Ada Puluhan Emiten Bakal Bagi Dividen Pekan Ini, Simak Daftar dan Saran Analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ini kesempatan bagi investor untuk berburu cuan melalui pembagian dividen belum usai. Sebab, masih ada banyak emiten yang berencana membagikan dividen tunai dalam waktu dekat. Di pekan yang tergolong singkat kali ini atau Rabu (17/6) hingga Jumat (19/6) mendatang, ada 30 emiten yang dijadwalkan akan cum date dividen tunai tahun buku 2025. Untuk hari Rabu, ada KBLM (Rp 7 per saham), TLKM (Rp 222,08), ELSA (Rp 44,29), OMED (Rp 4,08), PTSN (Rp 7,07), dan ISSP (Rp 20) yang akan cum date dividen tunai.

Baca Juga: Wijaya Karya (WIKA) Beri Penjelasan ke BEI Terkait Penggeledahan Terkait Korupsi Gula Beralih ke hari Kamis, ada SCCO (Rp 100), LAJU (Rp 0,15), MTDL (Rp 27), ASRI (Rp 1,5), ASPR (Rp 0,64), MFMI (Rp 29), JSPT (Rp 25), MOLI (Rp 7,34), SCNP (Rp 4,33), dan DAAZ (Rp 39) yang bakal cum date dividen tunai. Masih di hari yang sama, IGAR (Rp 5), TBIG (Rp 47), HATM (Rp 2), BLES (Rp 1,89), MIKA (Rp 43), BBMD (Rp 22,33), dan DSNG (Rp 47) juga dijadwalkan cum dividen tunai. Memasuki hari Jumat nanti, emiten yang melaksanakan cum date dividen tunai antara lain ANTM (Rp 209,99), BYAN (Rp 268,81), IPCC (Rp 86,69), ACES (Rp 32,01), MKTR (Rp 1,86), ASBI (Rp 5,7), dan MLBI (Rp 371). Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, dari sekian emiten tersebut, ia memfavoritkan ACES, TLKM, ELSA, IPCC, ANTM, MLBI, dan ISSP lantaran mampu menawarkan yield dividen di atas 5%.

Sebagai contoh, TLKM memiliki potensi yield dividen 7,58% berdasarkan posisi harga saham perdagangan Senin (15/6) di level Rp 2.930 per saham. Adapun ANTM punya potensi yield dividen 6,71% bila berkaca pada harga sahamnya kemarin yaitu Rp 3.130 per saham. Sementara menurut Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi, ada tiga saham yang cukup menjanjikan berdasarkan kombinasi yield dividen dan fundamental. Pertama, TLKM yang diuntungkan oleh rencana pembelian kembali (buyback) saham senilai Rp 4 triliun dan spin-off InfraNexia yang akan menjadi katalis positif bagi kelangsungan usaha emiten tersebut.


Baca Juga: Puradelta Lestari (DMAS) Bagi Dividen Final Rp 795 Miliar, Potensi Yield Capai 10,58%

Berikutnya, ada ANTM yang memiliki leverage terhadap emas dan diversifikasi ke sektor alumina  yang solid. Ketiga, TBIG yang unggul berkat kontrak sewa infrastruktur menara secara jangka panjang dan pendapatan berulang (recurring income) yang defensif. Wafi juga menyebut, musim dividen akan menjadi sentimen pendukung di tengah tren penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir, namun bukan sebagai katalis reli yang besar. "Sebab, potensi dividend drop usai ex-date biasanya akan menetralkan kenaikan harga saham sebelum cum date," ujar dia, Senin (15/6). Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menilai, saham TLKM, ANTM, dan ELSA dapat menjadi pilihan terbaik bagi investor pemburu dividen, karena ketiganya menawarkan yield dividen tinggi di atas bunga deposito serta dibekali dengan fundamental yang kuat. Harry juga menganggap saham-saham pembagi dividen berpotensi banyak dilirik oleh investor sebagai strategi defensif untuk mengamankan keuntungan riil di tengah kondisi pasar yang masih rawan gejolak. Bukan mustahil pula musim dividen ini bisa membantu memberi tenaga bagi IHSG untuk terus melaju. "Pembagian dividen jumbo dari emiten berkapitalisasi besar berpotensi mendorong penguatan IHSG melalui aksi reinvestment dana dividen oleh investor," kata dia, Senin (15/6). Bagi investor berorientasi jangka pendek, Harry menyarankan mereka untuk fokus pada besaran imbal hasil dividen, tingkat likuiditas saham, dan potensi penurunan harga saham saat periode ex-date. Sebaliknya, bagi investor jangka panjang, mereka harus evaluasi konsistensi pertumbuhan laba bersih emiten, rekam jejak rasio pembayaran dividen, serta keberlanjutan bisnis emiten yang bersangkutan.

Baca Juga: Waskita Beton (WSBP) Private Placement 178,68 Juta Saham, Ini Rinciannya "Untuk mengukur potensi koreksi, pastikan persentase dividend yield lebih besar daripada estimasi penurunan harga saham pada hari ex-date," jelas Harry. Nico juga mengingatkan pentingnya agar investor jangan sampai terkena jebakan dividen (dividend trap). Oleh karena itu, investor perlu mencermati fundamental emiten yang hendak membagikan dividen. Terlebih lagi, situasi dan pasar sekarang masih dipenuhi volatilitas dan ketidakpastian, sehingga harga saham berpotensi mengalami perubahan arah secara cepat. "Belum lagi, ketika pembagian dividen, harga suatu saham pasti mengalami penurunan. Namun, saham dengan fundamental kuat biasanya akan kembali pulih setelah mengalami koreksi harga," terang dia, Senin (15/6). Sementara menurut pandangan Wafi, investor harus memastikan bahwa dividen yang diumumkan emiten benar-benar berbasis laba operasional berulang (recurring), bukan aset yang dijual ataupun utang. Investor juga perlu menghitung total keuntungan, bukan hanya imbal hasil dividen itu sendiri. Bagi investor yang mau masuk ke saham pembagi dividen, momentum terbaik sebenarnya ada pada rentang waktu 2--4 minggu sebelum cum date, bukan H-1 cum date yang mana harga sahamnya sudah di level premium. Guna meminimalisir risiko jebakan dividen, investor perlu perhatikan beberapa aspek. Di antaranya adalah rasio pembayaran dividen yang konsisten selama lebih dari tiga tahun, Debt to Equity Ratio (DER) di bawah satu kali, dan laba bersih yang tumbuh positif secara tahunan. "Hindari emiten dengan dividend payout ratio (DPR) lebih dari 90% tanpa pertumbuhan laba, karena jadi sinyal dividend trap klasik," imbuh dia. Lantas, Wafi menyarankan investor untuk mencermati saham TLKM, ANTM, TBIG, dan ELSA sebagai deretan saham pembagi dividen. Di lain pihak, Harry menyebut saham TLKM dan ANTM layak dipertimbangkan investor yang sedang mencari dividen.

Baca Juga: Waskita Beton (WSBP) Private Placement 178,68 Juta Saham, Ini Rinciannya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News