KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asian Development Bank (ADB) menyetujui pembiayaan sebesar US$ 650 juta untuk mendukung program pendalaman pasar keuangan (Financial Market Deepening Program) di Indonesia. Pembiayaan tersebut merupakan bagian dari subprogram pertama yang ditujukan untuk memperkuat pasar modal, memodernisasi ekosistem keuangan digital, serta mendorong pembiayaan berkelanjutan dan transisi. Program ini akan berfokus pada tiga area utama, yakni meningkatkan efisiensi pasar keuangan, mendorong layanan keuangan digital yang aman dan inovatif, serta memobilisasi modal swasta untuk proyek ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Baca Juga: PMI Manufaktur Indonesia Kembali Ekspansi, Naik ke Level 52,4 pada September 2026 Dalam pengembangan pasar keuangan, reformasi akan diarahkan untuk meningkatkan likuiditas, transparansi, dan partisipasi investor. Hal ini antara lain dilakukan melalui dukungan terhadap aktivitas pinjaman sekuritas, penyedia likuiditas, serta pengembangan pasar obligasi. Sementara itu, di sektor keuangan digital, penguatan akan dilakukan melalui kerangka regulasi aset digital, peningkatan standar keamanan siber, serta perlindungan konsumen. ADB juga akan mendukung pengembangan pembiayaan berkelanjutan melalui penguatan regulasi dan infrastruktur pasar, perluasan taksonomi keuangan berkelanjutan, peningkatan penyaluran kredit hijau, serta pengurangan hambatan dalam penerbitan instrumen pembiayaan berkelanjutan. Menurut Direktur ADB untuk Indonesia Bobur Alimov, akses pembiayaan yang lebih mudah dapat membantu pelaku usaha melakukan investasi dan ekspansi. "Ketika pelaku usaha dapat mengakses pembiayaan dengan lebih mudah, mereka dapat berinvestasi, berkembang, dan menciptakan lapangan kerja," kata Bobur dalam keterangan resmi, Kamis (1/10/2026).
Baca Juga: Prabowo Kirim Surpres Pemberhentian Listyo Sigit, Suyudi Jadi Calon Kapolri Lebih lanjut ia bilang penguatan layanan keuangan digital juga dapat memberikan akses yang lebih aman bagi masyarakat untuk menabung dan membangun masa depan. ADB memandang Indonesia masih memiliki ruang untuk memperdalam pasar modal guna meningkatkan sumber pendanaan bagi dunia usaha dan pembangunan ekonomi. Langkah tersebut sekaligus ditujukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pendanaan dari perbankan.
Dengan kapitalisasi pasar saham Indonesia pada 2025 yang mencapai 66,4% dari produk domestik bruto (PDB), ADB memandang masih ada potensi untuk mengembangkan pasar modal serta memperluas partisipasi investor. Program pendalaman pasar keuangan ini merupakan kelanjutan dari dukungan ADB terhadap sektor keuangan Indonesia, termasuk melalui Program Pengembangan dan Inklusi Pasar Keuangan serta Program Promosi Inklusi Keuangan Inovatif. Program tersebut juga disebut sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 dan Visi Indonesia Emas 2045. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News