Ada banyak saham-saham big caps dengan valuasi menarik



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Setelah beberapa minggu sebelumnya terus melorot, IHSG di minggu lalu mulai tampak membaik. Tapi apakah ini indikator kondisi pasar sudah benar-benar pulih? Untuk para investor yang mempunyai selera risiko rendah atau pun tinggi, sebaiknya memilih saham apa saja? Berikut ini perbincangan KONTAN dengan Muhammad Wafi Technical Analyst Bahana Securities

Bagaimana Anda melihat kondisi pasar saat ini?

Ya jadi untuk kondisi pasar sekarang ini memang kelihatannya ada mixed antara kondisi global dan domestik. Di sisi domestik kita lagi menunggu laporan keuangan kuartal ke dua dan semester satu yang kelihatannya sedikit banyak akan positif untuk mayoritas emiten. Dan itu positif juga untuk sentimen di pasar. Cuma kalau kita lihat dari sisi globalnya, memang masih banyak concern dan mayoritas memang masih banyak sentimen negatif. Terutama dipicu oleh isu perang dagang antara Amerika dan China dan juga dampaknya ke beberapa Uni Eropa. Bukan cuma masalah perang dagang, tapi juga dampaknya ke rupiah dan harga komoditas kita.


Dari laporan keuangan yang sudah keluar, apakah ini bisa membawa sentimen positif?

Saya rasa dari laporan keuangan ini akan menjadi katalis positif untuk masing-masing emiten saja. Jadi kalau kita bicara mengenai IHSG kita bicara mengenai mayoritas saham, tapi kalau kita bicara mengenai laporan keuangan itu ke masing-masing emiten. Dan saya lihat laporan keuangan ini ini justru akan menjadi paling penting dalam pergerakan masing-masing dari saham tersebut.

Target Anda untuk IHSG di akhir tahun berapa?

Kalau saya lihat akhir tahun IHSG masih ada peluang untuk menguji level 6.400 walaupun secara fundamental di awal tahun kami masih melihat IHSG akhir tahun akan berada di level sekitar 7.000. Namun melihat dari kondisi perang dagang, awal tahun kan kita tidak melihat ada isu perang dagang ya. Saat ini kita sedang mengaji ulang target akhir tahun fundamental kita di 7.000, apakah ada perubahan atau tidak.

Apa saja saham yang menarik untuk investor?

Sebenarnya untuk investor, baik itu saham untuk kapitalisasi pasar besar atau pun saham second liner, itu dua-duanya cukup atraktif ya. Kalau di satu sisi kita lihat saham berkapitalisasi besar itu sudah mengalami aksi jual yang cukup lumayan dalam kalau kita lihat dari awal tahun bahkan dari akhir tahun 2017 kemarin. Yang membuat valuasi saham-saham big caps ini, di perbankan, otomotif, konsumer menjadi sangat murah. Jadi itu bisa menjadi salah satu alternatif untuk investor yang memang memiliki profil risiko low risk low return.

Namun bagi para investor yang memang memiliki toleransi risiko yang memang cukup tinggi, saham-saham second liner cukup menarik. Memang beberapa isu di luar perang dagang yang memang negatif ada beberapa saham yang memang saya lihat diuntungkan sekali, seperti kenaikan dengan adanya perang dagang itu, kita lihat ada rally harga pulp misalkan di global dalam setahun terakhir. Ini membuat performa saham seperti INKP (Indah Kiat Pulp and Paper Tbk) dan TKIM (Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk) itu rally mulai dari akhir tahun dan sampai menyentuh level tertingginya, all time high-nya. Saya lihat katalis positif itu masih akan terus berlanjut dan akan berpengaruh juga terhadap fundamentalnya.

Apa saja top picks untuk saham-saham big caps?  

Untuk perbankan to picks kita masih di BMRI dan BBCA. Kita paling suka Bank Mandiri dan BBCA walaupun secara sektoral perbankan masih akan tertekan karena memang kenaikan suku bunga 7 days reverse repo yang terakhir malah lebih tinggi dibandingkan estimasi pasar. Namun jika mau tetap di perbankan, kami melihat di BCA dan Mandiri. Yang pertama untuk BCA, kami suka BCA karena BCA termasuk defensif bank, low cost of fund.

Paling murah dan paling bagus, kemudian Mandiri story-nya karena memang sudah kitchen sinking di sekitar 2016-2017, sehingga secara valuasi ini sudah cukup murah dan kreditnya juga sudah lebih healthy ke depannya dan paling diuntungkan juga dengan kenaikan tingkat suku bunga, karena exposures mereka lebih banyak ke institusi.

Untuk otomotif kita tetap di Astra Internasional, kalau kita lihat faktornya bermacam-macam ya. Penjualan auto masih flat, namun yang kita highlight ini adalah penjualan dari salah satu unit usaha, unit usaha bisnis heavy equipment-nya, yaitu United Tractor. Jadi top picks kita itu yaitu Astra dan United Tractor. Penjualan alat beratnya cukup bagus untuk United Tractor, itu juga mendongkrak untuk performa fundamental Astra, karena revenue terbesar kedua datang dari heavy equipment dari United Tractor, kemudian kalau kita lihat dari model bisnisnya United Tractor 2 tahun terakhir itu juga sudah berkembang tidak hanya dari heavy equipment saja, tapi juga mining contracting-nya juga naik. Harga komoditasnya batubara yang naik menguntungkan dari overburden removal revenue-nya. Jadi secara garis besar saya melihat dari United Tractornya positif, ke Astra-nya juga masih positif karena kalau kita lihat mayoritas dari lini bisnisnya Astra Internasional itu masih cukup positif. Mungkin satu dua yang masih kelihatan negatif atau flat saja, tapi secara kontribusi revenue itu masih tidak terlalu besar.

Kemudian untuk konsumer, kami masih top picks kami masih di Era Jaya dan Ramayana. Untuk Erajaya memang kita melihat ada perubahan bisnis dari emiten ini, terutama di akhir tahun 2017. Perubahan bisnisnya saya lihat mulai dari hulu ke hilir mulai restrukturisasi bisnis ya,sehingga ini sedikit banyak diuntungkan dalam performa net margin-nya. Kemudian perusahaan ini juga diuntungkan oleh adanya launching baru dari seri Samsung dan Iphone kemarin plus juga dengan angka penjualan Xiao Mi juga terus mengalami kenaikan. Itu juga tidak kami ekspektasikan sebelumnya. Untuk Ramayana memang story-nya sama ada perubahan model bisnisnya, saya lihat restrukturisasi bisnis di mana Ramayana setelah ada kerjasama dengan Spar mereka mengubah image-nya juga, lay out bisnisnya juga, modelnya juga sedikit diubah, plus mereka juga ada sedikit keuntungan dengan kartu Jakarta Pintar dan kartu Indonesia Pintar yang memang bisa digunakan di model bisnis itu sendiri. Jadi karena saya lihat marketnya lebih banyak bermain di kelas middle low, itu akan sedikit banyak diuntungkan denganadanya subsidi-subsidi yang diberikan pemerintah untuk kelas-kelas masyarakat kecil.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Djumyati P.