KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (
ISSP) optimistis prospek industri baja akan membaik pada semester II 2026. Berlanjutnya pembangunan infrastruktur, proyek swasta, serta meningkatnya belanja sektor manufaktur diperkirakan akan mendongkrak permintaan baja hingga akhir tahun.
Baca Juga: Dukung Industri AMDK, Amdatara Perkuat Pengelolaan Berkelanjutan & Ekonomi Sirkular Chief Strategy and Business Development Officer sekaligus Corporate Secretary & Investor Relations ISSP, Johanes W. Edward mengatakan, perseroan tetap optimistis dapat mencapai target bisnis tahun ini meski ketidakpastian global masih membayangi. "Kami melihat prospek industri baja pada semester II 2026 cenderung lebih baik dibandingkan semester pertama, seiring berlanjutnya aktivitas pembangunan infrastruktur, proyek swasta, serta peningkatan belanja sektor manufaktur," ujar Johanes kepada Kontan.co.id, Jumat (3/7/2026). Meski demikian, ia mengingatkan bahwa prospek tersebut masih diwarnai sejumlah risiko eksternal, mulai dari dinamika perdagangan global, fluktuasi harga komoditas, pergerakan nilai tukar, hingga ketegangan geopolitik yang dapat memengaruhi sentimen pasar dan keputusan investasi. Karena itu, ISSP tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam menjalankan strategi bisnis sepanjang sisa tahun ini.
Baca Juga: Program B50 Nasional Bergulir, Elnusa Petrofin Tancap Gas Salurkan Biosolar Industri Dari sisi pasar, Johanes menyebut permintaan domestik masih menjadi penopang utama penjualan perseroan. Permintaan dari sektor konstruksi, infrastruktur, manufaktur, hingga distribusi air dinilai masih cukup terjaga. Sementara itu, permintaan ekspor juga masih menunjukkan tren positif meski kondisi pasar global belum sepenuhnya pulih. "Ke depan, kami tetap memprioritaskan pasar domestik, namun akan terus memanfaatkan peluang ekspor yang memberikan nilai tambah dan margin yang kompetitif," katanya. Untuk mengantisipasi potensi peningkatan permintaan, ISSP saat ini mengoperasikan fasilitas produksinya dengan tingkat utilisasi sekitar 60% hingga 70%. Menurut Johanes, kapasitas yang masih tersedia memberi ruang bagi perusahaan untuk meningkatkan produksi tanpa harus menambah investasi dalam waktu dekat.
Baca Juga: KKP Garap Modernisasi 4.582 Kapal Perikanan, Tahap Awal Dibiayai Pinjaman Inggris "Apabila permintaan pasar meningkat pada semester II, kami siap melakukan penyesuaian utilisasi secara bertahap sesuai kebutuhan pelanggan dan kondisi pasar," imbuhnya.
Di sisi lain, ISSP menilai biaya produksi masih relatif terkendali. Meski harga bahan baku baja, terutama hot rolled coil (HRC), masih berfluktuasi mengikuti perkembangan pasar global, biaya energi dinilai lebih stabil dibandingkan beberapa tahun terakhir. Perseroan juga terus melakukan pengelolaan persediaan, meningkatkan efisiensi operasional, serta mengoptimalkan bauran produk untuk menjaga daya saing. "Dengan pendekatan tersebut, dampak fluktuasi biaya terhadap margin diharapkan tetap dapat dikelola secara terkendali, meskipun tekanan persaingan harga di pasar masih menjadi tantangan," tutup Johanes. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News