Dalam sepekan banyak peristiwa terjadi, banyak tokoh pembuat berita yang datang dan pergi. Mungkin saja ada peristiwa lama yang muncul dengan tokoh baru, bisa juga peristiwa baru dengan tokoh lama. Selama sepekan (21—25 Agustus 2017) telah terjadi berbagai kemungkinan. Inilah lima newsmakers yang membuat kita tidak bisa berpaling dari mereka selama sepekan. Fahri Hamzah, Wakil Ketua DPR RI Masih soal Panitia Khusus Hak Angket Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Fahri Hamzah mengusulkan agar pansus memanggil Presiden Joko Widodo dalam forum pansus. "Saya sendiri (mengusulkan) seharusnya Presiden dihadirkan," kata Fahri di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (23/8). Mengapa? "Apakah memang menurut presiden wajar ada lembaga yang bekerja, satu sisi presidennya ngomong ke mana-mana 'kita anti korupsi' tapi orang ditangkap ada setiap hari. Apa enggak ganjil di kepala presiden? Terus fungsi presiden dalam memberantas korupsi apa?" tambah Fahri. KPK, menurut Fahri, merupakan elemen yang bekerja di bawah presiden. Sementara presiden selama ini seolah hanya terdiam saat KPK melakukan penangkapan di sana sini. Padahal, presiden bertanggung jawab terhadap jalannya negara. Fahri menganggap tak boleh ada lembaga negara yang bekerja di luar kendali presiden. "Tidak boleh ada satu pun lembaga negara yang beroperasi di dalam tubuh pemerintahan kita, terutama yang ada di kamar eksekutif, yang tidak dalam kendali presiden," ucap Fahri.
Ryamizard Ryacudu, Menteri Pertahanan Perihal terbaliknya bendera Indonesia dalam buku panduan SEA Games ke-29 di Malaysia, Ryamizard Ryacudu meminta masyarakat tidak perlu membesar-besarkan. Pasalnya, kata Ryamizard, pihak Malaysia sudah meminta maaf kepada Presiden Joko Widodo. "Jangan dibesar-besarkan, sudah minta maaf dengan Presiden ya sudah lah, kita bersabar, jangan cari-cari musuh," ujar Ryamizard saat ditemui di Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, Selasa (22/8). Menurut Ryamizard, hal tersebut terjadi tanpa disengaja oleh pihak Malaysia untuk melecehkan kehormatan Bendera Merah Putih. "Pasti dia enggak sengaja," ucap Ryamizard.
Jusuf Kalla, Wakil Presiden Jusuf Kalla menjadi korban hoax di media sosial. Ia diisukan tengah sakit.Padahal, Kalla menegaskan bahwa kondisinya sehat dan beraktivitas seperti biasa selama beberapa hari terakhir. Kalla pun mengingatkan soal bahaya hoax ini. "Perang bisa terjadi karena hoax. Saudi-Qatar kan karena hoax. Bayangkan bahayanya," kata Kalla di Kantor Wapres, Jakarta, Jumat (25/8). Kalla mengatakan, hoax yang dialaminya ini masih ringan karena menyangkut masalah pribadi, bukan masalah negara. Kalla menyebut pihak yang menyebarkan kabar dirinya sakit cukup pintar. Sebab, kabar itu disertai foto Kalla di pesawat Ambulans. Padahal, itu foto tahun 2015 lalu.
Eggi Sudjana, Pengacara Ramainya berita soal Saracen, grup penyebar hoax berdasarkan pesanan, menyerempet nama Eggi Sudjana. Pasalnya, nama Eggi tercantum dalam struktur pengurus Saracen. Ia duduk sebagai Dewan Penasihat. Namun, Eggi membantah soal itu. "Itu fitnah buat saya. Saya justru bertanya kenapa ada nama saya di situ?" ujar Eggi kepada Kompas.com, Kamis (24/8). Eggi meminta pihak kepolisian menyelidiki kenapa namanya bisa dicatut dalam kepengurusan Saracen. Sementara itu, Kepala Bagian Mitra Divisi Humas Polro Kombes Pol Awi Setiyono meminta pihak-pihak yang disebutkan namanya dalam kepengurusan Saracen untuk mengklarifikasi. "Kalau memang tidak benar, klarifikasi saja," kata Awi. Sebab, belum dipastikan apakah nama-nama tersebut benar pengurus Saracen yang sebenarnya. Dikhawatirkan, nama tersebut sengaja dicatut oleh kelompok yang diketuai oleh tersangka Jasriadi itu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News