AAUI Sebut Peralihan Tren Kendaraan Listrik Jadi Tantangan bagi Asuransi Umum



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mengatakan perubahan preferensi masyarakat dari kendaraan konvensional ke listrik atau Electric Vehicle (EV) menjadi tantangan bagi industri asuransi umum.

Mengenai hal itu, Ketua Umum AAUI Budi Herawan mengakui bahwa terjadi suatu perubahan yang cukup signifikan di industri otomotif.

Dia menuturkan pada tahun 70-an, Indonesia didominasi brand kendaraan konvensional baik roda dua maupun empat dari Jepang. Namun, pada tahun 2020-an, masuk era kendaraan listrik yang didominasi brand asal China.


Budi menyoroti bahwa pada tahun 70-an ketika brand kendaraan Jepang masuk Indonesia, semua ekosistemnya sudah dibuat terlebih dahulu baik pabrik hingga penyediaan suku cadang.

Baca Juga: Asuransi Didorong Terlibat di Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Ini Respons AAUI

Dengan demikian, pada waktu itu, industri asuransi tidak merasa khawatir terhadap risiko-risiko yang terjadi untuk kendaraan konvensional.

Budi mengatakan situasi sekarang begitu berbeda, ketika kendaraan listrik masuk Indonesia secara masif, ekosistem pendukungnya belum sepenuhnya tersedia. Dengan demikian, industri asuransi juga akan berpikir dua kali untuk memberikan proteksi terhadap kendaraan listrik.

"Saya sudah menyampaikan kepada pemerintah, begitu membuka keran EV, ekosistemnya perlu dibangun, seperti pabrik baterai, supply spare part, dan lainnya. Jadi, produk EV sifatnya belum jadi mass product. Hal itu juga yang menjadi ketakutan industri asuransi umum," ungkapnya dalam konferensi pers AAUI di kawasan Jakarta Selatan, Jumat (20/2). 

Budi menambahkan faktor klaim kendaraan listrik juga menjadi perhatian bagi industri asuransi umum. Dia bilang suku cadang yang belum sepenuhnya mudah didapatkan, bisa jadi membuat klaim perbaikan yang dilakukan akan lebih besar.

"Kalau terjadi suatu kecelakaan atau klaim, biaya perbaikan terhadap kendaraan EV di sini cukup mahal dibanding kendaraan konvensional. Bisa 30%-40% lebih mahal dari kendaraan konvensional, sehingga banyak perusahaan yang bermain di asuransi kendaraan enggan untuk menutup asuransi kendaraan berbasis EV," ucapnya.

Baca Juga: AAUI Sebut Masih Ada Asuransi Umum yang Kesulitan Mengimplementasikan PSAK 117

Budi berharap pemerintah bisa segera mengatasi ketersediaan ekosistem kendaraan EV, sehingga industri asuransi umum juga bisa berkontribusi lebih untuk memberikan proteksi terhadap kendaraan EV. Dia bilang pihaknya juga terus menyampaikan usulan tersebut kepada pemerintah dan mencoba mendorong perusahaan asuransi umum dalam menyikapi kondisi tersebut.

"Kami juga mendorong industri asuransi umum dengan memberikan bekal pengetahuan dan mendorong pemerintah agar ekosistem EV dipikirkan lagi. Seharusnya mobil murah (EV), diimbangi dengan spare part yang murah. Saat ini, tidak terjadi seperti itu. Oleh karena itu, kami mencoba memberikan suatu literasi kepada pemerintah maupun semua pemangku kepentingan," tuturnya.

Sementara itu, AAUI mencatat, pendapatan premi asuransi umum dari lini asuransi kendaraan bermotor sebesar Rp 19,02 triliun per akhir 2025. Nilainya terkontraksi 4,2%, jika dibandingkan pencapaian per akhir 2024 yang sebesar Rp 19,86 triliun. Budi mengatakan terkontraksinya premi di lini asuransi kendaraan bermotor tak terlepas dari lesunya penjualan kendaraan konvensional pada 2025.

"Kenapa terjadi kontraksi? Penjualan kendaraan konvensional itu turun signifikan," katanya.

Baca Juga: AAUI Catat Pendapatan Premi Asuransi Umum Rp 112,81 Triliun hingga Akhir 2025

Sebagai informasi, data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) mencatat, penjualan mobil secara wholesales atau dari pabrik ke diler sepanjang 2025 mencapai 803.687 unit. Jumlahnya turun 7,2%, dibandingkan posisi 2024 yang sebesar 865.723 unit.

Adapun penjualan kendaraan dari diler ke konsumen tercatat sebanyak 833.692 unit sepanjang 2025, atau melambat 6,3% dibandingkan capaian tahun sebelumnya.

Selain lesunya pasar otomotif, Budi mengatakan terkontraksinya premi asuransi kendaraan juga disebabkan perubahan preferensi masyarakat yang lebih memilih kendaraan berbasis listrik atau Electric Vehicle (EV). Dia bilang banyak perusahaan asuransi yang belum mau memproteksi kendaraan listrik, dengan mempertimbangkan berbagai risikonya.

"Perusahaan asuransi tidak mau menutup asuransinya untuk berbasis EV. Jadi, hal itu juga menjadi tantangan di industri asuransi umum," ujar Budi. 

Selanjutnya: Tarif Trump Dijegal Mahkamah Agung AS, Indonesia Masih Perlu Proses Ratifikasi

Menarik Dibaca: Promo Paket Bukber Burger King Hematnya Bikin Puasa Tenang, Mulai Rp 32 Ribuan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News