AALI bangun dua pabrik baru



JAKARTA. PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mencatatkan kinerja yang apik selama tahun 2016 lalu. Hal itu terlihat dari pendapatan anak usaha Astra Group ini yang berhasil meningkat 8,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi Rp 14,12 triliun.

Kenaikan pendapatan membuat laba bersih yang dikantongi perusahaan sepanjang tahun lalu melesat signifikan lebih dari 216%. Kenaikan harga minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) sepanjang tahun lalu menjadi penopang kenaikan laba ini.

Presiden Komisaris Astra Agro Lestari Widya Wirawan mengatakan, kenaikan laba perusahaan pada tahun lalu terdorong oleh dua faktor. Pertama, efisiensi biaya operasional perusahaan. Kedua, keuntungan dari selisih kurs mata uang rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS).


Secara produksi, kami memang turun karena faktor cuaca yang tidak tentu, tapi bisa ditutupi dengan kenaikan harga CPO sebesar 11,4% sepanjang tahun lalu," ujarnya, Selasa (11/4).

Widya bilang kinerja apik Astra Agro sepanjang tahun lalu membuat perusahaan optimis menatap bisnis tahun ini. Sejumlah agenda ekspansi juga akan dilakukan perusahaan ini, khususnya di sektor perkebunan.

Di tahun 2017, Widya mengatakan, perusahaan berharap produksi tandan buah segar (TBS) dan CPO perusahaan bisa kembali normal, seperti produksi tahun 2015. Kami sudah cek ke Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), perkiraannya tahun ini, semoga tidak terjadi panas berkepanjangan dan hujan berkepanjangan, katanya.

Astra Agro berencana membangun dua pabrik baru di 2017. Pertama, pabrik pencampuran pupuk (fertilizer blending plant) dan pabrik penyulingan minyak inti sawit atau Palm Kernel Oil (PKO). Untuk kedua pabrik tersebut, perusahaan akan berinvestasi senilai Rp 300 miliar.

Pabrik fertilizer blending plant berkapasitas 100.000 ton per tahun ini akan dibangun di Kalimantan Tengah. Sedangkan pabrik PKO dibangun di Sulawesi dengan kapasitas produksi 400 ton per hari. Pembangunan pabrik PKO diperkirakan membutuhkan Rp 200 miliar, sisanya sekitar Rp 100 miliar untuk pabrik fertilizer blending plant.

AALI juga berkomitmen pada tahun ini untuk meneruskan program integrasi kebun sawit dengan peternakan sapi yang telah bergulir sejak 2014 lalu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News