9 Obat Diabetes yang Umumnya Diresepkan Dokter, Kenali Jenisnya



KONTAN.CO.ID - Pengobatan diabetes tidak hanya dilakukan melalui pengaturan pola makan dan olahraga, tetapi juga dapat melibatkan penggunaan obat-obatan sesuai kondisi pasien. Ada berbagai jenis obat diabetes yang bekerja dengan cara berbeda, mulai dari membantu tubuh menggunakan insulin secara lebih efektif hingga mengurangi jumlah glukosa yang dilepaskan ke dalam darah.

Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah akibat gangguan produksi insulin atau ketidakmampuan tubuh menggunakan insulin secara optimal. Insulin sendiri merupakan hormon yang diproduksi pankreas untuk membantu mengendalikan kadar gula darah.


Penderita diabetes tipe 2 umumnya dapat menjalani pengobatan dengan perubahan gaya hidup dan obat-obatan sesuai kebutuhan. Sementara itu, penderita diabetes tipe 1 membutuhkan terapi insulin karena tubuh tidak mampu memproduksi hormon tersebut dalam jumlah yang memadai.

Lantas, apa saja obat diabetes yang umumnya diresepkan dokter? Berikut beberapa jenisnya beserta cara kerja dan efek samping yang perlu diketahui.

7 Obat Diabetes yang Umumnya Diresepkan Dokter

Menyadur dari laman Kemkes, berikut ini daftar obat diabetes yang umumnya diresepkan dokter:

1. Metformin

Metformin merupakan obat yang umum digunakan sebagai terapi awal untuk penderita diabetes tipe 2. Obat ini bekerja dengan mengurangi produksi glukosa di hati dan membantu tubuh merespons insulin secara lebih efektif.

Dengan mekanisme tersebut, metformin membantu menurunkan kadar gula darah. Dokter juga dapat mengombinasikannya dengan obat diabetes lain apabila target pengendalian gula darah belum tercapai.

Efek samping metformin yang dapat muncul meliputi mual, sakit perut, perut kembung, dan diare. Keluhan pada saluran pencernaan tersebut dapat berkurang seiring tubuh beradaptasi dengan obat.

2. Sulfonilurea

Sulfonilurea merupakan golongan obat diabetes tipe 2 yang bekerja dengan merangsang pankreas untuk menghasilkan lebih banyak insulin. Peningkatan produksi insulin membantu menurunkan kadar gula darah.

Namun, obat ini dapat menyebabkan hipoglikemia atau kondisi ketika kadar gula darah terlalu rendah. Gejalanya antara lain pusing, gemetar, berkeringat, lemas, dan jantung berdebar.

Pasien yang menggunakan sulfonilurea perlu mengikuti aturan minum obat dan menjaga jadwal makan sesuai anjuran dokter. Obat ini dapat digunakan sebagai alternatif atau dikombinasikan dengan metformin berdasarkan kebutuhan pasien.

3. Meglitinide

Meglitinide memiliki cara kerja yang mirip dengan sulfonilurea, yaitu merangsang pankreas untuk melepaskan insulin. Perbedaannya, meglitinide bekerja lebih cepat dan memiliki durasi kerja yang lebih singkat.

Golongan obat ini dapat membantu mengendalikan kenaikan gula darah setelah makan. Penggunaannya perlu disesuaikan dengan jadwal makan dan petunjuk dokter.

Efek samping meglitinide meliputi hipoglikemia dan peningkatan berat badan. Karena itu, pasien perlu memahami aturan penggunaannya untuk membantu mengurangi risiko efek samping.

4. Thiazolidinediones

Thiazolidinediones merupakan golongan obat yang membantu meningkatkan sensitivitas tubuh terhadap insulin. Dengan begitu, sel-sel tubuh dapat menggunakan glukosa secara lebih efektif.

Salah satu contoh obat dalam golongan ini adalah pioglitazone. Dokter dapat meresepkannya untuk membantu mengendalikan diabetes tipe 2 apabila sesuai dengan kondisi pasien.

Meski demikian, thiazolidinediones dapat menyebabkan penumpukan cairan dan peningkatan berat badan. Obat ini juga dapat memperburuk gagal jantung pada pasien tertentu sehingga dokter perlu mempertimbangkan kondisi jantung sebelum meresepkannya.

5. Inhibitor DPP-4

Inhibitor DPP-4 bekerja dengan meningkatkan aktivitas hormon inkretin yang membantu mengatur kadar gula darah. Obat ini mendukung pelepasan insulin ketika gula darah meningkat sekaligus membantu mengurangi pelepasan glukagon.

Beberapa contoh obat dalam golongan ini adalah sitagliptin, linagliptin, dan alogliptin. Risiko hipoglikemia umumnya relatif rendah jika obat digunakan tanpa kombinasi obat tertentu yang juga menurunkan gula darah.

Efek samping yang mungkin terjadi antara lain sakit kepala, gangguan pencernaan, dan keluhan saluran pernapasan atas. Dalam kasus yang jarang terjadi, obat golongan ini juga dapat berkaitan dengan pankreatitis. Penggunaannya tetap memerlukan pengawasan dokter.

6. Inhibitor SGLT2

Inhibitor SGLT2 bekerja pada ginjal dengan menghambat penyerapan kembali glukosa ke dalam aliran darah. Kelebihan glukosa kemudian dikeluarkan melalui urine sehingga kadar gula darah dapat menurun.

Contoh obat dalam golongan ini adalah empagliflozin dan dapagliflozin. Selain membantu mengendalikan gula darah, obat tertentu dalam golongan ini juga dapat memberikan manfaat bagi kesehatan jantung dan ginjal pada pasien dengan indikasi yang sesuai.

Efek sampingnya dapat berupa peningkatan frekuensi buang air kecil, infeksi jamur pada area genital, dan dehidrasi. Dalam kondisi tertentu, obat ini juga dapat meningkatkan risiko ketoasidosis diabetik. Oleh karena itu, pasien perlu menggunakan obat sesuai petunjuk dokter.

7. Agonis Reseptor GLP-1

Agonis reseptor GLP-1 merupakan obat yang meniru kerja hormon GLP-1 dalam tubuh. Hormon ini membantu merangsang pelepasan insulin ketika kadar gula darah meningkat dan mengurangi pelepasan glukagon.

Obat tersebut juga memperlambat pengosongan lambung dan dapat membantu meningkatkan rasa kenyang. Karena itu, beberapa jenis agonis reseptor GLP-1 dapat membantu pengendalian berat badan pada pasien tertentu.

Contoh obat dalam golongan ini adalah semaglutide, liraglutide, dan dulaglutide. Sebagian obat diberikan melalui suntikan, sedangkan semaglutide juga tersedia dalam bentuk oral.

Efek samping yang umum terjadi meliputi mual, muntah, diare, dan sembelit. Dokter akan mempertimbangkan kondisi pasien, target pengobatan, serta potensi efek samping sebelum menentukan terapi.

8. Inhibitor Alfa-Glukosidase

Inhibitor alfa-glukosidase bekerja dengan memperlambat pemecahan karbohidrat menjadi gula sederhana di saluran pencernaan. Mekanisme ini membantu mengurangi kenaikan kadar gula darah setelah makan.

Contoh obat dalam golongan ini adalah acarbose. Dokter dapat meresepkannya sebagai bagian dari pengobatan diabetes tipe 2 sesuai kebutuhan pasien.

Efek samping yang dapat muncul meliputi perut kembung, sakit perut, dan diare. Keluhan tersebut berkaitan dengan proses pencernaan karbohidrat yang berlangsung lebih lambat.

9. Insulin

Insulin merupakan hormon yang diproduksi pankreas untuk membantu mengatur kadar gula darah. Pada penderita diabetes tipe 1, tubuh tidak mampu menghasilkan insulin yang memadai sehingga terapi insulin diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hormon tersebut.

Insulin diberikan melalui suntikan atau perangkat khusus sesuai jenis dan kebutuhan terapi. Pada kondisi tertentu, penderita diabetes tipe 2 juga membutuhkan insulin apabila obat lain belum cukup mengendalikan gula darah atau terdapat kondisi medis yang memerlukan terapi tersebut.

Efek insulin yang perlu diwaspadai adalah hipoglikemia, terutama jika dosis tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh, asupan makanan, atau aktivitas fisik. Oleh karena itu, penggunaan insulin harus mengikuti petunjuk tenaga medis.

Baca Juga: Sering Haus dan Lelah? Kenali 5 Ciri-Ciri Gula Darah Tinggi Ini

Apakah Semua Penderita Diabetes Membutuhkan Obat?

Tidak semua penderita diabetes menggunakan jenis obat yang sama. Pemilihan terapi bergantung pada tipe diabetes, kadar gula darah, usia, kondisi ginjal dan jantung, serta respons pasien terhadap pengobatan.

Pada diabetes tipe 2, perubahan gaya hidup seperti mengatur pola makan, berolahraga secara teratur, dan menjaga berat badan dapat membantu mengendalikan gula darah. Namun, sebagian pasien tetap membutuhkan obat agar kadar gula darah mencapai target yang ditetapkan dokter.

Sementara itu, penderita diabetes tipe 1 membutuhkan terapi insulin untuk menggantikan insulin yang tidak dapat diproduksi tubuh secara memadai. Insulin juga dapat diresepkan bagi penderita diabetes tipe 2 apabila diperlukan.

Perlu diingat, obat diabetes tidak boleh dipilih, dikombinasikan, atau dihentikan secara mandiri. Konsultasikan dengan dokter untuk menentukan terapi yang sesuai dengan kondisi Anda dan menjalani pemeriksaan gula darah secara berkala guna membantu mencegah komplikasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News