KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Central Asia Tbk (
BBCA) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (
BBNI) baru saja mengumumkan akan melakukan aksi pembelian kembali (
buyback) saham setelah mendapat persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang masing-masing digelar pekan lalu. Dalam aksi korporasi ini, BBCA akan melakukan
buyback senilai Rp 5 triliun, sedangkan BBNI akan melakukan
buyback senilai Rp 905 miliar. Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menyebut langkah ini efektif dilakukan oleh emiten untuk mendongkrak harga saham dalam jangka pendek. "Dengan prospek bisnisnya hingga potensi valuasi di masa mendatang, secara jangka pendek hal ini pasti mendorong harga saham tersebut untuk mengalami kenaikan," kata Nico saat dihubungi Kontan, Jumat (13/3/2026).
Baca Juga: Buyback Rp 5 Triliun, BCA (BBCA) Ingin Jaga Stabilitas Harga Saham Di samping menguatkan harga saham, langkah ini juga disambut Nico sebagai sinyal dari perbankan kepada para investornya untuk tidak perlu khawatir. Pasalnya, adanya aksi
buyback menjadi pertanda bahwa fundamental dan likuiditas perbankan berada dalam kondisi yang baik dan memiliki prospek yang bagus untuk jangka panjang. Akan tetapi, Nico tetap menyarankan investor untuk berhati-hati. Meski aksi
buyback mampu mendongkrak harga, sentimen negatif dari kondisi politik global masih dapat mempengaruhi pasar saham Indonesia. "Harga sahamnya pasti akan mengalami kenaikan dalam jangka pendek, tapi secara global juga masih diperhatikan, khususnya dari sentimen perang. Bagi investor yang ingin masuk, mungkin tunggu dan lihat dulu," jelasnya. Nico kemudian menyarankan bagi pihak perbankan untuk melakukan aksi
buyback secara bertahap. Dengan begitu, bila harga saham berhasil naik nantinya tidak akan cepat turun kembali.
Adapun pada penutupan perdagangan saham Jumat (13/3/2026) lalu, seluruh saham
big banks, termasuk BBCA dan BBNI kompak berada dalam zona merah. BBCA ditutup pada level Rp 6.875 per saham, sedangkan BBNI berada pada level Rp 4.240 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News