KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah menyiapkan sejumlah skenario untuk menjaga mobilitas masyarakat di tengah gangguan penerbangan akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Sejumlah bandara ditutup sementara sebagai langkah antisipasi terhadap risiko keselamatan penerbangan. Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau saat ini masih berstatus Level III atau Siaga. Pemerintah bersama instansi terkait terus memantau perkembangan aktivitas gunung dan pergerakan abu vulkanik yang berpotensi mengganggu jalur penerbangan. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan, pemerintah telah menyiapkan moda transportasi alternatif apabila operasional penerbangan masih mengalami gangguan.
Pemerintah Belum Hitung Kerugian Gangguan Penerbangan
Dudy mengatakan, pemerintah hingga saat ini belum menghitung potensi kerugian ekonomi akibat gangguan penerbangan yang terjadi karena sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Menurut dia, penutupan sejumlah bandara baru dilakukan sejak Minggu dini hari. Saat ini, pemerintah, maskapai penerbangan, dan pemangku kepentingan terkait masih memprioritaskan penanganan penumpang yang terdampak. “Untuk perhitungan sampai sejauh ini belum mendapatkan perhitungan, karena penutupan bandara baru dimulai sejak dini hari tadi,” katanya. Untuk jalur penyeberangan Merak-Bakauheni, pemerintah juga belum melakukan penambahan kapal. Dudy menyebut langkah tersebut belum diperlukan karena jumlah penumpang pada saat ini justru menunjukkan kecenderungan menurun.Status Gunung Anak Krakatau Masih Level III
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria memastikan status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Pemerintah belum meningkatkan status tersebut karena evaluasi terhadap aktivitas vulkanik masih terus dilakukan. “Statusnya tidak dinaikkan dan masih bertahan di Level III. Evaluasi dilakukan secara real time setiap 24 jam,” ujar Lana. Sementara itu, Kepala PVMBG Siti Sumilah Rita Susilawati mengatakan aktivitas Gunung Anak Krakatau masih menunjukkan dinamika yang tinggi. Karena itu, penurunan amplitudo kegempaan tidak dapat langsung diartikan sebagai tanda bahwa aktivitas vulkanik telah berhenti. “Dinamika aktivitasnya masih sangat tinggi. Penurunan amplitudo belum tentu menunjukkan aktivitasnya terhenti,” kata Siti. PVMBG masih melakukan pemantauan terhadap pergerakan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau di sejumlah lapisan atmosfer. Abu dari bagian atas kolom erupsi terpantau berada di sekitar ketinggian 50.000 kaki atau sekitar 15 kilometer. Pada ketinggian tersebut, abu vulkanik bergerak ke arah barat daya menuju Samudra Hindia. Sementara itu, pada ketinggian sekitar 20.000 kaki atau 6 kilometer, emisi abu vulkanik dari bukaan kawah bawah masih terbawa angin ke arah barat. Adapun sisa debu halus dari fase erupsi sebelumnya bergerak ke arah timur menuju perairan Selat Sunda bagian selatan. Baca Juga: Atasi Dampak Erupsi Anak Krakatau, BNPB Siapkan Operasi Modifikasi CuacaEnam Bandara Ditutup Sementara
Sebagai bagian dari mitigasi terhadap dampak sebaran abu vulkanik, enam bandara ditutup sementara. Keenam bandara tersebut adalah:- Bandara Radin Inten II
- Bandara Soekarno-Hatta
- Bandara Halim Perdanakusuma
- Bandara Budiarto
- Bandara Pondok Cabe
- Bandara Husein Sastranegara