KONTAN.CO.ID - Kesenjangan finansial antara kelas menengah dan kelompok kaya sering kali dianggap sebagai hasil dari faktor keberuntungan, warisan, atau tingkat kecerdasan semata. Namun, jika ditelaah lebih dalam, perbedaan hasil finansial yang signifikan justru lahir dari akumulasi kebiasaan sehari-hari yang dilakukan selama berdekade-dekade. Melansir laman New Trader U, perbedaan ini terlihat jelas dalam cara seseorang membelanjakan uang, mencari pendapatan, hingga cara mereka memandang identitas finansialnya.
1. Konsumsi vs Investasi
Salah satu perbedaan paling mendasar terletak pada perlakuan terhadap kelebihan pendapatan. Kelas menengah cenderung memandang kenaikan penghasilan sebagai lampu hijau untuk meningkatkan gaya hidup atau yang dikenal dengan istilah lifestyle inflation. Ketika gaji naik, pengeluaran bulanan biasanya ikut merangkak naik untuk mencakup cicilan mobil yang lebih baik, rumah yang lebih besar, atau liburan yang lebih mewah. Sebaliknya, kelompok kaya membalik pola tersebut. Mereka memprioritaskan investasi dari kelebihan pendapatan terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk meningkatkan gaya hidup. Uang dipandang sebagai alat untuk mengakuisisi aset yang menghasilkan arus kas (cash flow) atau aset yang nilainya meningkat di masa depan. Dengan pola ini, imbal hasil dari investasi itulah yang nantinya akan mendanai kemewahan mereka, bukan dari pendapatan aktif.2. Ketergantungan Pendapatan vs Diversifikasi
Bagi kelas menengah, keamanan karier sering kali dianggap sebagai fondasi utama stabilitas keuangan. Mereka umumnya bergantung pada satu sumber gaji tunggal. Meski terlihat stabil, kondisi ini menciptakan kerentanan yang tinggi. Jika sumber pendapatan utama tersebut hilang akibat efisiensi perusahaan atau gangguan kesehatan, struktur finansial mereka berisiko runtuh secara instan. Dikutip dari New Trader U, orang kaya cenderung membangun beberapa sumber pendapatan sekaligus. Mereka melakukan diversifikasi melalui berbagai instrumen, seperti:- Investasi pada saham yang membagikan dividen.
- Kepemilikan properti sewaan (real estate).
- Membangun atau memiliki saham di bisnis produktif.
- Pengembangan kekayaan intelektual yang menghasilkan royalti.
3. Fokus Konsumsi vs Fokus Kepemilikan
Kelas menengah sering kali memprioritaskan pembelian barang-barang yang mengalami penyusutan nilai (depreciating assets). Gadget terbaru, pakaian bermerek, atau kendaraan mewah sering dibeli untuk mendapatkan kepuasan instan atau sebagai simbol kesuksesan sosial. Namun, barang-barang ini merupakan liabilitas yang membutuhkan biaya perawatan dan nilainya akan terus turun seiring waktu. Di sisi lain, orang kaya memiliki fokus kuat pada kepemilikan saham atau ekuitas. Mereka lebih tertarik memiliki bagian dari bisnis yang produktif atau aset yang bekerja secara terus-menerus. Fokus pada kepemilikan ini memastikan bahwa uang mereka bekerja untuk mereka, bukan sebaliknya. Hasilnya, aset mereka terus terakumulasi sementara barang konsumsi kelas menengah terus mengalami depresiasi.4. Strategi Jangka Pendek vs Jangka Panjang
Perencanaan keuangan kelas menengah biasanya bersifat reaktif terhadap kebutuhan mendesak. Fokus utama mereka adalah bagaimana menutupi tagihan bulanan atau apakah mereka mampu mencicil suatu barang. Cakrawala waktu perencanaan mereka jarang melampaui satu atau dua tahun ke depan. Berbeda dengan itu, orang kaya memiliki strategi yang disusun dalam hitungan dekade. Menurut laporan tersebut, mereka mempertimbangkan aspek-aspek strategis seperti:- Optimalisasi pajak dalam jangka panjang untuk efisiensi modal.
- Efek bunga berkelanjutan (compounding effect) dari investasi yang dilakukan saat ini.
- Perencanaan warisan dan transfer kekayaan antargenerasi.