3 bank besar memacu bisnis trustee



KONTAN.CO.ID - Sejumlah bank rupanya mendapatkan angin segar lewat momentum kinerja pasar modal yang tengah membaik. Tidak hanya menjaring dana, bank kini tengah mendorong bisnis jasa penitipan dan pengelolaan dana (trustee) guna memecut pertumbuhan pendapatan berdasarkan komisi atau fee based income (FBI).

Meski dinilai kecil, beberapa bank yang memiliki layanan trustee menyebut prospek bisnis ini sangat potensial di masa mendatang. Hanya saja, saat ini baru tiga bank lokal yang memiliki layanan trustee di Indonesia, antara lain PT Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (persero) Tbk dan PT Bank Mandiri (persero) Tbk.

Hexana Trisasongko, Senior Executive Vice President Global Treasury BRI mengungkapkan saat ini bisnis penitipan dana di BRI masih didorong oleh sektor minyak dan gas (migas). Apalagi, setelah SKK Migas menyatakan terdapat tujuh lapangan migas yang akan mulai berproduksi.


Bukan hanya migas, sektor infrastruktur pun juga mendorong volume penitipan dana yang diparkir di perbankan, meski tidak seluruhnya menggunakan layanan trustee. "Di sektor infrastruktur ada 35 proyek infrastruktur senilai US$ 30,5 miliar," kata Hexana kepada KONTAN, Senin (28/8).

Meski jumlah transaksi luar negeri cukup besar, bank nomor wahid di Indonesia ini mengatakan nilai dana yang dititpkan di layanan trustee perbankan rupanya masih kecil.

Sebagai gambaran, merujuk total volume ekspor dan impor Indonesia di akhir 2016 mencapai US$ 144 miliar dan impor sebesar US$ 131 miliar. Hexana menyebut total kelolaan trustee di Indonesia tiga bank plat merah (BRI, BNI dan Mandiri) baru sebesar US$ 11 miliar atau hanya 8% dari total kegiatan ekspor Indonesia pada tahun 2016.

"Masih besar volume perdagangan internasional yang belum tersentuh oleh layanan trustee," tambahnya. Kendati belum dapat merinci secara detil total dana trustee BRI, Hexana menyebut sebanyak 48% segmen bisnis dikelola dari sektor gas, 23% dari infrastruktur dan energi 11%.

Senada, Direktur Tresuri dan Internasional BNI Panji Irawan memang menyebut bisnis trustee di Indonesia masih terbilang mini, tercermin dari jumlah penyedia layanannya. Serupa dengan bisnis trustee, bisnis kustodian milik BNI juga masih terbilang rendah. Tercatat sampai dengan semester I 2017 peningkatan perolehan fee based income dari bisnis tersebut masih mengalami peningkatan sebesar 48% secara tahunan atau year on year (yoy).

Sementara dari total dana kelolaan atau asset under management (AUM) tercatat mencapai Rp 194,3 triliun atau naik sekitar 18% dibanding periode yang sama tahun lalu Rp 162,54 triliun. Panji menyebutkan rata-rata pertumbuhan FBI dari bisnis ini sejak tahun 2011 hingga akhir 2016 sekitar 9,7%.

"Tahun ini kami memperkirakan untuk bisnis ini FBI sekitar Rp 60 miliar," kata Panji saat ditemui di Jakarta, pekan lalu. Adapun, untuk dana kelolaan bank berlogo 46 ini memproyeksi mampu menghimpun sebesar Rp 205 triliun pada akhir tahun 2017. Jika memakai asumsi pencapaian akhir tahun lalu, artinya BNI membidik kenaikan sekitar 14,29% untuk total dana kelolaan tahun ini.

Adapun salah satu strategi yang akan digodok oleh bank bersandi emiten BBNI ini antara lain fokus pemberdayaan existing nasabah serta pencetakan nasabah baru. "Tentunya dengan sinergi dengan anak usaha serta cabang di luar negeri (internasional) untuk meningkatan layanan nasabah dan kelengkapan produk," tambah Panji.

Sementara saat ini nasabah yang menjadi andalan BNI di bisnis ini antara lain ada di sektor minyak dan gas (migas). Kendati positif memasang target, Panji menyebut sampai saat ini permintaan masih cenderung tipis dari bisnis ini.

"Bisnis ini booming ketika ada tax amnesty, setelah itu demand belum muncul. Terbilang unik bisnis ini karena hanya sedikit dan memang belum populer di Indonesia," tambahnya.

Ke depan bank milik pemerintah ini akan memperluas jaringan nasabah dengan tidak hanya fokus ke sektor migas saja. BNI pun tengah membidik calon nasabah dari sektor infrastruktur, advisory dan firma hukum yang aktif menggelar transaksi merger dan akusisi maupun penerbitan obligasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News