) untuk sektor besi dan baja serta infrastruktur benar-benar terealisasi. "Pemulihan industri baja ini lebih cepat dari perkiraan yang tadinya diduga baru terjadi lebih lama lagi," kata I Putu Suryawirawan, Direktur Industri Logam Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Tekstil dan Aneka Depperin. Selain karena stimulus di dalam negeri, pemulihan industri baja nasional terdorong pula oleh membaiknya konsumsi baja dunia. Seperti halnya Indonesia, beberapa negara lain pada semester kedua tahun ini sudah merealisasikan kucuran stimulus bagi sektor industrinya. Akibatnya, proyek-proyek yang banyak menyerap produk baja kembali dapat berjalan. Khusus di dalam negeri saja, dengan membaiknya kondisi perekonomian maka konsumsi baja setiap tahun bisa mencapai 7 juta ton.