Ada spekulan di minyak goreng



JAKARTA. Bulan Ramadan selalu ditandai dengan kenaikan harga-harga kebutuhan pokok. Tak terkecuali komoditas minyak goreng curah. Di sejumlah pasar tradisional di Jakarta, harga minyak goreng curah terpantau tinggi.

Di Pasar Tebet Barat, harga minyak goreng curah mencapai Rp 14.000 per kilogram (kg), dan di Pasar Kramat Jati sebesar Rp 12.500 per kg. Adapun harga rata-rata minyak goreng curah di sejumlah pasar di Jakarta tercatat sebesar Rp 12.384 per kg.

Harga tersebut jauh di atas harga pabrik yang sebesar Rp 10.050 per kilogram (kg). Bila minyak goreng ini sampai ke pasar, dengan perhitungan keuntungan dan biaya transportasi, maka harga idealnya adalah Rp 11.954 per kg. Namun, bila minyak goreng ini dijual per liter, harganya sebesar Rp 9.759 per liter di pabrik dan menjadi Rp 10.519 per liter di pasaran.


"Harga minyak goreng di pasaran seharusnya tetap di bawah Rp 11.000 per liter, sesuai dengan permintaan Kementerian Perdagangan," ujar Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga, Selasa (7/6).

Menurut Sahat, saat ini, tidak ada alasan harga minyak goreng curah terlalu tinggi di pasaran. Sebab, dari segi pasokan, para produsen minyak goreng sudah menggenjot produksi dan cukup aman.

Produsen minyak goreng menargetkan ketersediaan stok minyak goreng selama bulan Juni 2016 sebanyak 680.000 ton atau lebih tinggi 14% dari rata-rata stok minyak goreng dari bulan Januari hingga Mei 2016. Pada bulan Mei, stok minyak goreng sebesar 550.000 ton.

Sahat mensinyalir, kenaikan harga minyak goreng curah ini dampak permainan para spekulan. Untuk itu, ia meminta agar para pedagang minyak goreng tidak menaikkan secara sepihak harga di pasaran karena momen puasa dan lebaran. GIMNI telah meminta anggotanya untuk memantau agen dan pedagang minyak goreng yang menjual produk mereka.

Bila ditemukan ada agen yang menjual di atas batas yang wajar, maka industri diminta untuk tidak menyalurkannya melalui agen tersebut. Selain itu, GIMNI juga siap melakukan Operasi Pasar (OP) bila pemerintah meminta. Namun industri tidak akan turun ke pasar bila tidak ada permintaan pemerintah karena berpotensi melanggar UU Persaingan Usaha.

Senada dengan Sahat, Managing Director Sinar Mas, G. Sulistiyanto mengatakan, ketersediaan minyak goreng bagi masyarakat sangat mencukupi, sehingga kelangkaan dan gejolak harga tidak seharusnya terjadi.

Ia juga memastikan, perusahaannya melalui PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMART) selalu berusaha menjaga ketersediaan dan kelancaran pasokan minyak goreng bagi warga masyarakat, terutama sepanjang bulan Ramadan.

Sinar Mas sendiri menyediakan lebih dari 5.000 liter minyak goreng kemasan yang akan disalurkan dengan harga Rp 9.000 per liter dalam kegiatan Bazar Rakyat. Sementara, untuk minyak kemasan, Sinar Mas menjual dengan merek Filma.

Sidak pabrik

Seperti diketahui, minyak goreng merupakan salah satu komoditas yang menjadi menjadi perhatian pemerintah selama menjelang Ramadan ini. Bahkan, Presiden Joko Widodo telah meminta ada inspeksi langsung ke sejumlah pabrik minyak goreng untuk melihat persiapan mereka memasuki bulan Ramadan agar tidak terjadi lonjakan harga.

Menindaklanjuti instruksi itu, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman gencar menyambangi pabrik minyak goreng. Dari hasil inspeksinya itu, ia pun memastikan pasokan minyak goreng aman menjelang Lebaran. Begitu juga dengan harga.

Mentan mengatakan, pemerintah bersama produsen minyak goreng telah bersepakat menurunkan harga minyak goreng sebesar 5,5% di seluruh Indonesia. Maka itu, kenaikan harga minyak goreng di pasaran menjadi tidak wajar. Terlebih Indonesia merupakan negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Dupla Kartini