Adopsi AI Tembus 92%, Pemerintah Siapkan Peta Jalan untuk Perkuat Daya Saing



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mendorong dunia usaha memanfaatkan teknologi Agentic AI secara lebih optimal untuk mempercepat transformasi bisnis dan meningkatkan produktivitas. Menurutnya, tingginya tingkat adopsi AI di Indonesia perlu diikuti dengan pemanfaatan yang lebih strategis di tingkat organisasi dan perusahaan.

Nezar mengatakan, tingkat adopsi AI di Indonesia telah mencapai 92% pada Februari 2026. Namun, pemanfaatannya masih didominasi penggunaan individual dan belum sepenuhnya terintegrasi ke dalam sistem inti organisasi maupun proses bisnis perusahaan.

"Angka adopsi ini menunjukkan masyarakat Indonesia cukup siap merangkul teknologi baru. Namun, manfaat AI untuk mendorong produktivitas nasional masih perlu dioptimalkan karena penggunaannya belum terintegrasi secara strategis dalam sistem bisnis dan organisasi," ujarnya dalam IBM AI Leadership Exchange di Jakarta, Kamis (11/6/2026).


Menurut Nezar, perkembangan Agentic AI menjadi salah satu tren penting dalam transformasi digital saat ini. Teknologi tersebut memungkinkan sistem AI tidak hanya membantu pekerjaan manusia, tetapi juga mampu bernalar, mengambil keputusan, dan menjalankan berbagai tugas secara lebih mandiri.

Baca Juga: IBM: AI Berpotensi Dorong 50% Nilai Bisnis Digital Baru di Asia Pasifik pada 2030

Ia menilai pemanfaatan teknologi tersebut berpotensi meningkatkan efisiensi di berbagai sektor, mulai dari layanan keuangan, kesehatan, pendidikan, transportasi hingga sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Namun, pengembangannya tetap perlu didukung tata kelola yang bertanggung jawab.

Karena itu, pemerintah tengah menyusun peta jalan kecerdasan buatan nasional yang berfokus pada pembangunan ekosistem AI yang etis dan bertanggung jawab untuk memperkuat daya saing Indonesia di tingkat global. Ekosistem tersebut dibangun melalui dua fondasi utama, yakni tata kelola dan kebijakan AI yang implementatif serta dukungan investasi dan pembiayaan.

Sementara itu, tiga pilar utama yang menjadi penopang pengembangan AI nasional meliputi riset dan inovasi, pengembangan talenta digital, serta penguatan infrastruktur.

Nezar mengakui Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan dalam pengembangan AI, terutama terkait kualitas infrastruktur digital dan ketersediaan talenta. 

Oleh sebab itu, pemerintah mulai memperkuat program pengembangan talenta AI melalui pembentukan AI Talent Factory di sejumlah perguruan tinggi.

"Kita ingin talenta digital Indonesia tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga mampu mengembangkan model AI dan menciptakan solusi untuk berbagai sektor strategis," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, IBM menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk memanfaatkan Agentic AI sebagai mesin pertumbuhan bisnis baru. General Manager IBM Asia-Pacific Hans Dekkers mengatakan, tantangan perusahaan saat ini bukan lagi sekadar mengadopsi AI, melainkan memastikan teknologi tersebut menjadi bagian dari operasional bisnis sehari-hari.

Baca Juga: Chatbot AI Makin Dominan, Brand Perlu Strategi Baru untuk Menjangkau Konsumen

"Pertanyaan yang paling penting bukan apakah perusahaan menggunakan AI, tetapi apakah AI sudah menjadi bagian dari proses bisnis mereka," ujar Hans.

Menurut Hans, kemampuan mengelola data menjadi faktor utama dalam keberhasilan implementasi AI di lingkungan korporasi. Perusahaan yang memiliki kontrol dan tata kelola data yang baik akan lebih siap memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi operasional maupun pengambilan keputusan.

Sebagai bagian dari upaya mendorong adopsi AI di kalangan korporasi, IBM memperkenalkan sejumlah solusi berbasis Agentic AI, termasuk IBM Bob yang dirancang untuk membantu proses pengembangan perangkat lunak di lingkungan enterprise. 

Platform tersebut diklaim mampu meningkatkan produktivitas pengembang perangkat lunak melalui otomatisasi berbagai proses kerja. Berdasarkan IBM CEO Study 2026, sebanyak 90% CEO di Indonesia telah mengintegrasikan AI ke berbagai alur kerja perusahaan. Sementara 80% CEO menilai AI telah mengubah cara perusahaan mendefinisikan inti bisnis mereka.

IBM Sovereign core merupakan platform perangkat lunak terbaru yang membantu perusahaan dan instansi pemerintah menerapkan pendekatan menyeluruh terhadap kedaulatan digital, dengan aspek tata kelola, kepatuhan, dan kontrol yang telah terintegrasi sejak awal. Solusi ini menggabungkan pengelolaan infrastruktur, identitas, keamanan, kepatuhan, serta operasional AI dalam satu model penerapan yang terpadu. Dengan demikian, organisasi dapat memperluas pemanfaatan AI sambil tetap menjaga kendali atas operasional, data, dan kepatuhan sesuai kebutuhan.

Baca Juga: Penerapan AI Bisa Atasi Blackout, Kurangi Frekuensi Pemadaman 15% & Tekan Biaya 25,6%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News