KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT DCI Indonesia Tbk (
DCII) membukukan pertumbuhan pendapatan pada semester I-2026. Kenaikan pendapatan turut mendongkrak pertumbuhan laba DCII. Melansir laporan keuangan per 30 Juni 2026, DCII mencatat pendapatan sebesar Rp 1,77 triliun. Nilai tersebut meningkat 10,92% secara tahunan atau Year on Year (YoY) dibandingkan realisasi semester I-2025. Pendapatan DCII masih didominasi jasa kolokasi yang mencapai Rp 808,40 miliar. Sementara itu, pendapatan lainnya tercatat sebesar Rp 49,69 miliar dengan mayoritas pendapatan masih berasal dari pelanggan pihak ketiga.
Di sisi lain, beban pokok pendapatan meningkat 46,75% secara tahunan menjadi Rp 813,72 miliar. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, beban pokok pendapatan DCII tercatat sebesar Rp 554,42 miliar.
Baca Juga: Proyeksi IHSG dan Rekomendasi Saham untuk Senin (27/7) Meski begitu, laba usaha DCII masih tumbuh 9,61% YoY menjadi Rp 882,86 miliar per Juni 2026. Laba periode berjalan DCII pun juga ikut naik 9,79% secara tahunan menjadi Rp 732,57 miliar. Laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp 732,53 miliar di semester I-2026. Raihan tersebut meningkat 9,81% secara tahunan dari Rp 616,94 miliar. Equity Research Analyst KB Valbury Sekuritas Atikah Tri Adriyanti mengatakan, prospek pertumbuhan jangka panjang DCII masih terjaga. Ini didukung ekspansi berkelanjutan di pusat data yang telah beroperasi serta proyek Bintan Data Center Park. Adapun proyek Bintan Data Center Park masih berada pada tahap awal pengembangan. Kawasan tersebut dirancang memiliki kapasitas hingga 1.000 megawatt (MW) di atas lahan seluas 700 hektare. Atikah menjelaskan pengembangan proyek tersebut didukung status Bintan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan
Free Trade Zone (FTZ). Lokasinya yang berdekatan dengan Singapura juga menjadi nilai tambah bagi pengembangan pusat data. “Namun saat ini, saham DCII diperdagangkan pada, rasio
price to earnings (P/E) DCII mencapai 493,7 kali atau berada di batas atas kisaran historis lima tahun terakhir yang berkisar 123,2 kali hingga 493,7 kali,” tulisnya dalam riset yang dirilis 16 Juli 2026. Atikan juga menyoroti likuiditas perdagangan saham DCII yang masih terbatas. Rata-rata nilai transaksi harian hanya sekitar Rp 479,8 juta sehingga berkontribusi terhadap tingginya volatilitas harga saham.
Baca Juga: BEI Umumkan 59 Emiten Berpotensi Forced Delisting, Bagaimana Nasib Investor? Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News