AAUI Jelaskan Penyebab Asuransi Umum Balikkan Keadaan Rugi Jadi Laba per November2025



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, laba setelah pajak industri asuransi umum per November 2025 mencapai Rp 16,9 triliun, atau berhasil membalikkan keadaan dari rugi Rp 13,5 triliun per November 2024.

Mengenai hal itu, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menilai membaiknya profitabilitas industri asuransi umum hingga November 2025 merupakan hasil dari penguatan kualitas kinerja di berbagai lini usaha utama, seperti asuransi properti, kendaraan bermotor, marine cargo, dan asuransi kesehatan. 

Secara rinci, Ketua Umum AAUI Budi Herawan mengatakan peningkatan laba utamanya didorong perbaikan disiplin underwriting, penataan portofolio risiko yang lebih seimbang, serta pengelolaan eksposur yang lebih terukur.


Baca Juga: AAUI Perkirakaan Ada Potensi Rasio Klaim Asuransi Kredit di Level Tinggi pada 2026

"Dengan demikian, tekanan klaim dapat dikendalikan dengan lebih baik," ucapnya kepada Kontan, Selasa (20/1/2026).

Selain itu, Budi berpendapat efisiensi manajemen klaim dan pengendalian biaya operasional yang dilakukan industri asuransi umum turut memberikan kontribusi positif terhadap hasil usaha. 

Dia menjelaskan faktor penting lainnya, yakni penyesuaian pembentukan cadangan teknis yang lebih presisi sejalan dengan implementasi International Financial Reporting Standards (IFRS 17) atau Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK 117), sehingga membuat pengukuran kewajiban menjadi lebih berbasis risiko dan mencerminkan kondisi portofolio secara lebih akurat.

Di luar hasil underwriting, Budi menyebut profitabilitas industri juga masih ditopang oleh kinerja hasil investasi yang relatif stabil sepanjang 2025. Dengan demikian, secara agregat memperkuat pencapaian laba industri.

Baca Juga: Asuransi Properti Diproyeksi Jadi Penyumbang Premi Utama Industri Asuransi Umum 2026

Memasuki 2026, AAUI memperkirakan laba industri asuransi umum akan tetap positif, tetapi pertumbuhannya akan lebih moderat dan terbatas, jika dibandingkan lonjakan yang terjadi pada 2025. Budi menerangkan setelah fase perbaikan signifikan pada underwriting, pengelolaan risiko, dan cadangan teknis, ruang pertumbuhan laba yang bersifat akseleratif relatif menurun.

"Oleh karena itu, kami mengestimasi pertumbuhan laba industri berada di kisaran satu digit, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional," ungkapnya.

Ke depannya, Budi menyampaikan kontribusi hasil investasi diperkirakan tetap menjadi salah satu penopang laba, meskipun industri perlu makin memperkuat kinerja underwriting agar struktur laba lebih berkelanjutan.

Baca Juga: Asuransi Umum Bidik Pertumbuhan Premi Konservatif pada 2026

Selanjutnya: IHSG Diprediksi Bergerak Sideways pada Rabu (21/1), Saham-Saham Ini Bisa Dicermati

Menarik Dibaca: Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (21/1): Hujan Ekstrem di Provinsi Berikut

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News