Adi Sarana Armada (ASSA) Waspadai Efek Kenaikan Harga BBM dan BI Rate ke Bisnis 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) mewaspadai sejumlah tantangan eksternal yang dihadapi di sepanjang tahun 2026. 

Direktur PT Adi Sarana Armada Tbk Jerry Fandy mengungkapkan perusahaan terus mewaspadai berbagai tantangan eksternal yang berpotensi mempengaruhi kinerja perusahaan di tahun ini, termasuk terkait kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi. 

Menurut Jerry, hingga saat ini dampak langsung kenaikan BBM terhadap operasional perseroan masih dapat dimitigasi karena biaya tersebut pada umumnya ditanggung pelanggan. Seperti pada bisnis rental kendaraan misalnya, biaya BBM sepenuhnya menjadi tanggungan pelanggan. 


Baca Juga: Jelang Piala Dunia, Komisi III Soroti Potensi Kenaikan Transaksi Judi Online

"Di logistik juga begitu. Kita punya agreement dengan customer, kalau ada kenaikan, baik di harga BBM ataupun UMR, itu kita bisa adjust harganya kepada customer," ungkap Jerry, dalam paparan publik, Rabu (17/6/2026). 

Meski demikian, ASSA tetap memantau potensi dampak lanjutan terhadap permintaan pasar. Sebab, kenaikan harga BBM dapat mempengaruhi aktivitas pelanggan yang pada akhirnya berdampak pada permintaan jasa rental maupun logistik.

Di sisi lain, perusahaan juga berharap meredanya ketegangan geopolitik dapat memberikan sentimen positif terhadap bisnis, terutama melalui stabilitas pasokan BBM, nilai tukar rupiah dan suku bunga.

ASSA juga mencermati arah kebijakan suku bunga mengingat sebagian besar belanja modal perusahaan masih ditopang pendanaan perbankan. Pada tahun ini, perseroan mengalokasikan capex sekitar Rp 1,5 triliun yang mayoritas digunakan untuk pembelian armada kendaraan.

Baca Juga: Wahana Interfood (COCO) Catat Penjualan Rp165,08 Miliar di 2025, EBITDA Naik 13,53%

Menurut Jerry, kenaikan BI Rate memang berpotensi meningkatkan biaya pendanaan. Namun pengaruhnya tidak selalu berlangsung secara langsung karena turut dipengaruhi kondisi likuiditas dan penilaian risiko dari perbankan.

Dengan berbagai tantangan tersebut, ASSA tetap menargetkan pertumbuhan pendapatan pada kisaran 5%-10%  serta pertumbuhan laba bersih double digit rendah hingga tutup tahun nanti. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News