Ada rebalancing FTSE micro cap, saham ini paling menarik untuk dilirik investor



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Financial Times Stock Exchanege (FTSE) melakukan rebalancing untuk FTSE global equity index. Rebalancing ini dilakukan untuk indeks Asia Pasifik kecuali Jepang dan China.

Hasilnya, sejumlah saham emiten mengisi indeks tersebut dengan kategori micro cap. Pendatang baru tersebut adalah, saham PT Link Net Tbk (LINK), PT Indomobil Sukses International Tbk (IMAS), PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (MARK), PT Acset Indonusa Tbk (ACST), PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) dan PT Sky Energy Indonesia Tbk (JSKY).

Namun, rebalancing yang telah diumumkan pada 19 Februari kemarin itu tak serta-merta mengerek pergerakan harga saham. Setidaknya selama sepekan terakhir, hanya ada sejumlah saham seperti saham LINK yang naik 13,73%. Saham IMAS dan MARK masing-masing menguat 7,54% dan 0,47%.


Sedangkan saham ACST dan JSKY turun masing-masing 2,01% dan 2,91%. Sedang saham WIIM turun 1,70%.

Analis Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas menyebut, LINK memang paling menarik di antara lima saham lainnya. Meski dalam pandemi Covid-19, LINK masih mampu mencatat kenaikan pendapatan 5,4% secara kuartalan menjadi Rp 1,02 triliun pada kuartal ketiga tahun lalu.

Baca Juga: Ini Hasil Kocok Ulang Daftar Penghuni FTSE Global Equity Index Series Asia Pacific

Meski laba bersih sepanjang sembilan bulan periode 2020 turun 9% secara tahunan menjadi Rp 698,91 miliar, LINK masih mencatat kenaikan EBITDA 6,3% secara kuartalan menjadi Rp 578 miliar pada kuartal III-2020. "LINK memiliki rasio profitabilitas yang tinggi," ujar Sukarno, Senin (3/1).

Margin pada kuartal III-2020 saja mencapai 56,5%. Angka ini naik tipis dibanding kuartal sebelumnya, 56%.

"Mempertimbangkan kinerja kuartalan, valuasi LINK saat ini juga rendah. Price to earning ratio (PER) saat ini 10 kali," terang Sukarno.

Dia menambahkan, WIIM sejatinya bisa menjadi opsi kedua selain LINK. Jika dilihat dari valuasinya, PER WIIM sebesar 12,53 kali masih lebih rendah dibanding rata-rata industrinya.

Namun, PER yang juga lebih rendah dari HMSP, 16,85 kali, itu sudah berada di standar deviasinya. "Jadi, bisa dibilang cukup mahal jika dilihat dari perspektif PER band," imbuh Sukarno.

Oleh karena itu, dia lebih menjagokan LINK dengan rekomendasi trading buy. Target harganya Rp 3.840 per saham.

Sedang untuk WIIM, Sukarno merekomendasikan trading sell. "Secara teknikal, ada pola double top sehingga harga akan kembali turun," imbuhnya.

Saham WIIM pada Senin (1/3) ditutup turun 6,99% ke level Rp 865 per saham. Sedang saham LINK menguat 5,45% ke level Rp 3.480 per saham.

Selanjutnya: Simak rekomendasi saham-saham yang dikabarkan masuk indeks MSCI dan FTSE

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi