2 Saham Resmi Masuk Indeks LQ45 Mulai Hari Ini (3/8), Cek Rekomendasi Analis
Senin, 03 Agustus 2026 06:07 WIB
Oleh: Adi Wikanto, Dimas Andi | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dua saham resmi menjadi anggota saham blue chip di Indeks LQ45 Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai perdagangan hari ini, Senin 3 Agustus 2026. Apakah dua saham baru di indeks LQ45 ini memiliki prospek investasi yang bagus? Saham blue chip adalah saham lapis satu yang telah berpengalaman di pasar modal dan memiliki fundamental yang bagus. Saham blue chip biasanya memiliki likuiditas tinggi dan market capital besar, mencapai puluhan atau ratusan triliun rupiah. Saham blue chip biasanya menjadi anggota indeks mayor di Bursa Efek Indonesia (BEI), seperti Indeks LQ45.
BEI merombak komposisi Indeks LQ45 yang berlaku efektif mulai 3 Agustus 2026 hingga 30 Oktober 2026. PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) resmi dikeluarkan dari indeks saham unggulan tersebut dan digantikan oleh PT Indika Energy Tbk (INDY) serta PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL). Berdasarkan hasil evaluasi berkala BEI yang diumumkan pada 27 Juli 2026, saham INDY masuk ke dalam Indeks LQ45 dengan bobot 0,25%, sedangkan NCKL memperoleh bobot sebesar 0,46%. INDY dan NCKL dipilih karena memiliki likuiditas perdagangan dan kapitalisasi pasar yang memenuhi kriteria BEI. Kehadiran kedua saham tersebut juga memperluas eksposur sektor dalam LQ45 yang selama ini masih didominasi oleh saham-saham perbankan berkapitalisasi besar. Baca Juga: Permintaan Emas di Indonesia Meroket, Bagaimana Prospek hingga Akhir Tahun? Saham LQ45 Berikut daftar saham di Indeks LQ45 periode 3 Agustus-30 Oktober 2026: AADI PT Adaro Andalan Indonesia Tbk
ADMR PT Adaro Minerals Indonesia Tbk
ADRO PT Adaro Energy Tbk
AKRA PT AKR Corporindo Tbk
AMMN PT Amman Mineral Internasional Tbk
AMRT PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk
ANTM PT Aneka Tambang Tbk
ASII PT Astra International Tbk
BBCA PT Bank Central Asia Tbk
BBNI PT Bank Negara Indonesia Tbk
BBRI PT Bank Rakyat Indonesia Tbk
BBTN PT Bank Tabungan Negara Tbk
BMRI PT Bank Mandiri Tbk
BRPT PT Barito Pacific Tbk
BUMI PT Bumi Resources Tbk
CPIN PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk
CUAN PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk
DEWA PT Darma Henwa Tbk
EMTK PT Elang Mahkota Teknologi Tbk
ESSA PT ESSA Industries Indonesia Tbk
EXCL PT XL Axiata Tbk
GOTO PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk
HRTA PT Hartadinata Abadi Tbk
ICBP PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk
INCO PT Vale Indonesia Tbk
INDF PT Indofood Sukses Makmur Tbk
INDY PT Indika Energy Tbk
INKP PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk
ISAT PT Indosat Tbk
ITMG PT Indo Tambangraya Megah Tbk
JPFA PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk
KLBF PT Kalbe Farma Tbk
MAPI PT Mitra Adiperkasa Tbk
MBMA PT Merdeka Battery Materials Tbk
MDKA PT Merdeka Copper Gold Tbk
MEDC PT Medco Energi Internasional Tbk
NCKL. PT Trimegah Bangun Persada Tbk
PGAS PT Perusahaan Gas Negara Tbk
PGEO PT Pertamina Geothermal Energy Tbk
PTBA PT Bukit Asam Tbk
SCMA PT Surya Citra Media Tbk
TLKM PT Telkom Indonesia Tbk
UNTR PT United Tractors Tbk
UNVR PT Unilever Indonesia Tbk
WIFI PT Solusi Sinergi Digital Tbk
Tonton: Mulai Hari Ini Jualan Online Bisa Dipotong Pajak Rekomendasi Saham LQ45 Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, mengatakan prospek kinerja INDY pada semester II-2026 masih cukup konstruktif. Menurutnya, bisnis batu bara termal masih menjadi mesin penghasil arus kas yang solid di tengah tingginya harga komoditas akibat war premium. Di sisi lain, diversifikasi bisnis Indika Energy ke sektor kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan energi terbarukan menjadi katalis jangka panjang yang berpotensi memberikan rerating terhadap valuasi saham perseroan. "Segmen batu bara masih menjadi penopang utama arus kas, sementara diversifikasi ke EV dan renewable menjadi long-dated rerating catalyst," ujar Wafi kepada Kontan, Selasa (28/7/2026). Meski demikian, Wafi mengingatkan bahwa INDY merupakan saham dengan karakteristik high beta sehingga pergerakannya cenderung lebih volatil dibandingkan pasar. Apabila harga batu bara mulai mengalami normalisasi atau war premium mereda, potensi koreksi harga saham INDY juga bisa terjadi secara tajam. Sementara itu, prospek NCKL dinilai lebih menantang. Wafi melihat masuknya saham NCKL ke LQ45 lebih banyak didorong oleh lonjakan likuiditas perdagangan di pasar ritel dibandingkan perbaikan fundamental yang signifikan. Menurutnya, industri nikel global masih menghadapi tekanan oversupply struktural yang belum sepenuhnya teratasi. Kondisi tersebut tercermin dari harga nikel yang masih berada di kisaran US$ 16.000 per ton. "NCKL merupakan nama yang paling challenging di antara pendatang baru LQ45. Likuiditasnya meningkat signifikan, tetapi tekanan oversupply nikel masih menjadi tantangan," katanya. Meski PT Trimegah Bangun Persada Tbk memiliki fasilitas pengolahan nikel berteknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) yang mampu menghasilkan battery-grade nickel, perlambatan permintaan kendaraan listrik global membuat premium valuasi yang diharapkan belum sepenuhnya terealisasi. "HPAL battery-grade nickel memang menjadi pembeda, tetapi pertumbuhan permintaan EV global yang lebih lambat dari ekspektasi mengurangi urgensi premium tersebut," imbuh Wafi.
Dari sisi rekomendasi investasi, Wafi lebih menjagokan saham INDY dibandingkan NCKL untuk dicermati investor pada semester II-2026. Adapun target harga saham INDY masih dalam tahap peninjauan (under review). Dengan kombinasi arus kas yang masih kuat dari bisnis batu bara serta diversifikasi ke sektor energi masa depan, INDY dinilai memiliki katalis pertumbuhan yang lebih jelas. Sebaliknya, investor yang mencermati NCKL perlu mewaspadai tekanan dari kondisi fundamental industri nikel global yang masih menghadapi tantangan oversupply. Masuknya kedua saham tersebut ke dalam Indeks LQ45 memang berpotensi meningkatkan likuiditas perdagangan. Namun, investor tetap perlu mempertimbangkan faktor fundamental dan prospek bisnis masing-masing emiten sebelum mengambil keputusan investasi.