KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI) mencermati prospek permintaan angkutan laut sepanjang 2026 di tengah kondisi dinamika geopolitik global, termasuk ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Corporate Secretary ELPI Wawan Heri Purnomo mengatakan potensi pelemahan permintaan lebih berisiko terjadi pada bisnis drybulk karena sangat berkaitan dengan pergerakan ekonomi global dan perdagangan komoditas. “Perseroan menyadari bahwa dinamika geopolitik, termasuk ketegangan di kawasan Timur Tengah, berpotensi memberikan dampak langsung terhadap aktivitas ekonomi global, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi industri kemaritiman khususnya di bidang drybulk,” ujar Wawan kepada Kontan.co.id, Senin (27/4/2026).
Baca Juga: Gelar RUPST, AKR Corporindo (AKRA) Bakal Bagi Dividen Tunai Rp 1,98 Triliun Sementara itu, untuk segmen offshore, pengaruhnya dinilai belum terlalu signifikan karena beban biaya bahan bakar masih menjadi tanggungan klien.
Meski demikian, ELPI tetap menjadikan kondisi tersebut sebagai perhatian utama, terutama untuk langkah mitigasi risiko apabila terjadi perubahan kontrak. Dalam menghadapi situasi tersebut, ELPI tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan perencanaan yang matang dalam menjalankan kegiatan usaha, dengan berpegang pada prinsip safe, reliable, dan efficient. ELPI juga meyakini bahwa kualitas armada, kompetensi kru kapal, basis pelanggan yang kuat, serta kontrak jangka panjang menjadi faktor penting yang menjaga stabilitas permintaan dan keberlangsungan operasional. “Dengan dukungan kualitas armada, kompetensi kru kapal, serta basis pelanggan yang kuat dan kontrak jangka panjang, Perseroan tetap memiliki daya saing yang solid untuk menjaga stabilitas permintaan,” jelasnya. Dengan pendekatan tersebut, ELPI optimistis kondisi saat ini tidak akan memberikan dampak material terhadap kinerja, bahkan tetap membuka peluang untuk mempertahankan hingga meningkatkan performa sepanjang tahun berjalan. Di sisi lain, kenaikan ongkos logistik tetap menjadi tantangan utama, terutama pada segmen drybulk yang paling sensitif terhadap lonjakan biaya bahan bakar dan operasional.
Untuk menjaga stabilitas usaha ke depan, ELPI secara konsisten menerapkan strategi efisiensi biaya di seluruh lini operasional. Langkah tersebut dilakukan melalui optimalisasi penggunaan armada, peningkatan efisiensi konsumsi bahan bakar, serta pengelolaan operasional yang lebih terintegrasi. “Perseroan secara konsisten menerapkan strategi efisiensi biaya melalui optimalisasi penggunaan armada, peningkatan efisiensi konsumsi bahan bakar, serta pengelolaan operasional yang lebih terintegrasi,” ungkap Wawan. Dengan strategi tersebut, Manajemen berupaya menjaga keseimbangan antara efisiensi biaya dan kualitas layanan agar operasional tetap optimal dan berkelanjutan di tengah dinamika industri. Untuk tahun 2026, ELPI menargetkan pertumbuhan pendapatan pada kisaran 10% hingga 30%, dengan proyeksi pendapatan berada di rentang sekitar Rp 1,1 triliun hingga Rp 1,3 triliun. Pihaknya berharap target kinerja yang dibidik tahun ini dapat tercapai seiring dengan rencana penambahan armada yang saat ini masih berjalan.
Jika proses pengadaan dan pengoperasian armada baru dapat terealisasi sesuai jadwal, perseroan menilai target tersebut masih realistis untuk dicapai.
Baca Juga: Masuk Sektor Machining & Casting, Geoprima Solusi (GPSO) Rancang Rights Issue “Apabila proses pengadaan dan pengoperasian armada baru dapat terealisasi sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan, Perseroan memandang bahwa target pertumbuhan tersebut berada pada tingkat yang realistis dan dapat dicapai pada tahun 2026,” tegasnya.
Namun, ELPI juga membuka kemungkinan revisi target apabila tekanan geopolitik global terus berlanjut dan berdampak lebih besar terhadap kenaikan harga bahan bakar serta biaya operasional, khususnya pada segmen drybulk. “Mengingat geopolitik yang masih bergejolak berdampak pada harga bahan bakar dan meningkatkan biaya operasional pada segmen drybulk, apabila kondisi ini terus berlanjut maka akan terdapat potensi untuk melakukan revisi terhadap target kinerja keuangan,” tutup Wawan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News