Adhi Karya (ADHI) Siapkan Strategi Mitigasi Hadapi Kenaikan Biaya Konstruksi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Adhi Karya Tbk (ADHI) menyiapkan sejumlah langkah mitigasi untuk menjaga profitabilitas di tengah tekanan biaya yang masih membayangi industri konstruksi.

Direktur Portofolio Bisnis & Risiko ADHI Rozi Sparta mengatakan, saat ini industri konstruksi nasional masih menghadapi tantangan penyesuaian biaya, terutama akibat fluktuasi harga komoditas material utama seperti baja dan semen serta dinamika biaya logistik.

“Di perusahaan kami, dampak ini terasa, namun kami terus mengimbanginya melalui manajemen rantai pasok yang disiplin. Kami fokus melakukan efisiensi internal melalui sentralisasi bersama mitra strategis untuk meminimalkan dampak langsung terhadap biaya proyek secara keseluruhan," ujar Rozi kepada KONTAN, Jumat (7/8/2026).


Di tengah kondisi tersebut, ADHI juga menerapkan strategi mitigasi risiko dengan lebih berhati-hati dalam memilih proyek yang akan dikerjakan.

Baca Juga: Kinerja Semester I-2026 Tertekan, JELI Bidik Pemulihan pada Semester II

Selain itu, komunikasi dengan para pemberi kerja dari sektor pemerintah maupun swasta juga tetap berjalan baik. Perusahaan terus membuka ruang diskusi terkait kemungkinan penyesuaian nilai kontrak maupun skema eskalasi apabila diperlukan.

“Kami senantiasa membuka ruang dialog untuk mendiskusikan penyesuaian nilai kontrak atau skema eskalasi yang wajar dan sesuai dengan koridor hukum maupun ketentuan kontraktual yang berlaku," katanya.

Selain itu, ADHI juga memprioritaskan penguatan likuiditas dan optimalisasi arus kas. Perusahaan mengambil langkah-langkah strategis berupa pengetatan disiplin anggaran, efisiensi biaya operasional, optimalisasi penagihan termin proyek, serta program penyehatan keuangan.

Di sisi kinerja, ADHI membukukan pendapatan sebesar Rp 3,11 triliun pada semester I-2026, turun 18,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Meski demikian, laba bersih perseroan meningkat 12,6% secara tahunan menjadi Rp 8,5 miliar. Peningkatan laba bersih tersebut terutama ditopang oleh pendapatan non-operasional, khususnya gain atas Interest During Payment (IDP) pada piutang Proyek LRT.

 
ADHI Chart by TradingView

Dari sisi operasional, ADHI mencatat perolehan kontrak baru sebesar Rp 7,8 triliun hingga Juni 2026 atau melonjak 123% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Berdasarkan jenis pekerjaan, kontrak baru didominasi proyek infrastruktur, terutama jalan dan jembatan serta infrastruktur sumber daya air. Adapun berdasarkan pemilik proyek, mayoritas kontrak berasal dari sektor pemerintah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News