10 Tahun lagi, rumah hanya untuk orang berduit



JAKARTA. Lahan yang semakin terbatas di kota-kota besar, khususnya DKI Jakarta, memaksa para pengembang untuk membangun hunian secara vertikal. Pembangunan rumah tapak (landed house) pun semakin ditinggalkan.

Seiring berjalannya waktu, Managing Director PT Modernland Tbk, Andy Kusuma Natael menilai, akan terjadi anomali di tahun-tahun mendatang, yaitu hanya orang-orang berduit saja yang mampu beli dan bisa tinggal di rumah tapak.

"Dulu, orang yang punya apartemen dibilang orang kaya. Tapi, 5-10 tahun lagi akan terjadi anomali, orang yang tinggal di rumah di Jakarta, berarti orang kaya," ujar Andy di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Jumat (20/2/2015).


Andi menuturkan, beberapa tahun terakhir, hingga 2015, pembangunan apartemen semakin gencar dilakukan. Karena lahan di Jakarta sudah langka dengan harga yang kian melambung tingi. Alhasil, pengembang pun menyasar lokasi-lokasi di pinggiran.

"Di Bodetabek saja sudah susah sekarang. Maka jadi semakin ke pinggir lagi," kata Andy.

Rumah-rumah di Jakarta, lanjut dia, akan jarang ditemui, seiring banyaknya apartemen yang dibangun.

Ukuran mengecil

Andy menambahkan, jangankan perumahan, membangun apartemen dengan harga terjangkau saja di Jakarta semakin tidak memungkinkan bagi pengembang karena harga lahan selangit. Apalagi bagi konsumen berkantong pas-pasan untuk membelinya? 

Menurut data Colliers International Indonesia, harga apartemen terus melonjak selama tiga tahun terakhir. Kenaikan dari tahun 2011 ke 2012 tercatat 11,9%, tahun 2012 ke 2013 sebesar 21,20%, dan tahun 2013 ke 2014 sebesar 16,90%. 

Ada pun harga rerata apartemen sudah mencapai kisaran Rp 27,7 juta per meter persegi. Dengan rincian sebagai berikut, untuk apartemen di area non-premium pada tahun ini sudah menembus angka Rp 20,76 juta per meter persegi tumbuh 13% dibanding 2013 sekitar Rp 18,3 juta per meter persegi.

Harga rerata apartemen di Jakarta Selatan mencapai Rp 32 juta per meter persegi atau melonjak 24% dari tahun 2013 yang bertengger di angka Rp 25,9 juta per meter persedgi. Sedangkan harga rerata apartemen di area CBD sudah nangkring di angka Rp 43,5 juta per meter persegi, meroket 20% ketimbang tahun lalu yang berada pada kisaran Rp 36,2 juta per meter persegi.

Untuk menyiasatinya, para pengembang pun mengurangi ukuran unit-unit apartemen dan rumah yang mereka bangun. Hal yang justru dinilai tidak wajar oleh Andy. Dia pun kemudian menyarankan kepada pengembang untuk membangun properti dengan ukuran yang sesuai kebutuhan. Kepada konsumen pun disarankan untuk mencari rumah yang ideal. 

"Bangun apartemen, sebaiknya ukurannya tetap wajar untuk ditinggali. Tinggalkan ukuran yang kecil-kecil. Contohnya apartemen di koridor TB Simatupang. Unit luaslah yang paling dicari," jelas Andy.

Sementara apartemen atau rumah tipe 36 dengan dua kamar, akan dirasa semakin sempit seiring meningkatnya kebutuhan dan proses pertumbuhan keluarga. Maka bisa dipastikan rumah dan apartemen tersebut tidak nyaman untuk ditinggali.

"Menurut saya idealnya dua kamar tidur itu luas minimalnya 50 meter persegi. Jangan lupa, untuk dapurnya juga harus memadai. Jangan ikuti apartemen model barat yang dapurnya sempit," tandas dia. (Arimbi Ramadhiani)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Sanny Cicilia