60% kreditur BNBR setuju tukar utang dengan saham



JAKARTA. PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) punya pekerjaan rumah berat di tahun ini. Perseroan harus segera keluar dari jerat utang yang membuat ekuitasnya menjadi negatif. Restrukturisasi utang ini akan dilakukan dengan cara penukaran utang dengan saham alias debt equity swap.

Eddy Soeparno, Direktur Keuangan BNBR mengatakan, sudah 60% kreditur yang menyetujui penukaran utang dengan saham. Total utang yang akan direstrukturisasi mencapai Rp 4,5 triliun hingga Rp 5,2 triliun. Persetujuan dengan kreditur ini ditargetkan selesai pada Kuartal III tahun ini.

Setelah finalisasi dengan kreditur dan mendapat izin dari Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), perseroan akan menerbitkan saham baru tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (non-HMETD) atau non pre-emptive rights (NPR). Jumlah utang jumbo ini membuat saham yang dikeluarkan juga sangat besar, maksimal mencapai 58% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh.


Sejatinya, dalam ketentuan pasar modal, jumlah saham maksimal yang diterbitkan dalam aksi korporasi private placement maksimal sebesar 10% dsari modal disetor. Namun, perusahaan yang mengalami ekuitas negatif alias defisiensi modal mendapat pengecualian.

"Kalau semua kreditur menyerap saham baru ini, maka kreditur akan memiliki maksimal 58% saham perseroan," ujar Eddy, Kamis (18/6).

Nah, ada catatan khusus mengenai akrobat BNBR kali ini. Eddy menyebut, tidak menutup kemungkinan kalau induk usaha yang juga dikendalikan keluarga Bakrie akan turut menyerap saham baru tersebut. Sayang, Eddy enggan mengatakan secara spesifik perusahaan Bakrie yang mana yang bakal menjadi pembeli siaga. Dengan begitu, utang BNBR akan dihapus dari laporan keuangan dan menjadi tanggungan keluarga Bakrie.

"Sebagian saham baru kemungkinan akan diserap oleh pemegang saham dari kelompok usaha Bakrie sendiri. Utang perseroan akan dialihkan ke sana," imbuhnya.

Yang menjadi catatan lain adalah, penerbitan saham baru ini tentu bakal menimbulkan efek dilusi yang besar untuk pemegang saham lainnya, termasuk pemegang saham publik. Informasi saja, saat ini masyarakat mengempit 56,05% saham BNBR. Lalu sebesar 21,61% dimiliki oleh Credit Suisse. Sebesar 9,34% dimiliki Mackenzie, dan Interventures Capital Pte Ltd sebesar 5,04%.

Targetkan ekuitas positif

Eddy mengklaim, konversi utang menjadi saham menjadi opsi paling relevan untuk mengatasi defisiensi modal BNBR. Meski efek dilusi yang ditimbulkan tinggi, namun usai restrukturisasi, utang akan terhapus dan perseroan bakal mencetak ekuitas positif di akhir tahun.

Targetnya, ekuitas BNBR bisa positif sekitar Rp 2 triliun hingga Rp 2,5 triliun di akhir tahun ini. Per Kuartal I-2015, defisiensi modal perseroan tercatat sebesar Rp 2.,5 triliun.

Saat ini, total pinjaman BNBR dalam mata uang dollar mencapai Rp 3,6 triliun. Sebesar FRp 2,3 triliun merupakan pinjaman jangka panjang yang jatuh tempo tahun ini. Pinjaman itu berasal dari Mitsubishi Corporation Jepang sebesar Rp 1,9 triliun dan dari Eurofa Capital Investment Singapura sebesar Rp 1,3 triliun.

Belum selesai di situ, BNBR juga masih harus menjual asetnya untuk membayar utang Credit Suisse senilai US$ 86,7 juta. Pembayaran ini akan dilakukan secara tunai. "Ada beberapa aset tanah atau bangunan yang akan dijual untuk membayar utang ini," imbuh Eddy.

Ia optimistis, saham BNBR bisa bergerak naik jika ekuitas perseroan kembali positif. Seperti diketahui, saham BNBR kerap dijuluki saham "gocap" lantaran tak pernah berkutik dari level Rp 50 per saham.

William Suryawijaya, Analis Asjaya Indosurya Securities mengatakan, ekuitas yang positif memang menjadi kunci BNBR untuk kembali memulihkan kepercayaan pasar. BNBR juga harus membuktikan kalau proyek infrastruktur yang digarap akan memberi keuntungan jangka panjang. "Sampai ada kepastian soal ini semua, sebaiknya Hold dulu untuk saham BNBR," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto