5 Tren global ini akan berdampak pada lanskap energi di Indonesia



KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. PT Pertamina (Persero) mengkaji adanya lima tren global yang sedang dan akan terjadi, sehingga dapat mempengaruhi lanskap energi di Indonesia.

Vice President Pertamina Energy Institute Hery Haerudin menyebut, salah satu tren global yang terjadi sekarang adalah pandemi Covid-19. Akibat pandemi, ekonomi global diperkirakan mengalami kontraksi -3,6% sampai -5.2% pada tahun ini.

Kebutuhan energi dan emisi global tahun ini juga diperkirakan masing-masing lebih rendah 5% dan 7% dibandingkan dengan tahun 2019. “Penurunan harga komoditas energi selama masa pandemi turut mengganggu operasional beberapa perusahaan energi,” imbuh dia dalam acara Pertamina Energy Webinar, Selasa (8/12).


Dampak negatif pandemi Covid-19 diperkirakan dapat berkurang seiring adanya pemberian stimulus dan penciptaan vaksin yang bakal menjadi game changer.

Baca Juga: Proyeksi kebutuhan gas nasional hingga tahun 2050 versi Pertamina

Tren global berikutnya adalah kendaraan listrik yang penetrasinya kian masif. Di tahun 2019, penjualan kendaraan listrik mencapai 2,1 juta unit dengan pangsa pasar sebesar 2,6%. Beberapa negara seperti China, India, dan Jepang sudah memiliki target pangsa pasar kendaraan listrik sebesar 30% pada tahun 2030 nanti.

Secara umum, termasuk di Indonesia, penetrasi kendaraan listrik memerlukan ekosistem yang memadai dan disertai dengan dukungan kebijakan dari pemerintah.

Hery melanjutnya, tren global lainnya adalah keberadaan pembangkit energi baru terbarukan (EBT) dan teknologi rendah karbon. Secara global, tambahan kapasitas pembangkit listrik EBT diproyeksikan meningkat sekitar 4% atau 200 gigawatt (GW) pada tahun 2020. “Dari jumlah tersebut, 114 GW berasal dari China dan Amerika Serikat,” ujar dia.

Baca Juga: Pertamina: Pandemi corona akibatkan penurunan kebutuhan energi sebesar 16% di 2020

Sementara itu, beberapa teknologi rendah karbon yang tengah berkembang adalah green hydrogen dan CCUS. Selain itu, keberadaan biofuel atau bahan bakar nabati dapat dioptimalkan sesuai dengan kebijakan masing-masing negara.

Editor: Noverius Laoli