KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah analis memprediksi pergerakan harga Bitcoin dalam tren
bearish pada kuartal III. Hal ini dinilai dari pergerakan secara historis dalam beberapa tahun ke belakang. Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur melihat peluang Bitcoin masih cenderung tertekan. Jika mengacu pada data Bitcoin Quarterly Returns dari tahun 2017 sampai tahun 2025, memang secara historis kuartal ketiga lebih sering ditutup positif. Namun, ada beberapa pengecualian, salah satunya pada tahun 2019, ketika pasar mengalami koreksi menjelang siklus halving. Biasanya pada fase seperti ini, pergerakan Bitcoin cenderung lebih membosankan, bergerak
sideways, bahkan disertai tekanan turun.
“Kondisi tersebut menurut saya cukup mirip dengan yang terjadi saat ini, di mana Bitcoin bergerak
sideways dengan kecenderungan
bearish, bahkan sempat turun hingga ke area US$ 58.000 dan masih berpotensi melanjutkan koreksi,” ujar Fyqieh kepada Kontan, Jumat (26/6/2026).
Baca Juga: Semen Indonesia (SMGR) Kembali Likuidasi Entitas Bisnis, Kini Total Empat Ditutup Jika dilihat lagi polanya dari tahun 2017 hingga tahun 2025, Fyqieh bilang ada kecenderungan dua tahun berturut-turut mencatatkan kinerja positif, kemudian di tahun berikutnya mengalami koreksi. Tentu pola ini tidak bisa dijadikan patokan mutlak karena ada banyak faktor lain yang memengaruhi pasar. Salah satunya adalah kondisi makroekonomi yang saat ini masih belum kondusif. Inflasi di Amerika Serikat masih cukup tinggi sehingga The Fed masih cenderung bersikap hawkish dan belum memiliki ruang yang cukup besar untuk menurunkan suku bunga. Sentimen ini juga memberikan tekanan tidak hanya pada pasar kripto, tetapi juga aset-aset lain. Publik juga dapat melihat harga emas sempat mengalami koreksi, begitu juga beberapa indeks saham utama di Amerika Serikat seperti S&P 500 yang ikut tertekan setelah pernyataan The Fed pada bulan Juni. “Karena itu, saya melihat kuartal III masih memiliki potensi bergerak dalam tren yang cenderung lemah atau
bearish. Namun menurut saya investor juga tidak perlu terlalu khawatir,” kata Fyqieh. Menurutnya, jika melihat siklus Bitcoin dalam jangka panjang, fase koreksi memang merupakan bagian dari siklus pasar. Secara historis, dalam satu siklus empat kuartal biasanya hanya ada periode tertentu yang mengalami tekanan, sementara kuartal-kuartal berikutnya kembali menunjukkan pemulihan. Sebab itu, yang terpenting saat ini adalah tetap memperhatikan perkembangan faktor-faktor makro, seperti kebijakan The Fed, inflasi, dan dinamika geopolitik, karena faktor-faktor tersebut masih akan menjadi penentu utama arah pergerakan Bitcoin ke depan. Fahmi Almuttaqin, Analis Reku mengatakan, dengan inflasi PCE Amerika Serikat bulan Mei yang dirilis baru-baru ini menunjukkan kenaikan yang cukup signifikan menyentuh angka 4,1% secara year on year (YoY) yang merupakan angka kenaikan tertinggi sejak April 2023. Hal itu membuat prospek Bitcoin hingga kuartal III memiliki ketidakpastian yang tinggi. Di satu sisi koreksi yang ada saat ini mungkin telah memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga sebanyak satu kali, namun di sisi lain potensi kembali naiknya inflasi masih terbuka.
Baca Juga: Kejar Untung, Hotel Fitra (FITT) Banting Stir ke Pertambangan Nikel “Sejauh ini tekanan bearish belum terlihat memudar namun potensi katalis positif dari masih solidnya adopsi dan akumulasi investor jangka panjang dapat menjadi penguat harga,” ucap Fahmi. Fahmi menambahkan, sentimen yang perlu diperhatikan untuk mencermati Bitcoin antara lain dinamika geopolitik yang mempengaruhi harga minyak, arah kebijakan suku bunga The Fed yang dipengaruhi oleh data-data ekonomi khususnya dari sektor ketenagakerjaan dan inflasi. Tren rotasi likuiditas ke instrumen berisiko yang dipengaruhi selera risk-on investor, serta kondisi fundamental seperti (namun tidak terbatas pada) adopsi institusi dan integrasi teknologi. "Hal – hal tersebut kemungkinan besar masih akan menjadi sentimen-sentimen yang mempengaruhi volatilitas harga Bitcoin," terang Fahmi. Disamping itu, Fyqieh menyoroti kondisi indeks fear & greed yang sedang dalam fase extreme fear. Menurut Fyqieh, dengan kondisi tersebut sebenarnya investor tidak perlu terlalu khawatir, khususnya bagi investor yang fokus pada Bitcoin. Ini berbeda dengan altcoin. Altcoin memiliki risiko yang jauh lebih tinggi karena ada banyak faktor yang bisa membuat harganya turun, mulai dari aksi jual investor awal, insider trading, manipulasi pasar, kasus hacking, proyek yang mulai ditinggalkan pengembang, hingga distribusi token dari investor yang membeli di harga ICO atau private sale. Karena itu, volatilitas altcoin memang jauh lebih tinggi dibandingkan Bitcoin. Kalau dibandingkan, Fyqieh menjelaskan ketika Bitcoin turun sekitar 5%, tidak jarang altcoin justru bisa turun lebih dari 10% dalam waktu yang sama. Memang benar, ketika pasar kembali
bullish, altcoin biasanya juga mampu memberikan kenaikan yang lebih besar dibandingkan Bitcoin. Namun potensi keuntungan tersebut juga datang dengan risiko yang sebanding. Karena itu, untuk kondisi pasar seperti sekarang, Bitcoin masih menjadi pilihan yang relatif lebih aman dibandingkan sebagian besar altcoin.
Baca Juga: Indofood CBP (ICBP) Bakal Bagi Dividen Rp 265 per Saham “Strategi yang saya lihat masih paling relevan saat ini adalah Dollar Cost Averaging (DCA) atau melakukan akumulasi secara bertahap. Alasannya karena kondisi pasar masih dipenuhi ketidakpastian dan animo investor juga mulai berkurang,” jelas Fyqieh.
Fyqieh memproyeksikan Bitcoin saat ini masih memiliki potensi untuk melanjutkan koreksi terlebih dahulu ke area support di kisaran US$ 50.000. Area ini merupakan support yang cukup kuat karena sebelumnya juga sempat menjadi area pantulan pada Agustus 2024. Sementara itu, untuk area resistensi, Fyqieh melihat level US$ 72.000 menjadi zona yang cukup penting. “Selain merupakan area
all-time high pada siklus 2024, level ini juga menjadi resistance yang harus ditembus sebelum Bitcoin memiliki peluang melanjutkan tren naik yang lebih besar,” pungkas Fyqieh. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News