KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menyebut prospek bisnis asuransi umum untuk tahun ini terbilang tak mudah dan masih menghadapi sejumlah tantangan. Melihat kondisi yang masih diselimuti ketidakpastian, Ketua Umum AAUI Budi Herawan berharap pendapatan premi industri asuransi pada 2026 bisa sama dengan pencapaian pada 2025. "Jadi, kalau ditanya persentasenya, bisa sama dengan tahun lalu saja sudah bagus," ungkapnya saat konferensi pers AAUI di kawasan Jakarta Selatan, Jumat (20/2/2026). Asal tahu saja, data AAUI mencatat, pendapatan premi asuransi umum per akhir 2025 mencapai Rp 112,81 triliun. Nilainya tumbuh 4,8%, jika dibandingkan periode sama tahun lalu.
Lebih lanjut, Budi mengatakan industri asuransi umum menghadapi berbagai tantangan dari sisi kondisi ekonomi hingga regulasi. Dia menyampaikan meski ada kebijakan yang dikeluarkan terkait guyuran likuiditas ke perbankan, kenyataannya masyarakat masih belum mengambil kredit, sehingga berpengaruh juga ke lini asuransi kredit.
Baca Juga: Modus Penipuan Baru: Satgas PASTI Hentikan AMG Pantheon dan MBA Dari sisi regulasi, perusahaan asuransi umum juga dibatasi aturan main di asuransi kredit dan suretyship yang tertuang dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 20/POJK.05/2023 tentang Produk Asuransi yang Dikaitkan dengan Kredit atau Pembiayaan Syariah, serta Produk Suretyship atau Suretyship Syariah (POJK 20/2023). Ketentuan dalam POJK itu berlaku pada 13 Desember 2024. "Apakah masyarakat mengambil kredit? Enggak. Kami juga terbentur lagi POJK 20/2023, sehingga tak semua pemain sekarang bisa menutup asuransi kredit karena aturan likuiditas dan ekuitas," ucapnya. Selain itu, Budi bilang industri asuransi juga akan disibukkan dengan pemenuhan ketentuan ekuitas minimum pada 2026 dan 2028 yang tertuang dalam POJK Nomor 23 Tahun 2023. Ditambah, ada juga kewajiban spin off unit usaha syariah di perasuransian yang harus dilakukan pada akhir 2026. "Kami harus realistis ada POJK 23/2023 tentang ekuitas, belum lagi ada namanya spin off asuransi syariah. Kalau kondisi ekonomi seperti ini, tetapi kami perlu mewujudkan ketentuan itu, bagaimana industri?" tuturnya. Lebih lanjut, Budi menyampaikan sektor pasar otomotif juga belum sepenuhnya pulih, sehingga bisa saja berdampak pada asuransi kendaraan bermotor yang jadi salah satu penopang utama kinerja premi industri. Tak sampai situ, dia bilang pihaknya masih menunggu adanya dampak dari alokasi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) untuk sektor riil, sehingga bisa berdampak juga bagi industri asuransi secara keseluruhan. "Kami selalu indikator-nya APBN. Jadi, roda ekonomi Indonesia kalau dilihat riilnya memang belum jalan," katanya.
Baca Juga: BSI Luncurkan Tabungan Umrah, Targetkan Lebih dari Satu Juta Nasabah pada Tahap Awal Meskipun ada berbagai tantangan, Budi mengharapkan kondisi perekonomian Indonesia bisa kembali normal. Di sisi lain, dia juga berharap tidak ada bencana besar yang masih terus menghantui industri asuransi umum seperti tahun lalu. "Namun, kami harus menghadapinya, tetap optimistis. Kami sebagai mitra, ya, siap saja," ungkapnya. Budi menambahkan industri asuransi umum masih akan terus mencari peluang yang bisa menumbuhkan kinerja pada tahun ini. Dia bilang salah satunya adalah asuransi parametrik. Namun, dia bilang terobosan itu juga menghadapi tantangan semisal yang menjadi tertanggung adalah pemerintah dan petani. Industri asuransi umum juga sedang mencari terobosan di sektor asuransi mikro bekerja sama dengan Kementerian UMKM. Namun, dia bilang kerja sama tersebut tentunya tak bisa langsung membuahkan hasil.
"Kalau kami langsung kejar, tentu bilangan besar yang namanya mikro harus dipenuhi (perbanyak jumlah pelaku usaha UMKM). Namun, kami saat ini masih dalam tahap diskusi. Saya harap bisa menjadi salah satu penopang," ucap Budi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News