AAUI Sebut Tekanan Klaim dan Hasil Investasi Membayangi Laba Asuransi Umum



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mengakui industri asuransi umum masih menghadapi tantangan pada 2026. Tekanan klaim di sejumlah lini usaha dan fluktuasi hasil investasi dinilai turut membebani profitabilitas industri, menyusul penurunan laba yang tercatat hingga April 2026.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), laba industri asuransi umum per April 2026 tercatat sebesar Rp 4,3 triliun, turun dari Rp 5,7 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Ketua Umum AAUI Budi Herawan mengatakan, kinerja industri perlu dibaca secara menyeluruh dan tidak hanya berdasarkan satu indikator laba pada periode tertentu. Menurutnya, perkembangan premi, klaim, hasil underwriting, hasil investasi, biaya operasional, hingga kondisi permodalan juga perlu menjadi pertimbangan dalam menilai kinerja industri.


Baca Juga: Asosiasi DPLK Optimistis Fleksibilitas Pencairan Dana Pensiun Bisa Tarik Peserta Baru

“AAUI belum dalam posisi untuk mengonfirmasi secara detail penyebab penurunan laba tersebut, karena hal itu dapat dipengaruhi oleh basis pencatatan, cakupan laporan, periode pelaporan, maupun kondisi masing-masing perusahaan. Karena itu, kami melihatnya sebagai dinamika kinerja interim yang masih perlu dicermati lebih lanjut,” ujar Budi kepada Kontan, Rabu (1/7/2026).

Namun, Budi menerangkan, industri asuransi umum pada tahun ini memang menghadapi sejumlah tantangan. Pertumbuhan premi dinilai belum merata di seluruh lini usaha, sementara tekanan klaim masih terlihat pada beberapa segmen, seperti asuransi kredit, kendaraan bermotor, kesehatan, properti, engineering, dan liability.

Menurutnya, lini-lini tersebut cukup sensitif terhadap kondisi ekonomi, kualitas pembiayaan, inflasi biaya perbaikan, biaya kesehatan, serta risiko operasional. Alhasil, kenaikan beban klaim berpotensi menekan hasil underwriting apabila pertumbuhan premi tidak sejalan dengan peningkatan risiko.

Selain itu, hasil investasi juga turut memengaruhi laba industri di tengah kondisi pasar keuangan yang masih berfluktuasi. Di sisi lain, perusahaan asuransi tetap perlu menjaga likuiditas dan tingkat solvabilitas.

Untuk menjaga profitabilitas, Budi menyebut pelaku industri perlu memperkuat disiplin underwriting, memperketat seleksi risiko, mengevaluasi portofolio dengan rasio klaim tinggi, melakukan penyesuaian terms and conditions polis, mengoptimalkan program reasuransi, serta meningkatkan efisiensi biaya operasional.

Pada lini tertentu, lanjutnya, industri juga perlu memperkuat koordinasi dengan mitra bisnis seperti perbankan, perusahaan leasing, multifinance, broker, dan kanal distribusi lainnya agar pembentukan premi dan pengelolaan risiko lebih seimbang.

"Kami optimistis industri masih dapat menjaga kinerja positif sepanjang perusahaan konsisten menerapkan prinsip kehati-hatian, menjaga kualitas underwriting, mengelola klaim, dan tidak hanya mengejar pertumbuhan premi semata," lanjutnya.

Sebab secara fundamental, ia memandang kebutuhan proteksi masyarakat dan dunia usaha tetap besar. Karena itu, fokus utama industri adalah menjaga pertumbuhan yang prudent dan tetap mampu memberikan perlindungan optimal kepada pemegang polis.

Baca Juga: BPJS Kesehatan Akui Rasio Klaim JKN Tembus di Atas 100% pada 2025

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News