18 Saham Indonesia Tersingkir dari Indeks MSCI, Tekanan Arus Keluar Asing Meningkat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pengumuman terbaru dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menghapus sejumlah saham Indonesia berpotensi menimbulkan arus keluar (outflow) dana asing.

Sebagaimana diketahui, terdapat enam saham Indonesia yang dihapus dari MSCI Global Standard Indexes, yaitu AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT. Di sisi lain, AMRT masih dimasukan ke dalam MSCI Small Cap Indexes.

Di samping itu, terdapat 13 saham yang terlempar dari MSCI Small Cap Indexes. Di antaranya adalah ANTM, AALI, BANK, BSDE, DSNG, SIDO, MIDI, MIKA, MSIN, TKIM, APIC, SSMS, dan TAPG.


Rebalancing ini terjadi di tengah masih berlangsungnya pembekuan status pasar saham Indonesia oleh MSCI, sehingga tidak ada saham baru yang ditambahkan atau naik kelas pada indeks global tersebut.

Baca Juga: IHSG Anjlok 1,4% ke 6.762,1 Hari Ini (13/5), Top Losers LQ45: CUAN, AMMN, AMRT

Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menyampaikan, tersisihnya sejumlah saham tadi membuat bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Asia diperkirakan turun sekitar 10 basis poin dari 0,9% menjadi 0,8%.

Berdasarkan perhitungan awal, perubahan ini berpotensi memicu arus keluar dana asing sekitar US$ 1 miliar--US$ 1,7 miliar dari pasar saham Indonesia.

Efek dari keputusan MSCI tidak hanya terbatas pada saham-saham yang dikeluarkan dari indeks global tersebut, terutama sektor energi dan bahan baku seperti AMMN, BREN, dan TPIA.

Penurunan bobot Indonesia secara umum juga memaksa dana pasif global untuk mengurangi eksposur mereka secara seragam dan merata terhadap saham-saham acuan berkapitalisasi besar, termasuk sektor perbankan.

"Apalagi, kami sudah melihat munculnya biaya provisi lebih tinggi pada kuartal I-2026, terutama saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) serta peningkatan non performing loan (NPL) di segmen pembiayaan otomotif bank tersebut," tutur Harry dalam keterangannya, Rabu (13/5/2026).

 
SIDO Chart by TradingView

Dari sisi makroekonomi, pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus level Rp 17.500 per dolar AS diprediksi akan memperbesar dorongan bagi investor asing untuk keluar dari pasar Indonesia. Alhasil, tekanan terhadap arus modal dan pasar keuangan domestik berpotensi semakin meningkat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News