KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten tercatat mengambil fasilitas kredit dalam jumlah besar dari perbankan pada awal semester kedua tahun 2026. Deretan emiten tersebut antara lain PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET), PT Kedoya Adyaraya Tbk (RSGK) dan PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI). Berdasarkan catatan Kontan, BREN mengumumkan adanya perolehan pinjaman yang diterima oleh anak usahanya, Star Energy Group Holdings Pte. Ltd. (SEGHPL). Pinjaman ini diperoleh dari Bangkok Bank Public Company Limited melalui Perjanjian Fasilitas untuk pinjaman berjangka dengan nilai maksimum mencapai US$ 300 juta. Perjanjian tersebut diteken pada 17 Juli 2026. Selanjutnya, PGEO memperoleh fasilitas non-cash loan dengan plafon hingga US$ 75 juta. Fasilitas ini diberikan oleh PT Bank Mizuho Indonesia tanpa memerlukan agunan alias secara clean basis.
Emiten dari grup Salim, DNET, juga tak ketinggalan mengumumkan penandatanganan perjanjian fasilitas kredit senilai Rp 2 triliun. Fasilitas ini diperoleh dari PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN).
Baca Juga: Sarana Meditama (SAME) Dapatkan Fasilitas Kredit Rp 4 Triliun RSGK dan TCPI turut mengantongi fasilitas kredit dari perbankan, masing-masing senilai Rp 4 triliun dan Rp 114,2 miliar. Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, mengatakan penambahan fasilitas kredit merupakan langkah yang wajar selama digunakan untuk ekspansi yang bersifat produktif dan mampu menghasilkan return di atas biaya pinjaman. Walaupun suku bunga masih relatif tinggi, perusahaan umumnya akan tetap melakukan ekspansi apabila melihat prospek permintaan dan cash flow ke depan cukup kuat. "Jadi yang perlu dicermati bukan hanya besarnya utang, tetapi tujuan penggunaannya, tenor pinjaman, serta kemampuan menghasilkan arus kas untuk membayar kewajiban tersebut," kata Elandry kepada Kontan, Senin (27/7/2026). Dalam kondisi valuasi pasar yang belum optimal, banyak emiten memilih pinjaman bank karena lebih cepat, fleksibel, dan tidak menimbulkan dilusi seperti right issue atau private placement. Sementara bagi emiten dengan fundamental kuat, bunga kredit yang diperoleh juga umumnya lebih kompetitif. Di sisi lain, tidak sedikit emiten yang memilih menerbitkan obligasi korporasi sebagai alternatif pendanaan, terutama untuk memperoleh tenor yang lebih panjang dan mendiversifikasi sumber pendanaan. Jadi, perusahaan akan memilih instrumen yang paling efisien sesuai kebutuhan proyek dan struktur modalnya. Elandry juga bilang secara umum, kelima emiten tersebut masih memiliki profil yang cukup baik untuk memenuhi kewajiban utangnya, meski karakteristiknya berbeda. BREN dan PGEO didukung bisnis utilitas energi yang cenderung memiliki pendapatan berulang (recurring revenue) sehingga cash flow relatif stabil.
Baca Juga: Emiten Mulai Tarik Fasilitas Kredit dari Bank, Sinyal Positif bagi Investor? DNET memiliki neraca yang solid dan eksposur pada bisnis digital yang masih bertumbuh. Sementara RSGK dan TCPI perlu lebih dicermati karena skala bisnisnya lebih kecil, sehingga keberhasilan ekspansi akan menjadi faktor penting dalam menjaga kemampuan pembayaran utang. Selama rasio leverage tetap terjaga dan ekspansi berjalan sesuai rencana, risiko gagal bayar masih relatif rendah. Dari perspektif pasar, penambahan fasilitas kredit pada dasarnya bukan sentimen positif atau negatif secara otomatis. Investor akan lebih melihat apakah dana tersebut benar-benar mampu meningkatkan kapasitas usaha, pendapatan, dan laba dalam beberapa tahun ke depan. Jika kredit digunakan untuk proyek yang memberikan nilai tambah dan memperkuat pertumbuhan, maka market sentiment berpotensi positif. Sebaliknya, jika hanya meningkatkan leverage tanpa diikuti pertumbuhan kinerja, respons pasar cenderung terbatas. Secara terpisah, Analis Kiwoom Sekuritas Kevin Yudha Pratama menyampaikan penambahan fasilitas kredit oleh BREN, PGEO, DNET, RSGK, dan TCPI masih cukup wajar untuk mendukung ekspansi dan kebutuhan operasional, meskipun BI-Rate berada di level 5,75%. "Yang penting, dana tersebut digunakan secara produktif dan tetap sesuai dengan kemampuan arus kas masing-masing emiten," ucap Kevin. BREN dan TCPI perlu dilihat dari seberapa cepat ekspansinya bisa menghasilkan arus kas, sementara fasilitas PGEO tidak seluruhnya berupa pinjaman tunai sehingga dampaknya ke beban utang bisa lebih terbatas.
Baca Juga: Jababeka (KIJA) Dapat Fasilitas Kredit dari Bank Mandiri Senilai US$ 185,85 Juta DNET perlu dicermati karena tenornya pendek dan bunganya mengambang, sedangkan fasilitas yang melibatkan RSGK merupakan pembiayaan bersama dalam grup sehingga tidak seluruh nilainya langsung menjadi utang RSGK. Secara keseluruhan, dampaknya akan bergantung pada besaran dana yang benar-benar ditarik, biaya bunga, tenor, dan hasil dari ekspansi tersebut. "Penambahan fasilitas kredit pada BREN, PGEO, DNET, RSGK, dan TCPI dapat memberi sinyal bahwa perusahaan memiliki keinginan untuk memperluas usaha dan memperkuat kebutuhan pendanaan," tambah Kevin.
Hal ini bisa menjadi sentimen positif apabila dana tersebut digunakan secara produktif dan mampu mendorong pertumbuhan pendapatan serta laba. Namun, dampaknya terhadap kinerja saham tetap akan bergantung pada kemampuan masing-masing emiten dalam mengelola utang, menjaga arus kas, dan merealisasikan ekspansi Kevin merekomendasikan saham BREN dan PGEO secara teknikal, dimana untuk masing-masing saham, dapat dilakukan aksi trading Buy, dengan target harga Rp 4.250-Rp 4.460 untuk BREN, dan target harga Rp 1.100-Rp 1.130 per saham bagi PGEO.
Baca Juga: Medco Energi (MEDC) Raih Fasilitas Kredit Rp 800 Miliar dari Bank ICBC Indonesia Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News