KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Astra Agro Lestari Tbk (
AALI) optimistis dapat mempertahankan kinerja positif hingga akhir 2026. Prospek permintaan minyak sawit mentah atau
crude palm oil (CPO) yang masih baik menjadi salah satu faktor pendukung di tengah dinamika industri perkebunan sawit. Direktur AALI Tingning Sukowignjo mengatakan, prospek bisnis perusahaan tetap positif meskipun industri sawit masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari perubahan kebijakan pemerintah hingga perkembangan permintaan minyak nabati global.
“Namun, industri masih menghadapi berbagai dinamika, termasuk perubahan kebijakan pemerintah, kondisi cuaca, produktivitas tanaman, dan perkembangan permintaan minyak nabati global,” ungkap Tingning kepada Kontan.co.id, Senin (5/10/2026). Di sisi lain, peningkatan kebutuhan CPO di pasar domestik berpotensi membatasi ketersediaan pasokan untuk pasar ekspor. Kondisi tersebut dinilai dapat memberikan dukungan terhadap harga CPO. Optimisme AALI juga ditopang oleh kinerja keuangan pada semester I-2026. Perusahaan membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 15,3 triliun, tumbuh 5,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 14,45 triliun.
Baca Juga: Pelanggan Indihome Turun Jadi 9,5 Juta, Telkomsel Mengaku Fokus Benahi Kualitas Sementara itu, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp 1,10 triliun. Angka tersebut meningkat 56,5% dibandingkan laba bersih sebesar Rp 702 miliar pada semester I-2025. Pencapaian tersebut didukung oleh konsistensi operasional, efisiensi, pengendalian belanja, serta pergerakan harga CPO dan permintaan minyak nabati global. “Manajemen juga terus menjalankan operational excellence, cost control, eCiciency, dan continuous improvement di seluruh lini operasional,” tuturnya. Memasuki semester II-2026, AALI tidak hanya berfokus pada peningkatan volume produksi, tetapi juga mengutamakan produktivitas dan efisiensi di sepanjang rantai operasional. Tingning menjelaskan, perusahaan menjalankan sejumlah strategi utama untuk menjaga kinerja hingga akhir tahun. Pertama, menjaga dan meningkatkan produktivitas kebun melalui penerapan praktik agronomi yang baik, penggunaan bibit unggul, serta percepatan program peremajaan tanaman atau
replanting. Kedua, meningkatkan efisiensi operasional, termasuk mengoptimalkan proses pengolahan dan
Oil Extraction Rate (OER), sehingga potensi produksi tandan buah segar (TBS) dapat dimaksimalkan. Ketiga, menjaga utilisasi pabrik dengan mengoptimalkan pasokan TBS dari pihak ketiga. Keempat, memperkuat pengendalian biaya dan melakukan perbaikan berkelanjutan di seluruh lini operasional. Dari sisi operasional, produksi CPO Astra Agro pada semester I-2026 tercatat mencapai 558.000 ton. Adapun volume penjualan CPO dan produk turunannya mencapai 898.000 ton, meningkat dibandingkan 883.000 ton pada periode yang sama tahun sebelumnya. “Memasuki Semester II, produksi TBS dan CPO relatif stabil dibandingkan kuartal sebelumnya. Operasional Perseroan tetap terjaga di tengah dinamika kondisi perkebunan,” terangnya.
AALI Targetkan Peremajaan 8.000 Hektare Kebun Sawit per Tahun
Selain meningkatkan produktivitas dan efisiensi, Astra Agro melanjutkan program peremajaan tanaman sawit atau
replanting sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga kesinambungan produksi.
Perusahaan menargetkan program replanting sekitar 8.000 hektare per tahun. Hingga semester I-2026, realisasi peremajaan tanaman telah mencapai 3.719 hektare. Program tersebut menjadi salah satu upaya AALI untuk memperbarui tanaman yang sudah memasuki usia tertentu sekaligus menjaga produktivitas kebun dalam jangka panjang.
“Program ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan tanaman sekaligus meningkatkan produktivitas. Yang juga penting, strategi replanting Astra Agro tidak hanya mengejar jumlah hektare yang diremajakan, tetapi juga kualitas material tanaman,” pungkasnya. Untuk mendukung operasional dan pengembangan usaha, Astra Agro menyiapkan belanja modal atau
capital expenditure (capex) sekitar Rp 1,3 triliun hingga Rp 1,4 triliun pada 2026. Alokasi tersebut terutama diprioritaskan untuk sektor perkebunan atau
plantation. Realisasi capex pada semester I-2026 disebut berjalan sesuai rencana. Dengan fokus pada produktivitas kebun, efisiensi pengolahan, pengendalian biaya, dan peremajaan tanaman, AALI berupaya menjaga kinerja operasional sekaligus mempertahankan prospek bisnis positif hingga akhir 2026. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News