Adopsi Tinggi, Literasi Keuangan Generasi Muda Masih Tertinggal



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Seiring pesatnya penggunaan layanan keuangan digital, literasi keuangan di kalangan generasi muda masih menjadi pekerjaan rumah. Rendahnya pemahaman terhadap risiko dan pengelolaan keuangan berpotensi menimbulkan masalah di kemudian hari, sehingga edukasi sejak dini dinilai semakin penting.

Maka, Kredit Pintar berupaya meningkatkan literasi keuangan generasi muda melalui dukungan terhadap program Pindar Mengajar.

Head of Risk Kredit Pintar, Revana Aryani menyampaikan membangun fondasi bangsa dimulai dari generasi muda. "Masyarakat tidak hanya memiliki akses ke layanan keuangan, juga memahami cara menggunakannya secara bijak,” ujar Revanaa, dalam keterangannya, Rabu (6/5). 


Revana menyoroti, tingginya adopsi layanan keuangan digital di kalangan anak muda belum sepenuhnya diimbangi dengan pemahaman yang memadai.

Saat ini banyak anak muda telah menggunakan layanan keuangan digital, tapi belum seluruhnya memahami risiko serta cara penggunaan yang tepat.

Baca Juga: Aset Asuransi Non-Komersial Turun 0,92% per Maret 2026

"Kami ingin mengajak mahasiswa untuk memahami pentingnya pengelolaan keuangan pribadi sejak dini, mengenali risiko dalam penggunaan layanan keuangan digital, serta mengambil keputusan finansial secara rasional dan bertanggung jawab,” jelasnya.

Dari sisi pengguna, Kredit Pintar mencatat bahwa segmen nasabah berusia 18–23 tahun mencapai sekitar 15% sepanjang 2025. Head of Brand & Communications Kredit Pintar, Puji Sukaryadi mengatakan, kelompok usia tersebut menunjukkan tingginya adopsi teknologi finansial di kalangan generasi muda.

 Data internal menunjukkan bahwa kelompok usia ini mencerminkan tingginya adopsi teknologi finansial di kalangan anak muda, sekaligus menegaskan pentingnya edukasi yang berkelanjutan agar pemanfaatan layanan pinjaman daring dilakukan secara bijak, terukur, dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Sepanjang tahun 2025, Kredit Pintar membukukan penyaluran pinjaman lebih dari Rp 9,5 triliun, dengan total akumulasi sejak berdiri pada 2017 mencapai lebih dari Rp 63 triliun.

Di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, penyaluran pinjaman sepanjang 2026 tercatat sebesar Rp 55 miliar, dari total penyaluran di Pulau Jawa yang mencapai Rp 2,5 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News