KONTAN.CO.ID - Ekonom dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, mengungkapkan sejumlah pekerjaan yang berpotensi digantikan oleh AI. Pekerjaan tersebut memiliki karakteristik berupa pekerjaan yang repetitif, membutuhkan proses panjang, serta pekerjaan yang membutuhkan kreativitas. "Tantangan bagi ekonomi soal pekerjaan yang bisa digantikan AI yang jelas karakteristiknya pekerjaan yang repetitif, berulang-ulang, kemudian pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan proses yang cukup panjang jadi ada simplifikasi proses, dan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan kreativitas itu juga mulai banyak digantikan AI," jelas Bhima ketika dihubungi Kompas.com pada Rabu (14/1/2026).
10 pekerjaan yang berisiko digantikan AI Bhima menilai, pekerjaan yang paling rentan adalah pekerjaan dengan pola kerja repetitif, pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan proses panjang, serta pekerjaan yang menuntut kreativitas tetapi kini bisa dibantu AI. Ia juga menyebut sektor digital sebagai salah satu yang paling cepat terdampak, terutama karena alasan efisiensi.
Baca Juga: Vaksin Influenza Efektif 52% Lawan Superflu H3N2: Siapa Paling Butuh? Berikut daftar 10 jenis pekerjaan/kategori yang rawan digantikan AI berdasarkan penjelasan Bhima:
- Content creator
- Scriptwriter
- Copywriter
- Jurnalis digital
- Digital marketing
- Riset pasar (market research)
- Pekerjaan repetitif/berulang-ulang
- Pekerjaan dengan proses panjang yang bisa disederhanakan (simplifikasi proses)
- Pekerjaan berbasis kreativitas yang kini bisa dibantu AI
- Pekerja keterampilan menengah (semi-skill)
"Profesi lain seperti digital marketing dan riset pasar juga menghadapi risiko serupa. Pekerja dengan keterampilan menengah (semi-skill) termasuk yang paling rawan terdampak,” ungkap Bhima.
Langkah apa yang harus dilakukan agar tidak tergeser AI?
Bhima menilai pemerintah perlu mengambil peran aktif dalam menghadapi disrupsi kecerdasan buatan (AI) terhadap dunia kerja. Ia menyarankan sejumlah langkah yang dapat dilakukan pemerintah dalam menghadapi kemajuan AI di bidang pekerjaan.
Baca Juga: Risiko Gangguan Janin: 26 Produk Kosmetik Populer Ini Dilarang Keras BPOM 1. Ciptakan lapangan pekerjaan baru
Salah satu langkah penting yang bisa dilakukan pemerintah menurut Bhima adalah menciptakan lapangan kerja baru yang mampu menggantikan pekerjaan-pekerjaan yang berpotensi terdampak AI. “Yang bisa dilakukan pemerintah berarti harus mencari pekerjaan atau menciptakan lapangan kerja yang memang bisa menggantikan pekerjaan yang bisa didisrupsi oleh AI,” ungkapnya. Ia menyebut, salah satu sektor yang dapat menjadi fokus adalah ketahanan pangan. Sektor tersebut menurutnya perlu lebih banyak melibatkan generasi muda, alih-alih justru didominasi aparat. “Pemerintah dapat fokus pada ketahanan pangan agar dikerjakan oleh pemuda-pemuda potensial, bukan oleh militer atau polisi, sehingga anak muda bisa masuk ke sektor pertanian dan hilirisasi perkebunan dengan nilai tambah yang lebih bagus dari sisi impor dan ekspor,” jelas Bhima.
2, Pembenahan sistem pendidikan
Selain itu, pembenahan sistem pendidikan juga mesti dilakukan, mulai dari perguruan tinggi hingga sekolah vokasi, agar lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi AI. “Hal itu dilakukan agar pemanfaatan AI dapat mempermudah pekerjaan atau melatih mereka, sehingga AI bukan dijadikan sebagai musuh yang menggantikan pekerjaan, tapi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja,” ungkapnya.
3. Ambil peran dalam rantai industri teknologi tinggi
Lebih lanjut, Bhima mengatakan Indonesia juga perlu mengambil peran dalam rantai industri teknologi tinggi (high-tech), bukan hanya menjadi pengguna teknologi. “Indonesia juga harus bisa mengisi AI-nya, masuk ke sektor high-tech, misalnya jadi software engineer di belakang AI, kemudian memanfaatkan AI untuk menciptakan model-model bisnis baru dan entrepreneurship yang baru,” ujarnya. Bhima mengungkapkan upaya-upaya tersebut membutuhkan dukungan kebijakan yang kuat, mulai dari kebijakan fiskal, perbankan, hingga moneter, agar penciptaan lapangan kerja baru dapat berjalan optimal.
Tonton: Iran Lawan Intervensi AS, China Dukung “Kalau saya melihat, memang ada pekerjaan yang digantikan sejak munculnya internet, tapi juga ada munculnya pekerjaan-pekerjaan baru. Harapannya surplus pekerjaan baru di Indonesia.
Kalau enggak, kejadiannya bisa sama seperti startup-startup yang backbone SDM-nya banyak direbut Singapura dan India, sementara kita hanya jadi konsumen,” pungkasnya. Artikel ini sudah tayang di Kompas.com berjudul
"Ekonom Ungkap 10 Pekerjaan yang Berisiko Digantikan AI di 2026, Apa Saja?" Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News