KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Integra Indocabinet Tbk (WOOD) memperkuat diversifikasi pasar ekspor untuk menjaga pertumbuhan bisnis di tengah tekanan tarif perdagangan Amerika Serikat (AS). Emiten produsen furnitur dan komponen bangunan berbasis kayu ini mulai meningkatkan penetrasi pasar Eropa sekaligus mengembangkan penjualan langsung ke konsumen melalui kanal e-commerce. Investor Relation WOOD Ravenal Arvense mengatakan, tantangan bisnis hingga akhir tahun terutama berasal dari ketidakpastian makroekonomi global, tingginya suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) di AS, serta dinamika kebijakan perdagangan dan tarif.
Di tengah kondisi tersebut, WOOD tidak hanya mengandalkan produk furnitur, tetapi juga komponen bangunan berbasis kayu, seperti kusen pintu dan jendela. Diversifikasi produk ini membuat perseroan memiliki eksposur permintaan yang lebih beragam.
Baca Juga: Investor Makin Selektif, Permintaan Lahan Kawasan Industri Tetap Tumbuh Strategi diversifikasi pasar juga mulai menunjukkan hasil. Ravenal menyebut, kontribusi pasar Eropa terhadap penjualan WOOD meningkat menjadi sekitar 18% pada semester I-2026, dari sekitar 2% pada periode yang sama tahun sebelumnya. "Kami melihat Eropa menjadi salah satu pasar dengan peluang pertumbuhan paling menarik, seiring kontribusinya yang meningkat signifikan dalam satu tahun terakhir. Ke depan, WOOD akan terus memperluas basis pelanggan dan portofolio produk di kawasan tersebut, selain tetap mempertahankan posisi di Amerika Serikat dan mengembangkan pasar Asia," ujar Ravenal kepada Kontan, Minggu (18/10/2026). Menurut Ravenal, diversifikasi geografis tersebut ditujukan untuk menambah sumber pertumbuhan baru sekaligus menyeimbangkan komposisi pendapatan. Dengan demikian, WOOD dapat mengurangi ketergantungan terhadap satu pasar maupun beberapa pelanggan besar. Dari sisi produk, segmen komponen bangunan menjadi salah satu penopang ekspor WOOD. Pada semester I-2026, ekspor komponen bangunan yang memperoleh pengecualian tarif AS berdasarkan Annex II tumbuh 23,2% secara tahunan atau year-on-year (yoy) menjadi Rp 1,26 triliun. Segmen ini menyumbang lebih dari 87% dari total ekspor manufaktur perseroan. Sebaliknya, ekspor furnitur mengalami tekanan dengan penurunan 55,1% yoy karena produk tersebut tidak masuk dalam pengecualian tarif Annex II. Untuk merespons kondisi ini, WOOD mulai mengembangkan strategi direct-to-consumer melalui e-commerce di pasar AS. Dua dari empat merek furnitur perseroan telah diluncurkan di platform e-commerce AS. Meski demikian, pasar domestik juga tetap menjadi peluang pertumbuhan tambahan bagi WOOD. Ravenal mengatakan, perseroan mengoptimalkan penjualan lokal melalui kanal ritel, penjualan proyek, dan pengembangan jaringan distribusi. Dengan portofolio furnitur dan komponen bangunan, WOOD membidik kebutuhan pasar residensial maupun proyek. Namun, perseroan akan menyeleksi kanal dan produk yang dikembangkan dengan mempertimbangkan potensi pertumbuhan dan profitabilitas. "Namun secara strategi, pasar domestik saat ini lebih berperan sebagai additional growth avenue, sementara bisnis ekspor tetap menjadi kontributor utama Perseroan. Kami akan terus mengoptimalkan pasar lokal secara selektif dengan fokus pada kanal dan produk yang memberikan potensi pertumbuhan serta profitabilitas yang baik," kata Ravenal.
Baca Juga: Revisi RKAB 2026 Disetujui, Segini Kuota Produksi Batubara dan Nikel Dari sisi pasokan, WOOD belum menghadapi kendala material dalam memperoleh bahan baku. Perseroan mengandalkan jaringan pemasok domestik di berbagai wilayah Indonesia dan menggunakan sumber kayu yang memenuhi standar sertifikasi yang dibutuhkan pelanggan. Menurut Ravenal, jaringan pemasok tersebut membantu menjaga kontinuitas pasokan dan stabilitas biaya bahan baku yang sebagian besar berdenominasi rupiah. Perseroan juga tidak bergantung pada satu daerah atau pemasok tertentu. Di tengah dinamika perdagangan global tersebut, WOOD membidik pertumbuhan moderat sebesar 5%-10% pada 2026. Perusahaan mengandalkan efisiensi manufaktur, pengembangan produk, serta diversifikasi pasar untuk menjaga pertumbuhan bisnis tanpa mengurangi fokus terhadap AS sebagai salah satu pasar terbesar dan strategis bagi industri furnitur global. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News