KONTAN.CO.ID – MADINAH. Tidak banyak orang yang bisa mendapatkan kesempatan berhaji hingga puluhan kali. Lebih sedikit lagi yang mampu menyebut angka itu dengan tenang, seolah sedang menceritakan perjalanan biasa. Namun itulah yang dilakukan KH Dr (HC) Shodiq Hamzah saat ditemui di Madinah. “Ini haji saya yang 47,” ujar Pengasuh Ponpes Asshodiqiah Semarang itu saat berbincang dengan wartawan Media Center Haji (MCH) PPIH Arab Saudi 2026 di Madinah, Senin (4/5/2026). Kalimat singkat itu sontak mengundang takjub. Di usia 72 tahun, kyai kharismatik asal Semarang tersebut telah 47 kali menunaikan ibadah haji. Artinya, hanya 3 kali lagi, genap setengah abad ia bolak-balik menapaki perjalanan spiritual menuju Baitullah.
Baca Juga: Perjuangan Seorang Ayah: Daftarkan Anak Sejak Balita, Kini Haji di Usia Muda Kesempatan berbincang menjelang salat dzuhur bersama Ketua Forum Komunikasi Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Jawa Tengah itu pun menjadi momen langka. Sebab, tak banyak orang memiliki pengalaman menunaikan haji sebanyak itu. Bagi KH Shodiq, setiap perjalanan ke Tanah Suci selalu menyimpan kisah yang berbeda. “Setiap kali naik haji, pasti ada ceritanya sendiri-sendiri, tidak akan sama,” tuturnya. Puluhan kali berhaji membuatnya menjadi saksi berbagai peristiwa besar dalam sejarah penyelenggaraan ibadah haji. Salah satu yang masih membekas dalam ingatannya adalah tragedi jatuhnya crane di Masjidil Haram pada 11 September 2015. Saat itu, cuaca ekstrem merobohkan alat berat raksasa ke area masjid, menewaskan lebih dari seratus jemaah dan melukai ratusan lainnya menjelang puncak musim haji. Ia juga mengingat tragedi terowongan Mina pada 2 Juli 1990 atau 1410 Hijriah. Peristiwa memilukan di terowongan Al-Muaisim itu menyebabkan 1.426 jemaah meninggal dunia akibat berdesak-desakan dan kehabisan oksigen. Ratusan korban di antaranya berasal dari Indonesia. Pengalaman menyaksikan berbagai dinamika itulah yang membuat ulama ahli tafsir, hadis, dan fikih ini selalu menekankan pentingnya kesabaran bagi para jemaah.
Baca Juga: Kemenhaj Imbau Jemaah Haji Jaga Kesehatan, Suhu Arab Saudi Capai 40 Derajat Menurutnya, ibadah haji bukan hanya perjalanan fisik, melainkan juga ujian kesanggupan hati. Pesan itu ia sampaikan pula terkait antusiasme jemaah Indonesia dalam mengejar arbain, yakni salat berjamaah 40 waktu di Masjid Nabawi. Ia mengingatkan agar jemaah tidak memaksakan diri hingga mengorbankan kondisi kesehatan. Menurut KH Shodiq, esensi arbain bukan terletak pada kewajiban harus selalu bermakmum kepada imam Masjid Nabawi di awal waktu.
Yang terpenting, kata dia, salat tetap dilaksanakan di Masjid Nabawi, baik secara berjamaah bersama rombongan maupun secara sendiri. “Intinya kita salat di Masjid Nabawi, baik itu salat sendiri maupun berjamaah dengan teman, itu sudah masuk hitungan salat di Masjid Nabawi, itu juga dihitung dalam arbain,” jelasnya. Karena itu, ia mengimbau jemaah yang kondisi fisiknya kurang fit agar tidak memaksakan diri. Baginya, menjaga kesehatan selama di Tanah Suci sama pentingnya dengan mengejar keutamaan ibadah. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News