AAUI Perkirakan Laba Asuransi Umum Tumbuh Single Digit pada 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) memperkirakan perolehan laba industri asuransi umum tetap memiliki ruang untuk bertumbuh pada 2026.

Meskipun demikian, Ketua Umum AAUI Budi Herawan mengatakan pertumbuhan laba industri akan lebih moderat dan terbatas jika dibandingkan lonjakan yang terjadi pada 2025.

Budi menerangkan, setelah fase perbaikan signifikan pada underwriting, pengelolaan risiko, dan cadangan teknis, ruang pertumbuhan laba yang bersifat akseleratif relatif menurun.


"Oleh karena itu, kami mengestimasi pertumbuhan laba industri berada di kisaran single digit, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional," ungkapnya kepada Kontan, Selasa (20/1/2026).

Baca Juga: AAUI Beberkan Peluang dan Tantangan yang Bisa Pengaruhi Laba Asuransi Umum pada 2026

Ke depannya, Budi menyampaikan kontribusi hasil investasi diperkirakan tetap menjadi salah satu penopang laba, meskipun industri perlu makin memperkuat kinerja underwriting agar struktur laba lebih berkelanjutan.

Asal tahu saja, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat laba setelah pajak industri asuransi umum per November 2025 mencapai Rp 16,9 triliun, atau berhasil membalikkan keadaan dari rugi Rp 13,5 triliun per November 2024.

Budi menilai membaiknya profitabilitas industri asuransi umum hingga November 2025 merupakan hasil dari penguatan kualitas kinerja di berbagai lini usaha utama, seperti asuransi properti, kendaraan bermotor, marine cargo, dan asuransi kesehatan.

Secara rinci, dia menjelaskan peningkatan laba utamanya didorong perbaikan disiplin underwriting, penataan portofolio risiko yang lebih seimbang, serta pengelolaan eksposur yang lebih terukur.

"Dengan demikian, tekanan klaim dapat dikendalikan dengan lebih baik," ucapnya.

Baca Juga: AAUI Jelaskan Penyebab Asuransi Umum Balikkan Keadaan Rugi Jadi Laba per November2025

Selain itu, Budi berpendapat efisiensi manajemen klaim dan pengendalian biaya operasional yang dilakukan industri asuransi umum turut memberikan kontribusi positif terhadap hasil usaha.

Dia menjelaskan faktor penting lainnya, yakni penyesuaian pembentukan cadangan teknis yang lebih presisi sejalan dengan implementasi International Financial Reporting Standards (IFRS 17) atau Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK 117).

"Alhasil, hal ini membuat pengukuran kewajiban menjadi lebih berbasis risiko dan mencerminkan kondisi portofolio secara lebih akurat," kata Budi.

Di luar hasil underwriting, Budi menyebut profitabilitas industri juga masih ditopang oleh kinerja hasil investasi yang relatif stabil sepanjang 2025. Dengan demikian, secara agregat memperkuat pencapaian laba industri. 

Selanjutnya: Izin Tambang Emas Agincourt Dicabut, Laba Bersih UNTR Berpotensi Tergerus

Menarik Dibaca: Promo Alfamart Home Care 16-31 Januari 2026, So Klin-Stella Diskon hingga 35%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News