Ada sinyal perbaikan ekonomi di Brasil



BRASILIA. Ekonomi Brasil melesu dalam enam kali triwulan berturut-turut. Agen statistic IBGE menyatakan, pada triwulan dua yang berakhir di Juni 2016, PDB Brasil turun 0,6% jika dibandingkan dengan triwulan I atau turun 3,8% dari periode yang sama tahun lalu.

Akan tetapi, investasi di Brasil tumbuh untuk pertama kalinya sejak 2013 lalu. Investasi tumbuh 0,4% setelah 10 triwulan terakhir mengalami kontraksi secara beruntun. Tumbuhnya investasi tersebut tentu saja memberikan harapan akan perbaikan ekonomi yang moderat.

Tidak hanya itu, produksi di sektor industri pun akhirya mengalami titik balik setelah meningkat setelah terpuruk selama lima kali triwulan berturut-turut. Namun, di tengah investasi dan produksi industri yang menunjukkan perbaikan, jumlah pengangguran masih mungkin untuk memberatkan sektor konsumsi yang pada akhirnya berpengaruh pada produksi lantaran penyerapan melesu. 


Ekonom Banco Fator, José Francisco Gonçalves menyatakan, Brasil telah mencapai titik terendahnya pada triwulan kedua. “Kami melihat kemungkinan ekonomi akan menjadi lebih stabil di triwulan ketiga dan adanya pertumbuhan di triwulan keempat,” kata Gonçalves.

Ekonomi Brasil memang diperikarakan masih akan mengalami kontraksi lebih dari 3% di sisa tahun 2016 sebelum akhirnya tumbuh 1,2% pada 2017 mendatang. Penurunan ekonomi di Brasil beberapa tahun belakangan ini merupakan yang terburuk sejak krisis 2008. Imbasnya adalah 1,7 juta orang kehilangan pekerjaan selama 12 bulan terakhir dan juga pemerintah kesulitan untuk mendapat rating investasi yang baik.

Chief Economist Banco Fibra, Cristiano Oliviera meramal, akan ada beberapa persetujuan dalam hal reformasi ekonomi di Kongres dan pemangkasan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang. Bank Sentral Brasil  diharapkan menetapkan benchmark bunga mereka di kisaran 14,25% mengingat inflasi mereka pun masih mandek di kisaran 9%.

“Ekonomi sudah merespon adanya perubahan di pemerintahan,” kata Oliviera yang juga memperkirakan ekonomi Brasil akan tumbuh 20,1% pada 2017.

Editor: Rizki Caturini