50% Tenaga Kerja Tak Sesuai Kualifikasi, Imbas Permasalahan Struktural Ekonomi



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Data Mandiri Institute menyatakan satu dari dua pekerja di Indonesia mengalami vertical mismatch atau fenomena ketidaksesuaian antara tingkat pendidikan atau keterampilan yang dimiliki pekerja dengan tingkat keterampilan yang dibutuhkan oleh pekerjaannya.

Pada tahun 2025, tingkat vertical mismatch di Indonesia tercatat sebesar 50% atau setara 72,3 juta pekerja, meski menurun dari 51% pada 2023. Tingginya tingkat vertical mismatch terutama bersumber dari pekerja undereducated/unqualified (kurang berpendidikan atau tidak berkualifikasi) sebanyak 32% dari total pekerja.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman menilai, tingkat vertical mismatch sekitar 50% pada 2025 memberi sinyal bahwa persoalan ketenagakerjaan Indonesia bukan hanya isu pendidikan, melainkan persoalan struktur ekonomi.


Baca Juga: Bahlil Pastikan Akan Maju Sebagai Caleg DPR RI pada Pemilu 2029

Menurutnya, sistem pendidikan di Indonesia relatif berhasil meningkatkan jumlah lulusan, tetapi penciptaan pekerjaan produktif tidak tumbuh secepat itu. Ekonomi masih bertumpu pada sektor informal, perdagangan kecil, dan jasa sederhana yang tidak membutuhkan kompetensi tinggi.

“Akibatnya sebagian tenaga kerja menjadi undereducated (kurang berpendidikan) terhadap kebutuhan teknologi industri, sementara sebagian lain justru overqualified terhadap pekerjaan yang tersedia,” tutur Rizal kepada Kontan, Minggu (15/2/2026).

Dengan kata lain, ia menambahkan, permasalahannya bukan sekadar jurusan tidak sesuai, melainkan ekonomi belum menciptakan cukup pekerjaan berkualitas untuk menyerap peningkatan kualitas tenaga kerja.

Sejalan dengan itu, menurutnya kondisi ini juga menjelaskan alasan pengangguran tidak sepenuhnya identik dengan kurangnya lapangan kerja. Di satu sisi perusahaan mengeluhkan kekurangan tenaga teknis terampil, tetapi di sisi lain pengangguran terbuka tetap ada karena terjadi skill mismatch.

“Artinya pasar kerja Indonesia mengalami structural unemployment low productivity jobs coexist (pekerjaan berproduktivitas rendah berdampingan) dengan kekurangan keterampilan,” ungkapnya.

Rizal menilai, dampaknya bukan hanya pengangguran, tetapi juga stagnasi upah dan melemahnya mobilitas kelas menengah, karena pendidikan tidak otomatis meningkatkan produktivitas maupun pendapatan ketika jenis pekerjaan yang tersedia masih berproduktivitas rendah.

Oleh karena iti, solusi dari permasalahan tersebut tidak cukup dengan menambah kampus atau jurusan baru. Ia melihat, yang diperlukan adalah pendekatan simultan, kebijakan strategis yang menghubungkan pendidikan vokasi berbasis industri, seperti magang riil dan sertifikasi kompetensi, sistem pelatihan ulang tenaga kerja, serta yang paling penting transformasi struktur ekonomi menuju manufaktur, agroindustri, dan logistik modern yang menciptakan keterampilan menengah jobs.

Baca Juga: Aturan Baru! Menkeu Purbaya Wajibkan 58% Dana Desa 2026 Untuk Koperasi Merah Putih

“Tanpa industrial upgrading, mismatch akan tetap tinggi karena sisi supply tenaga kerja terus naik, sementara sisi demand pekerjaan produktif tidak berkembang,” tambahnya.

Sejalan dengan itu, dalam perspektif kebijakan, menurutnya vertical mismatch seharusnya dibaca sebagai indikator bahwa agenda hilirisasi dan industrialisasi bukan hanya isu ekspor, tetapi juga instrumen utama perbaikan kualitas tenaga kerja dan penurunan pengangguran

Selanjutnya: Mengejutkan! Iran Bersedia Kompromi soal Kesepakatan Nuklir Jika Sanksi Dicabut

Menarik Dibaca: HP Android Bebas Iklan 2026: Rasakan Nyaman Tanpa Gangguan!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News