Adidas Lari Kencang di Kuartal I 2026, Penjualan dan Laba Lampaui Ekspektasi



KONTAN.CO.ID - Adidas mencatatkan kinerja yang lebih kuat dari ekspektasi pada kuartal I-2026, baik dari sisi penjualan maupun laba operasional, meski menghadapi kondisi pasar ritel yang disebut sangat volatil dan penuh tekanan diskon, khususnya di segmen sepatu.

Melansir Reuters Rabu (29/4/2026), CEO Adidas, Bjorn Gulden menggambarkan lingkungan bisnis saat ini sebagai “sangat fluktuatif dan sarat diskon”.

Namun demikian, performa solid perseroan tetap mampu mendorong harga sahamnya naik sekitar 7% pada awal perdagangan.


Baca Juga: Popularitas Trump Anjlok ke Titik Terendah, Apa Pemicunya?

Adidas mempertahankan proyeksi kinerja tahun 2026, dengan target pertumbuhan penjualan di kisaran satu digit tinggi serta laba operasional mencapai 2,3 miliar euro.

Salah satu pendorong utama pertumbuhan datang dari segmen lari (running), dengan penjualan meningkat lebih dari 10%.

Momentum ini diperkuat oleh keberhasilan atlet Kenya, Sabastian Sawe, yang mencatat sejarah sebagai pelari pertama yang menembus waktu di bawah dua jam dalam lomba resmi di London Marathon menggunakan sepatu balap ultra-ringan Adidas.

Selain itu, permintaan jersey sepak bola juga meningkat menjelang FIFA World Cup 2026 yang akan digelar pada Juni.

Meski begitu, perusahaan mengakui adanya kendala rantai pasok dan distribusi dalam pengiriman produk terkait turnamen tersebut.

Secara keseluruhan, penjualan Adidas naik 14% secara netral mata uang menjadi 6,6 miliar euro pada kuartal pertama.

Baca Juga: Keluar dari OPEC, Pasokan Minyak UEA Diproyeksi Melonjak Lebih Cepat

Namun, penjualan di beberapa negara Timur Tengah mengalami penurunan akibat dampak konflik Iran.

Dari sisi profitabilitas, laba operasional meningkat 16% menjadi 705 juta euro, melampaui proyeksi analis sebesar 647 juta euro, serta naik dari 610 juta euro pada periode yang sama tahun lalu.

Adidas juga menekankan pentingnya disiplin dalam distribusi produk untuk menghindari kelebihan stok yang berujung pada diskon besar.

Strategi ini berbeda dengan pesaingnya, Nike, yang memilih lebih agresif dalam promosi untuk menghabiskan persediaan.

Pertumbuhan juga didorong oleh kanal penjualan langsung ke konsumen. Penjualan melalui situs resmi Adidas melonjak 25%, sementara penjualan di toko milik sendiri tumbuh 19%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan penjualan grosir yang hanya naik 8%.

Namun, segmen alas kaki hanya tumbuh 4% karena melambatnya permintaan untuk model populer seperti Samba dan Gazelle.

Baca Juga: Penjualan Carlsberg Melesat: Akhirnya Tumbuh Setelah Setahun Lebih!

Sebaliknya, penjualan apparel melonjak 31%, didukung oleh desain lokal seperti koleksi Tahun Baru Imlek di China.

Di sisi lain, penguatan euro turut menekan kinerja, dengan dampak negatif sekitar 350 juta euro terhadap total penjualan kuartalan.

Meski menghadapi tantangan eksternal, kinerja kuartal pertama ini dinilai mampu memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek Adidas ke depan.