Ada Afilisasi Emtek, Djarum hingga RANS, Siapa Paling Menarik dari Enam IPO Baru?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gelaran penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) akan kembali semarak pada awal Juli 2026. Per 24 Juni 2026, terdapat enam perusahaan yang tengah menjalani proses menuju pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Mereka ialah PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), PT Bach Multi Global Tbk (BACH), PT Essa Medika Mandiri Tbk (EMMI), PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) dan PT RANS Entertainmen Indonesia Tbk (RANS).

Sebagai gambaran, JELI merupakan produsen makanan dan minuman merek Inaco menawarkan sebanyak 350 juta saham atau 25,93% modal setelah IPO. Harga penawaran berada pada kisaran Rp 900–Rp 1.120 per saham dengan potensi dana maksimal Rp 392 miliar.


Kemudian ada JECX yang bergerak di bisnis rumah sakit dan klinik mata menawarkan sebanyak 487,98 juta saham. JEXC membidik harga Rp 184–Rp 243 per saham sehingga berpotensi menghimpun dana hingga sekitar Rp 118,58 miliar.

Baca Juga: BREN, MAPI, MAPA, SMDR, hingga FILM RUPS Hari Ini (24/6), Simak Prospeknya

Lalu ada, BACH perusahaan bergerak di bidang genset dan infrastruktur telekomunikasi menawarkan 615 juta saham atau 15,06% modal setelah IPO. BACH mematok harga IPO di kisaran Rp 400–Rp 500 dengan target dana maksimal Rp 307,5 miliar.

EMMI merupakan perusahaan sektor alat kesehatan menawarkan sebanyak 522,86 juta saham atau 30% modal setelah IPO. EMMI menawaran saham IPO di rentang Rp 446–Rp 515 per saham dengan potensi dana hingga Rp 269,27 miliar.

Sementara itu, PRDL yang bergerak di bidang manufaktur in vitro diagnostic (IVD) menawarkan 527,9 juta saham atau 30% modal setelah IPO. Dengan memasang harga berkisar Rp 260–Rp 300, PRDL berpotensi meraup dana Rp 158 miliar.

Terbaru, RANS menawarkan maksimal 2,53 miliar saham baru atau setara 20,02% modal setelah IPO. Perusahaan milik Rafi Ahmad ini mematok harga IPO di kisaran Rp 135–Rp 170 sehingga berpotensi mengantongi dana hingga Rp 429,25 miliar.

Jika ditelisik lebih dalam, beberapa calon emiten tersebut memiliki keterkaitan dengan kelompok usaha maupun figur ternama. BACH terafiliasi dengan grup Djarum melalui PT Global Telekomunikasi Prima yang dikendalikan keluarga Hartono.

JECX juga memiliki hubungan dengan konglomerasi PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) alias Emtek melalui kepemilikan PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME), operator jaringan rumah sakit Omni Hospitals.

Sementara RANS dihuni sejumlah nama populer seperti Raffi Ahmad, Nagita Slavina, Dony Oskaria, Sutanto Hartono hingga Kaesang Pangarep. Bahkan, Sutanto Hartono dari Grup Emtek juga masuk jajaran pemegang saham RANS. 

Baca Juga: Profitabilitas Samudera Indonesia (SMDR) Turun di Kuartal I-2026, Ini Alasannya

Pengamat pasar modal Hendra Wardana mengatakan kondisi pasar yang bearish membuat investor kini jauh lebih selektif dibandingkan periode pasar bullish. Investor lebih fokus pada fundamental, profitabilitas, kesehatan neraca dan valuasi perusahaan.

"Kalau saat pasar bullish investor cenderung lebih toleran terhadap valuasi mahal karena optimistis terhadap pertumbuhan, pada saat bearish fokus utama bergeser kepada kualitas fundamental perusahaan," katanya kepada Kontan, Selasa (24/6/2026).

Menurutnya, keberadaan nama besar maupun afiliasi konglomerasi memang masih dapat membantu meningkatkan eksposur suatu IPO. Namun faktor tersebut tidak lagi menjadi pertimbangan utama investor dalam mengambil keputusan investasi.

"Dalam kondisi pasar seperti saat ini, cerita pertumbuhan dan popularitas perusahaan mulai kalah penting dibandingkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba secara nyata dan berkelanjutan," ucap Hendra.

Dari enam calon emiten yang akan melantai di BEI, Hendra menjagokan BACH. Menurutnya, perusahaan tersebut menawarkan kombinasi yang relatif seimbang antara pertumbuhan laba, profitabilitas, dan valuasi.

"BACH menjadi salah satu calon emiten yang paling menarik karena memiliki pertumbuhan laba yang kuat, profitabilitas tinggi, dan valuasi yang masih relatif murah," kata dia.

Secara kinerja BACH membukukan pendapatan sekitar Rp 1,73 triliun dengan laba bersih mencapai Rp 155,6 miliar. Dalam catatan Hendra, return on equity (ROE) BACH mencapai sekitar 29% dengan valuasi berada di kisaran 11 kali hingga 13 kali laba.

Baca Juga: Harga Emas Tergelincir ke Level Terendah Hampir Dua Pekan

Di sisi lain, Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas menilai BACH dan PRDL menjadi dua calon emiten yang paling menarik dari sisi valuasi. Ini berdasarkan perbandingan price to earnings ratio (PER) dengan proyeksi pertumbuhan laba masing-masing perusahaan.

“BACH dipasarkan pada PER 10,5 kali hingga 13,1 kali dengan pertumbuhan laba sekitar 98%. Sementara PRDL juga menarik karena memiliki PER sekitar 10,3 kali hingga 12,3 kali dengan pertumbuhan laba mencapai 70%,” tulisnya dalam riset. 

Sebaliknya, Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas menyebut JECX menjadi emiten dengan valuasi paling premium dibandingkan calon emiten lainnya. Ini tercermin dari kisaran PER yang mencapai 52,9 kali hingga 61,7 kali.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News