KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyediakan Compressed Natural Gas (CNG) kemasan 3 kg serta Dimethyl Ether (DME) sebagai alternatif penekan konsumsi LPG, mendapat sorotan dari ekonom. Langkah ini dinilai positif sebagai opsi transisi, meski setiap jenis bahan bakar memiliki konsekuensi ekonomi yang berbeda. Pengamat energi dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti menilai, kehadiran CNG kemasan sebagai opsi pendamping LPG bukan menjadi persoalan untuk saat ini.
Hanya saja, pemerintah perlu bersiap melakukan penyesuaian yang matang jika ingin menggeser dominasi LPG ke depan.
Baca Juga: Kredit Murah Peremajaan Mesin Bisa Dongkrak Daya Saing Industri Tekstil "Saya kira untuk saat ini tidak masalah, sebagai alternatif. Karena memang memerlukan
adjusment yang serius jika CNG menggantikan LPG secara perlahan," ujarnya kepada Kontan.co.id, Senin (18/5/2026). Di sisi lain, Yayan menyoroti proyeksi pengembangan DME berbasis batubara yang berpotensi membebani keuangan negara akibat tingginya harga komoditas global. Dia menghitung, jika harga
Domestic Market Obligation (DMO) batubara dipatok US$ 70 - US$ 90 per ton sementara harga pasar dunia mencapai US$ 120 - US$ 130 per ton, maka pemerintah harus menanggung beban selisih harga yang cukup besar. "Maka pemerintah harus membayar selisihnya yaitu US$ 40- US$ 50 atau 30-45% lebih mahal, maka teknologi DME tetap lebih mahal tidak
economic viable dibandingkan dengan LPG," jelasnya. Tingginya ongkos produksi tersebut dinilai bakal menurunkan tingkat efisiensi dari proyek DME itu sendiri. Menurut Yayan, skema penambalan harga yang kemungkinan besar harus diambil oleh pemerintah berisiko menciptakan pos pengeluaran baru dalam bentuk bantuan negara. "Selisih harga US$ 40 - US$ 50 tadi bisa dalam bentuk subsidi. Sehingga DME justru tidak begitu menarik secara efisien," tuturnya.
Baca Juga: Pelaku Koperasi Susu Soroti Mahalnya Biaya Energi dan Harga Sapi Impor Meski demikian, lanjut Yayan, dari aspek infrastruktur dan adopsi di masyarakat, DME memiliki kemiripan karakteristik dengan LPG sehingga lebih mudah diterima dan aman. Hal ini berbeda dengan CNG yang membutuhkan perlakukan khusus, terutama pada tabung bertekanan tinggi.
"Walaupun secara investasi DME secara keamanan dan adaptasi relatif hampir sama dengan LPG. hal ini relatif berbeda dengan CNG yang memerlukan standarisasi keamanan dan keselamatan lebih tinggi," imbuhnya. Lebih lanjut, Yayan menambahkan, secara kalkulasi menyeluruh menuju tahun 2030, dia menyimpulkan CNG dan DME memiliki keunggulan kompetitif di sektor yang berbeda. "Jadi kalau dilihat berdasarkan pada aspek efisiensi harga,
domestic readiness (kesiapan teknologi domestik), dampak fiskal, kewirausahaan, dan peluang aksesibilitasnya 2030, CNG relatif lebih unggul dibandingkan DME relatif lebih unggul dari sisi keselamatan (
safety) dan akses pasar," pungkasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News