11 Proyek Hilirisasi Meluncur, IWIP Masuk Fase Baru Pengembangan Ekosistem Industri



KONTAN.CO.ID - JaKARTA. Indonesia Weda Bay Industrial Park atau IWIP memasuki fase baru pengembangan ekosistem industri setelah Presiden Prabowo Subianto meluncurkan 11 proyek hilirisasi senilai total Rp 180 triliun.

Momentum tersebut menandai perluasan mata rantai industri di Kawasan Industri Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara. 

Mulai pengolahan dan pemurnian nikel hingga material baterai, baterai kendaraan listrik, aluminium, truk dan alat berat berbasis listrik, serta industri pendukung energi terbarukan.  


Baca Juga: IWIP Terapkan Teknologi dan Prosedur Terukur Kelola FABA

Sebelas proyek hilirisasi yang meluncur di Kawasan Industri Weda Bay terdiri dari komersialisasi 4 proyek industri dan groundbreaking 7 proyek industri baru. 

Dari 11 proyek tersebut, empat proyek memasuki tahap komersialisasi yang ditandai dengan ekspor perdana adalah: 

  1. PT Blue Sparking Energy yang berfokus pada material baterai kendaraan listrik (EV)
  2. PT REPT Battero Energy Indonesia yang memproduksi baterai EV
  3. PT Pioneer Aluminium Industries yang produksi aluminium elektrolitik
  4. PT XCMG Indonesia Manufacturing yang memproduksi alat berat berbasis listrik
Sementara tujuh proyek lainnya mulai memasuki tahap pembangunan: 

  1. PT Guang Ching Nickel Cobalt memproduksi material baterai
  2. PT Inno Prima Material memproduksi separator baterai
  3. PT Tinci Materials Indonesia yang memproduksi elektrolit baterai
  4. PT Weda Bay Aluminium membangun smelter aluminium
  5. PT Bintang Karya Aluminium akan mengembangkan fasilitas peleburan aluminium
  6. PT Foton Guangqing Motor Indonesia yang berfokus pada produksi truk listrik (electric dump truck)
  7. PT Flatsolar Energy Indonesia yang memproduksi kaca fotovoltaik sebagai komponen utama panel surya untuk mendukung pemanfaatan energi surya. 
Baca Juga: Basis Manufaktur Energi Baru XCMG Beroperasi di IWIP, Siap Pasok Alat Berat Listrik

Presiden Direktur IWIP Kevin He, mengatakan perkembangan tersebut menunjukkan semakin luasnya keterhubungan mata rantai industri di Kawasan Industri Weda Bay, dari pengolahan bahan baku hingga manufaktur produk bernilai tambah. 

"IWIP telah memasuki fase baru. Dari pengolahan dan pemurnian nikel, kini semakin banyak mata rantai industri hadir dan terhubung di dalam kawasan," katanya dalam keterangan tertulis, Jumat (9/10).

Bagi IWIP, perkembangan ini menunjukkan, hilirisasi tidak berhenti pada pengolahan bahan baku, tetapi harus berlanjut menjadi industri manufaktur dengan teknologi, investasi, lapangan kerja, dan nilai tambah yang semakin besar di Indonesia. 

Perluasan industri tersebut juga membawa dampak ekonomi yang lebih luas melalui penyerapan tenaga kerja, peningkatan kebutuhan barang dan jasa, serta pertumbuhan kesempatan usaha di sekitar kawasan. 

Saat ini, lebih dari 100.000 karyawan telah menjadi bagian dari ekosistem Kawasan Industri Weda Bay, sementara 11 proyek yang meluncur diproyeksikan membuka hingga 13.950 lapangan kerja. 

Baca Juga: IWIP Gandeng ITB Perkuat Ekosistem SDM Industri Nikel

"Perkembangan kawasan industri Weda Bay bukan hanya tentang bertambahnya fasilitas industri, tetapi juga tentang semakin banyaknya aktivitas produksi, kesempatan kerja, dan peluang usaha yang dapat tumbuh di Indonesia," ujar Kevin.

IWIP ingin keberadaan industri di kawasan ini memberikan manfaat yang semakin luas, termasuk terbukanya ruang bagi peningkatan investasi, produksi, penyerapan tenaga kerja, dan penciptaan nilai tambah. 

Kevin menambahkan, keberlanjutan pengembangan industri di Kawasan Industri Weda Bay membutuhkan dukungan Pemerintah Indonesia serta kolaborasi antara dunia usaha, tenaga kerja, dan berbagai pemangku kepentingan.

"Kami akan terus melanjutkan pengembangan industri, memperkuat sumber daya manusia, dan memperluas manfaat ekonomi Kawasan Industri Weda Bay bagi Indonesia," tegas Kevin. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News