KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Adopsi teknologi kecerdasan buatan (
artificial intelligence/AI) dan komputasi awan (cloud) mulai mengubah peta persaingan industri keamanan siber di Indonesia. Penyedia layanan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) kini tidak lagi hanya menjual perangkat keamanan digital, tetapi juga menawarkan solusi keamanan yang terintegrasi untuk menjawab meningkatnya kebutuhan perlindungan data di tengah maraknya serangan siber.
Baca Juga: Maulana Wiga Nahkodai Starfindo, Fokus Perluas Akses Startup ke Pasar Global Sekretaris Jenderal Indonesia Data Center Ecosystem Council (IDCEC) Erick Hadi mengatakan, perubahan kebutuhan pelanggan mendorong perusahaan penyedia layanan ICT memperluas portofolio bisnis. Solusi keamanan berbasis AI, layanan cloud, hingga
managed security services kini menjadi produk yang semakin banyak ditawarkan. Menurut Erick, pemanfaatan AI telah mengubah cara organisasi menghadapi ancaman siber. Jika sebelumnya sistem keamanan lebih bersifat reaktif, kini perusahaan membutuhkan sistem yang mampu memprediksi, mendeteksi, dan merespons ancaman secara otomatis melalui analisis data real time. "Organisasi kini harus menggunakan AI untuk melawan AI. Pelanggan tidak lagi mencari sekadar tools keamanan, tetapi sistem pertahanan yang mampu mendeteksi ancaman secara otomatis sebelum menimbulkan gangguan terhadap operasional," ujarnya kepada Kontan.co.id, Sabtu (11/7/2026).
Baca Juga: Investasi Jaringan Telekomunikasi Masih Terkendala Relokasi dan Regulasi Daerah Di sisi lain, migrasi layanan ke cloud turut memperluas potensi risiko keamanan. Kondisi tersebut mendorong perusahaan meningkatkan investasi pada sistem keamanan yang lebih terintegrasi dan membuat semakin banyak pelaku ICT masuk ke bisnis keamanan siber. Erick memperkirakan nilai pasar keamanan siber Indonesia mencapai sekitar US$ 1,4 miliar pada 2025 dan berpotensi meningkat menjadi US$ 6,7 miliar pada 2034, atau tumbuh dengan laju tahunan majemuk (
compound annual growth rate/CAGR) sekitar 19,4%. Menurutnya, persaingan di industri ini tidak lagi hanya melibatkan vendor keamanan siber, tetapi juga operator telekomunikasi, penyedia layanan internet, operator pusat data, hingga penyedia layanan cloud yang mulai menawarkan keamanan digital sebagai layanan (
security as a service). "Pemenangnya bukan lagi perusahaan yang sekadar menjual lisensi keamanan, tetapi yang mampu memberikan solusi keamanan secara menyeluruh, mulai dari perlindungan infrastruktur, cloud, hingga layanan managed security," jelasnya.
Baca Juga: Elnusa Petrofin Perkuat Komitmen Transisi Energi, Dukung Penyaluran Biosolar B50 Erick menilai prospek bisnis keamanan siber masih sangat menjanjikan seiring meningkatnya adopsi AI dan cloud di berbagai sektor industri. Ia memperkirakan, segmen
managed security services, keamanan infrastruktur cloud, serta pengembangan talenta keamanan siber akan menjadi pendorong utama pertumbuhan industri dalam beberapa tahun ke depan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News