Adopsi Teknologi Meningkat, Teltonika Targetkan Pertumbuhan 30%-40%



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Teltonika IoT Indonesia membidik pertumbuhan bisnis telematika sebesar 30%-40% dalam satu hingga dua tahun ke depan seiring besarnya potensi pasar kendaraan di Indonesia dan meningkatnya adopsi teknologi di sektor transportasi serta logistik.

Head of Sales Indonesia PT Teltonika IoT Indonesia, Elisa Pramono, mengatakan Indonesia menjadi pasar terbesar Teltonika di kawasan Asia Selatan. Besarnya populasi kendaraan dan semakin tingginya kesadaran pelaku usaha terhadap pemanfaatan teknologi menjadi faktor utama yang mendorong optimisme perusahaan.

"Untuk region South Asia, pasar terbesar ada di Indonesia. Kalau dibandingkan dengan Singapura, Malaysia, dan negara lainnya, jumlah kendaraan di Indonesia jauh lebih besar," ujar Elisa di sela penyelenggaraan Telematics Summit South Asia di Jakarta, Kamis (4/6).


Baca Juga: Strategi Kemenperin Menggenjot Pertumbuhan Industri Minuman Ringan Nasional

Menurut Elisa, pasar Indonesia juga menunjukkan respons positif terhadap perkembangan teknologi telematika. Hal itu tercermin dari pertumbuhan bisnis Teltonika yang terus meningkat dalam enam tahun terakhir, termasuk saat pandemi Covid-19.

"Kami melihat market Indonesia sangat willing untuk belajar dan kesadaran terhadap teknologi juga semakin tinggi. Bahkan di tengah pandemi Covid-19, pertumbuhan kami melampaui ekspektasi," katanya.

Dengan tren tersebut, Teltonika menargetkan pertumbuhan minimal 30%-40% dalam beberapa tahun mendatang. Sebagai ilustrasi, apabila saat ini perusahaan melayani sekitar 10.000 perangkat atau pelanggan, maka jumlah tersebut ditargetkan meningkat menjadi sekitar 13.000-14.000.

Optimisme itu juga ditopang oleh prospek kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang terus berkembang di Indonesia. Mulai Juni 2026, pemerintah menjalankan program insentif yang menargetkan penambahan 200.000 kendaraan listrik pada tahap awal.

Seiring bertambahnya jumlah kendaraan listrik, kebutuhan teknologi telematika dinilai akan semakin besar. Tidak hanya untuk melacak posisi kendaraan, tetapi juga memantau kondisi baterai, pola pengisian daya, suhu baterai, hingga kebutuhan perawatan kendaraan secara real time.

Dalam Telematics Summit South Asia yang dihadiri lebih dari 150 pelaku industri telematika dari kawasan Asia Selatan, Teltonika memperkenalkan berbagai solusi untuk kendaraan listrik melalui integrasi dengan sistem Controller Area Network (CAN) kendaraan.

Product Owner for E-Mobility Teltonika, Giedrius Adomaitis, menjelaskan teknologi tersebut memungkinkan perusahaan memantau kesehatan baterai dan mendeteksi potensi gangguan sebelum kerusakan terjadi.

"Kendaraan listrik membutuhkan pendekatan pengelolaan yang berbeda dibanding kendaraan berbahan bakar konvensional. Dengan akses ke jaringan CAN, perusahaan dapat memantau kondisi kendaraan secara digital dan melakukan perawatan lebih dini," ujarnya.

Selain kendaraan listrik, Teltonika juga memperkenalkan teknologi dead reckoning yang memungkinkan pelacakan kendaraan tetap berjalan meski sinyal GPS hilang atau terganggu. Teknologi ini memanfaatkan sensor gyroscope dan accelerometer untuk memperkirakan posisi kendaraan.

Menurut Elisa, perkembangan teknologi telematika di Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar. Selama ini sebagian pelaku usaha masih menggunakan fungsi dasar GPS, sementara teknologi telematika modern telah berkembang untuk mendukung efisiensi operasional armada, keamanan kendaraan, hingga pengelolaan aset perusahaan.

"Kami melihat peluang pasar Indonesia masih sangat besar karena kebutuhan digitalisasi armada dan kendaraan terus meningkat," katanya.

Baca Juga: Target 200.000 EV Baru, Teltonika Bidik Peluang Telematika Armada Listrik

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News