Ada El Nino, Pemerintah Geber Program Pompanisasi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah menyiapkan lagkah antisipasi terkait adanya proyeksi El Nino atau kemarau panjang di tahun ini. 

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, pemerintah telah mendorong program pompanisasi di lahan seluas 1,2 juta hektar sejak tahun lalu. menurutnya program akan terus digenjot untuk di lahan seluas 1 juta hektare lagi di tahun ini. 

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan tambahan irigasi perpompaan (irpom) untuk 1 juta hektare lahan guna memastikan ketersediaan air bagi tanaman padi di tengah potensi musim kering.


“Potensi kekeringan sudah kita antisipasi sejak awal melalui pompanisasi. Tahun lalu sudah 1,2 juta hektare, dan tahun ini kita tambah lagi 1 juta hektare agar produksi tetap terjaga,” kata Amran dalam Konferensi Pers Ketersediaan Stok Pangan dipantau daring, Selasa (10/3/2026). 

Baca Juga: BI: Momentum Ramadan Kinerja Penjualan Eceran Diperkirakan Naik Pada Februari 2026

Selain itu, optimalisasi lahan rawa yang telah direhabilitasi juga menjadi salah satu strategi penting dalam menjaga produksi saat musim kering. Lahan-lahan tersebut dinilai sangat potensial untuk tetap menghasilkan produksi padi meskipun pasokan air di daerah lain terbatas.

Dengan berbagai langkah tersebut, kata Amran, pemerintah terus bekerja untuk menjaga stabilitas pangan nasional sekaligus memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi.

“Insya Allah pangan kita aman. Produksi kuat, stok cukup, dan berbagai langkah antisipasi sudah kita lakukan,” ujarnya.

Amran memperkirakan produksi pangan terutama beras tetap terjaga di angka 2,6 juta-5,7 juta ton per bulan. Jumlah ini telah menlampau batas atas konsumsi rata-rata nasional yang mencapai 2,59 juta ton per bulan. 

Di sisi lain, Amran juga menyebut saat ini stok cadangan beras nasional kuat mencapai 27,99 juta ton, yang terdiri dari stok Perum Bulod sebesar 3,76 juta ton, stok masyarakat sekitar 12,50 juta ton, serta standing crop atau padi siap panen sebesar 11,73 juta ton. 

Menurutnya jumlah ini akan terus bertambah seiring dengan potensi panen raya yang akan berlangsung di beberapa bulan kedepan. 

“Kalau kita lihat data hari ini, ketersediaan pangan kita sangat aman. Total stok beras nasional cukup untuk 324 hari ke depan atau sekitar 10,8 bulan, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir,” jelas Amran. 

Di sisi lain, kondisi komoditas pangan lain seperti ayam dan telur juga berada dalam kondisi surplus. Hal ini semakin memperkuat stabilitas pangan nasional.

“Kita tidak terlalu terpengaruh dengan kondisi geopolitik global maupun potensi El Nino. Produksi kita kuat, stok kita aman,” kata Amran. 

Baca Juga: Ada Konflik AS-Iran, Prabowo Serukan Kemandirian Pangan dan Energi Energi

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau tahun 2026 lebih awal dibandingkan rerata klimatologinya. Kondisi ini dipicu oleh berakhirnya fenomena La Nina Lemah pada Februari 2026, yang kini telah bergeser ke fase Netral dan berpotensi menuju El Nino pada pertengahan tahun. 

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa pemantauan anomali iklim global di Samudera Pasifik menunjukkan nilai indeks ENSO saat ini berada pada angka -0,28 (Netral) dan diprediksi bertahan hingga Juni 2026. Namun demikian, mulai pertengahan tahun peluang munculnya El Nino kategori Lemah-Moderat sebesar 50-60% mulai semester kedua tahun ini perlu menjadi perhatian.

"Sementara itu, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi tetap stabil pada fase Netral sepanjang tahun,” kata Faisal dalam Konferensi Pers Prakiraan Awal Musim Kemarau 2026 di Gedung Multi-Hazard Early Warning System, Jakarta, Rabu (4/3). 

Peralihan Angin Baratan (Monsun Asia) menjadi Angin Timuran (Monsun Australia) menjadi penanda dimulainya musim kemarau. BMKG mencatat sebanyak 114 Zona Musim (ZOM) atau 16,3% wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau pada April 2026, mencakup pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, NTB, NTT, serta sebagian kecil Kalimantan dan Sulawesi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News