AAUI: SBN Bisa Jadi Pertimbangan Asuransi Umum Dalam Berinvestasi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menilai instrumen Surat Berharga Negara (SBN) bisa menjadi pertimbangan bagi industri asuransi umum dalam mengalokasikan investasi hingga akhir tahun ini.

Wakil Ketua Bidang Keuangan AAUI Sunarso menyampaikan yield SBN dengan tenor durasi 10 tahun sekitar 7,2%, sehingga cukup bagus bagi industri asuransi umum untuk masuk ke instrumen tersebut. Artinya, dia bilang peluang itu bisa dioptimalkan industri asuransi umum hingga akhir tahun untuk mengisi kekurangan kinerja pada pertengahan tahun ini. 

"Bisa mendapatkan kekurangan atau gap yang kemarin sempat turun. Artinya, SBN itu juga lebih bagus dari sisi pencatatan di Risk Based Capital (RBC) juga masih risk free. Dengan demikian, SBN durasi 10 tahun atau 15 tahun juga masih cukup baik untuk kami mendapatkan yield yang tinggi," ungkapnya saat konferensi pers AAUI di kawasan Jakarta Selatan, Jumat (4/9/2026).


Baca Juga: Piutang Pembiayaan Multifinance Rp 513,05 Triliun per Juli 2026, Tumbuh 2,01%

Selain itu, Sunarso menerangkan instrumen deposito juga ada beberapa yang menawarkan bunga yang masih cukup baik. Dia bilang instrumen itu memang juga bisa sebagai alternatif investasi untuk mengisi likuiditas jangka pendek. 

Lebih lanjut, Sunarso mengatakan mulai membaiknya pasar saham juga bisa dipertimbangkan industri asuransi umum untuk mengalokasikan investasi.

"Dari sisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memang sudah mulai naik ke di level 6.500-an," katanya.

Asal tahu saja, data statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, hasil investasi industri asuransi umum mengalami kontraksi 5,6% secara Year on Year (YoY), menjadi sebesar Rp 3,64 triliun pada Semester I-2026. Terkait hal itu, Sunarso menerangkan lesunya kinerja investasi tak terlepas dari kondisi pasar yang volatil.

Baca Juga: Literasi Dana Pensiun 22,21%, OJK Sebut Banyak Masyarakat Belum Siap Pensiun

"Memang pada semester I-2026 kondisi market agak kurang bagus. Artinya, angka hasil investasi untuk semester I-2026, rata-rata menurun dibandingkan periode sama tahun lalu," ujar Sunarso.

Sebagai informasi, data OJK mencatat, total investasi asuransi umum mencapai Rp 132,2 triliun pada semester I-2026. Adapun alokasi terbesar industri di instrumen SBN sebesar Rp 50,99 triliun, atau porsinya 38,6% terhadap total investasi. Diikuti, instrumen reksadana sebesar Rp 23,21 triliun, atau porsinya 17,6% terhadap total investasi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News